📑 Daftar Isi

SEAPPI Rilis White Paper untuk Atasi Kesenjangan Kapabilitas AI di Indonesia

SEAPPI Rilis White Paper untuk Atasi Kesenjangan Kapabilitas AI di Indonesia

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI) resmi merilis white paper terbaru berjudul “Closing the AI Capability Gap in Indonesia”. Laporan ini mengupas strategi Indonesia dalam memanfaatkan tingginya adopsi Kecerdasan Buatan (AI) untuk mendorong produktivitas nasional yang lebih luas. Penelitian ini disusun oleh SEAPPI dengan dukungan dari OpenAI dan bekerja sama dengan Vriens & Partners.

Fokus utama laporan ini adalah menyoroti kesenjangan kapabilitas AI, yakni jarak antara potensi sistem AI canggih dengan realitas pemanfaatannya oleh pengguna maupun organisasi di Indonesia. SEAPPI mengidentifikasi dua peluang besar untuk menutup celah tersebut, yaitu memperluas akses perangkat AI mumpuni di tingkat institusi dan meningkatkan keahlian pengguna untuk tugas-tugas tingkat lanjut.

Executive Director SEAPPI sekaligus penulis utama white paper tersebut, Ed Ratcliffe, menyatakan bahwa Indonesia sudah memiliki fondasi yang kuat dalam adopsi AI. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah mendorong penggunaan AI untuk pekerjaan yang lebih kompleks melalui keterampilan praktis, panduan regulasi yang jelas, serta koordinasi lintas instansi pemerintah.

Tiga Temuan Utama Kesenjangan AI di Indonesia

Berdasarkan data penggunaan ChatGPT dari OpenAI dan riset eksternal, white paper ini merangkum tiga temuan krusial mengenai kondisi AI di tanah air. Temuan pertama berkaitan dengan pemanfaatan tingkat lanjut. Indonesia masuk dalam 5 besar dunia penggunaan ChatGPT untuk Codex (pemrograman) dan analisis data.

Temuan kedua menyoroti konsentrasi pengguna. Pengguna di persentil ke-95 menggunakan 11 kali lipat lebih banyak token penalaran dibandingkan pengguna median. Hal ini menunjukkan bahwa adopsi AI tingkat lanjut masih terkonsentrasi pada kelompok kecil pengguna saja.

Temuan ketiga berkaitan dengan kesiapan organisasi. Hanya 10% perusahaan pengadopsi AI yang telah berhasil mentransformasi bisnis mereka secara penuh berdasarkan riset AWS. Angka ini mengindikasikan masih besarnya ruang peningkatan di tingkat korporasi.

Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy Southeast Asia di OpenAI, menambahkan bahwa meskipun pengguna Indonesia sudah mulai menyentuh pekerjaan kompleks seperti pemrograman, distribusinya masih terkonsentrasi pada kelompok kecil. “Peluang berikutnya adalah membuat kemampuan tersebut dapat diakses oleh lebih banyak orang dan organisasi,” jelasnya.

Empat Sektor Prioritas Pengembangan AI

Laporan ini merekomendasikan empat sektor utama yang harus menjadi titik awal perluasan pemanfaatan AI di Indonesia. Sektor publik menjadi prioritas pertama dengan mendorong adopsi AI di lembaga pemerintah melalui mekanisme pengadaan yang jelas dan panduan penggunaan bersama.

Sektor pendidikan menempati prioritas kedua. Rekomendasi mencakup perluasan penggunaan tutor AI seperti yang dilakukan Universitas Terbuka untuk 100.000 mahasiswa, serta pelatihan bagi tenaga pendidik. Langkah ini dinilai strategis untuk membangun kapabilitas jangka panjang.

Sektor kesehatan menjadi prioritas ketiga dengan fokus memperkuat layanan kesehatan primer dan skrining penyakit seperti TBC melalui analisis AI. Pemanfaatan ini diharapkan mampu mengurangi beban administratif tenaga medis sehingga mereka dapat fokus pada pelayanan pasien.

Sektor jasa keuangan melengkapi daftar prioritas. Rekomendasinya adalah memperluas tata kelola AI yang bertanggung jawab hingga ke lembaga keuangan skala menengah dan kecil di luar wilayah perkotaan. Hal ini penting untuk memastikan inklusivitas pemanfaatan teknologi.

Menanggapi rilis white paper ini, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menyatakan bahwa laporan tersebut menjadi rujukan penting bagi pemerintah. Ia menekankan tiga prioritas nasional: penguatan kapabilitas komputasi, transfer teknologi, serta akses investasi.

“Hal ini sejalan dengan prioritas Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pusat aplikasi AI di ASEAN. Pemanfaatan AI diharapkan dapat memperkuat kecerdasan kolektif dan mendorong produktivitas serta kesejahteraan masyarakat,” pungkas Edwin.

Rilis white paper ini menjadi langkah konkret dalam memetakan tantangan dan peluang AI di Indonesia. Dengan data yang komprehensif, laporan ini diharapkan mampu menjadi panduan bagi pemerintah, sektor swasta, dan institusi pendidikan dalam mengakselerasi transformasi digital nasional.

Langkah kolaboratif antara SEAPPI, OpenAI, dan Vriens & Partners ini menunjukkan pentingnya sinergi multipihak dalam membangun ekosistem AI yang inklusif. Ke depan, keberhasilan implementasi rekomendasi ini akan sangat menentukan posisi Indonesia dalam peta persaingan AI regional maupun global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.