Telset.id ā Seorang profesor ekonomi dari Brown University, Roberto Serrano, mengungkap apa yang disebut sebagai skandal kecurangan AI (AI cheating) terbesar dalam sejarah Ivy League. Temuan ini bermula dari kejanggalan nilai ujian tengah semester yang mencolok.
Dalam ujian take-home untuk mata kuliah ekonomi matematika tingkat lanjut, Serrano mendapati 40 dari 86 mahasiswa mendapatkan nilai sempurna 100. Rata-rata nilai kelas mencapai angka yang tidak wajar, yaitu 96 dari 100. Kecurigaan langsung mengarah pada penggunaan AI.
āBeberapa jawaban berisi bagian tidak biasa yang bertepatan dengan hasil setelah menjalankan pertanyaan melalui ChatGPT,ā ungkap Serrano kepada El PaĆs. Kecurigaan ini semakin kuat setelah melihat hasil ujian akhir yang diadakan secara tatap muka.
Nilai rata-rata ujian akhir yang dilaksanakan di ruang kelas hanya 48 dari 100. Yang lebih mengejutkan, dari 27 mahasiswa yang tidak hadir dalam ujian akhir, 22 di antaranya mendapatkan nilai 100 pada ujian tengah semester. āBukti empiris kecurangan sangat luar biasa,ā tegas Serrano.
Insiden ini menunjukkan betapa maraknya penggunaan AI di ruang kelas. Bahkan mahasiswa di universitas Ivy League yang sangat bereputasi tergoda menggunakan alat ini untuk mendapatkan nilai tinggi, meskipun hal itu melanggar kode kehormatan yang mereka ikrarkan.
Para profesor kini mengeluh bahwa tugas utama mereka berubah menjadi āpolisi plagiarismeā yang fokus memberantas kecurangan AI, bukan lagi mengajar. Ini menjadi permainan kucing-dan-tikus yang rumit karena teknologi AI terus berkembang pesat.
Akibat skandal ini, Serrano memutuskan untuk tidak lagi memberikan ujian take-home. Keputusan serupa juga terjadi di Princeton University yang menghentikan tradisi āHonor Codeā berusia 133 tahun, di mana profesor meninggalkan ruangan saat ujian berlangsung.
āAda suasana orang curang pada ujian take-home dan orang menggunakan ChatGPT,ā ujar Nadia Makuc, mantan ketua Komite Kehormatan Princeton. āSelama orang berpikir ada lebih banyak kecurangan, itu mendorong lebih banyak kecurangan.ā
Para ahli memperingatkan bahwa penggunaan AI tidak hanya merusak integritas akademik, tetapi juga menghancurkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Ketergantungan berlebihan pada teknologi membuat mahasiswa kehilangan kemampuan analisis fundamental.
āJika kita tidak lagi membela kebenaran, kesopanan, dan kejujuran, kredibilitas apa yang akan kita miliki sebagai akademisi?ā tanya Serrano. Kekhawatiran ini mencerminkan krisis kepercayaan yang lebih luas antara mahasiswa dan pendidik.
Selain kasus suara Mark Brown yang direplikasi AI tanpa izin, skandal di Brown University ini menunjukkan dampak serius AI pada dunia pendidikan. Para profesor khawatir nilai gelar sarjana akan terdegradasi.
Tingkat literasi dan numerasi mahasiswa juga mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir. Para profesor memperingatkan bahwa kita mencapai titik krisis dengan mahasiswa baru yang memiliki pemahaman matematika setara tingkat sekolah menengah pertama.

Kecurangan AI ini juga mengikis kepercayaan antara mahasiswa dan pendidik. Ketika mahasiswa menggunakan ChatGPT untuk jawaban, mereka tidak hanya menipu sistem tetapi juga merugikan diri sendiri dalam jangka panjang.
āJika kita tidak lagi membela kebenaran, kesopanan, dan kejujuran, maka kredibilitas apa yang akan kita miliki sebagai akademisi?ā kata Serrano. Pertanyaan retoris ini menggambarkan keprihatinan mendalam komunitas akademik.
Beberapa universitas mulai mengambil tindakan tegas. Princeton menghentikan tradisi āHonor Codeā yang sudah berlangsung 133 tahun. Tradisi ini melibatkan profesor meninggalkan ruangan saat mahasiswa mengikuti ujian akhir.
Keputusan Princeton diambil karena peningkatan dramatis penggunaan AI dan kecurangan akademik. āSelama orang berpikir ada lebih banyak kecurangan, itu mendorong lebih banyak kecurangan,ā tambah Nadia Makuc.
Para ahli memperingatkan bahwa AI cheating tidak hanya masalah integritas, tetapi juga ancaman terhadap kualitas pendidikan. Mahasiswa yang bergantung pada AI akan kehilangan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Ini menjadi tantangan besar bagi institusi pendidikan untuk beradaptasi. Mereka harus menemukan cara baru untuk memastikan integritas akademik di era AI tanpa mengorbankan inovasi teknologi.
Kisah di Brown University ini menjadi peringatan bagi semua institusi pendidikan. Kecurangan AI bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang harus dihadapi sekarang.
Para profesor kini harus menjadi āpolisi plagiarismeā yang tugas utamanya memberantas kecurangan AI. Ini mengalihkan fokus dari pengajaran ke pengawasan, yang tidak ideal bagi proses pendidikan.
Teknologi AI yang terus berkembang membuat kecurangan semakin sulit dideteksi. Ini menjadi permainan kucing-dan-tikus antara pendidik dan mahasiswa yang menggunakan AI.
Keputusan Serrano untuk menghentikan ujian take-home adalah langkah pragmatis. Namun, ini juga menunjukkan bahwa sistem pendidikan harus berubah secara fundamental.
Nilai rata-rata 96 dari 100 pada ujian take-home versus 48 dari 100 pada ujian tatap muka adalah bukti kuat kecurangan. Perbedaan mencolok ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Skandal ini juga menyoroti tekanan akademik di universitas Ivy League. Mahasiswa mungkin merasa terpaksa menggunakan AI untuk bersaing mendapatkan nilai tinggi.
Namun, penggunaan AI untuk kecurangan adalah pelanggaran serius terhadap kode kehormatan. Ini merusak nilai gelar yang diperoleh dan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.
āBukti empiris kecurangan sangat luar biasa,ā tegas Serrano. Pernyataan ini didukung oleh data yang jelas dan tidak terbantahkan.
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan. Integritas akademik harus dijaga, bahkan di era AI yang semakin canggih.





Komentar
Belum ada komentar.