Telset.id – Selama beberapa dekade, India dikenal sebagai tulang punggung industri teknologi global. Mulai dari layanan call center hingga insinyur perangkat lunak kelas atas, negara ini menyediakan tenaga kerja melimpah bagi raksasa teknologi dunia. Namun, narasi sukses tersebut kini berubah menjadi mimpi buruk di tahun 2026. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang masif telah mengubah lanskap ketenagakerjaan secara drastis, memicu krisis mental dan gelombang PHK yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Laporan terbaru menyoroti realitas kelam yang harus dihadapi para pekerja teknologi di India. Di tengah ambisi perusahaan untuk melakukan efisiensi biaya melalui otomatisasi, para pekerja terjepit dalam situasi yang tidak berkelanjutan. Mereka tidak hanya berhadapan dengan jam kerja yang tidak manusiawi—mencapai 90 jam per minggu—tetapi juga dihantui kecemasan konstan bahwa peran mereka akan segera digantikan oleh algoritma.
Ironisnya, teknologi yang digadang-gadang sebagai alat bantu manusia justru menjadi sumber ketakutan terbesar. Tekanan psikologis ini, menurut laporan Rest of World, telah memicu gelombang bunuh diri yang mengkhawatirkan di kalangan pekerja teknologi. Meskipun sulit untuk menunjuk satu penyebab tunggal, kombinasi antara kelelahan ekstrem dan ketidakpastian karir menciptakan badai sempurna bagi kesehatan mental mereka.
Data yang Kabur dan Ketidakpastian Ekstrem
Salah satu masalah terbesar dalam krisis ini adalah kurangnya transparansi data pemerintah mengenai kasus kematian tragis tersebut. Tidak ada statistik resmi yang memisahkan apakah tren bunuh diri ini lebih prevalen di kalangan pekerja IT dibandingkan sektor lain. Namun, para ahli menegaskan bahwa situasi kesehatan mental di industri ini sudah berada pada tahap “sangat mengkhawatirkan”.
Profesor senior ilmu komputer dan teknik dari Indian Institute of Technology Kharagpur, Jayanta Mukhopadhyay, mengungkapkan bahwa prospek karir yang terancam redundansi akibat AI menjadi pemicu stres utama. Para pekerja menghadapi “ketidakpastian besar tentang pekerjaan mereka,” sebuah kondisi psikologis yang menggerogoti stabilitas mental setiap harinya.
Situasi ini diperparah dengan narasi dari beberapa tokoh teknologi global. Sementara tugas rutin diklaim hanya akan diambil alih, realitas di lapangan menunjukkan bahwa penggantian tenaga kerja manusia terjadi lebih cepat dari prediksi.
Baca Juga:
Pekerja Pemula di Ujung Tanduk
Dampak paling brutal dari revolusi AI ini dirasakan oleh mereka yang berada di level pemula atau entry-level. Aditya Vashistha, asisten profesor IT dari Cornell University, menjelaskan bahwa industri layanan IT India sangat rentan. Perusahaan berlomba-lomba berinvestasi pada AI dengan harapan memangkas biaya operasional, terutama untuk posisi seperti layanan pelanggan (customer service).
“Peran konsultasi tradisional dalam industri jasa akan terdampak jauh, jauh lebih besar dibandingkan perusahaan pengembangan produk tradisional,” ujar Vashistha. Ini menjadi sinyal bahaya bagi jutaan lulusan baru di India.
Masalah semakin pelik karena institusi pendidikan di India terus “mencetak” lulusan baru dalam jumlah massal, sementara ketersediaan lapangan kerja justru menyusut drastis. Sebagai gambaran tren yang lebih luas, salah satu pemberi kerja sektor swasta terbesar di India telah memangkas hampir 20.000 pekerjaan pada akhir tahun lalu.
Bagi mereka yang masih beruntung memiliki pekerjaan, situasinya pun jauh dari kata nyaman. Mereka ditekan untuk terus berinovasi di bawah bayang-bayang bahaya psikosis AI atau ketakutan akan menjadi usang. Jam kerja yang panjang, isolasi akibat bekerja lintas zona waktu, dan hilangnya batasan antara kehidupan pribadi dan profesional semakin memperburuk keadaan.
Di sisi lain, perkembangan teknologi canggih seperti teknologi baca pikiran atau AI generatif yang makin pintar, justru menambah beban mental bahwa manusia semakin mudah tergantikan.
Saurabh Mukherjea, pendiri Marcellus Investment Managers, memberikan prediksi yang suram kepada CNBC. Ia menyatakan bahwa jumlah orang yang dibutuhkan untuk bekerja di layanan IT dalam dunia AI akan “beberapa kali lipat lebih rendah” dibandingkan kondisi saat ini. Ini bukan sekadar pergeseran teknologi, melainkan sebuah transformasi kemanusiaan yang memakan korban jiwa dan menghancurkan struktur sosial tenaga kerja di India.

