Ilustrasi robot humanoid membantu operasi bedah di rumah sakit modern

Robot Humanoid Bantu Operasi Kandung Empedu, Sejarah Baru Dunia Medis

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Robot humanoid berhasil berpartisipasi dalam dua operasi kandung empedu untuk pertama kalinya di dunia.
  • Tim dari University of California San Diego melakukan operasi bukti konsep pada mamalia non-primata.
  • Satu operasi melibatkan dokter manusia dan robot humanoid, operasi lain melibatkan dua robot humanoid.
  • Peneliti Michael Yip menyebut robot humanoid memiliki masa depan layak di bidang bedah.
  • Robot humanoid dapat memperluas akses operasi kritis dan mengatasi krisis tenaga kesehatan global.
  • Studi American College of Surgeons 2025 prediksi kekurangan 13.500-86.000 dokter pada 2036.

Telset.id – Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia medis, dua robot humanoid berhasil berpartisipasi dalam dua operasi bedah. Tim insinyur dan ahli bedah dari University of California San Diego menjadi motor di balik pencapaian monumental ini.

Satu operasi melibatkan seorang ahli bedah manusia dan robot humanoid yang sukses melakukan pengangkatan kandung empedu. Sementara itu, operasi lainnya menyaksikan dua robot humanoid bekerja sama untuk menangani prosedur laparoskopi yang sama.

Kedua operasi ini merupakan eksperimen bukti konsep yang dilakukan dengan aman pada mamalia non-primata. Sebuah makalah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature menyebut langkah ini sebagai tonggak penting yang berpotensi merevolusi cara operasi dilakukan.

Michael Yip, salah satu penulis makalah penelitian dan staf pengajar di Departemen Teknik Elektro dan Komputer Universitas San Diego, mengungkapkan antusiasmenya. “Studi ini menunjukkan bahwa robot humanoid memiliki masa depan yang layak di bidang bedah,” ujarnya.

Yip menambahkan, “Robot humanoid yang dioperasikan dari jarak jauh dan otonom memiliki potensi nyata untuk memperluas akses terhadap operasi kritis yang mungkin tidak dapat dijangkau pasien. Ini dapat membantu mengatasi krisis layanan kesehatan tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di seluruh dunia.”

Para peneliti menyoroti berbagai keuntungan yang melekat pada robot humanoid, seperti biaya produksi yang murah, kemudahan penempatan di lokasi terpencil, serta keserbagunaan keterampilan dalam menjalankan berbagai tugas.

Meskipun kedua operasi yang dibantu robot humanoid berhasil dilakukan, beberapa kendala tetap muncul. Kedua robot harus dikalibrasi ulang beberapa kali, yang membuat prosedur berlangsung sedikit lebih lama dari yang diperkirakan.

Perkembangan ini menjadi sorotan di tengah berbagai negara yang gencar mengembangkan dan menerapkan robot humanoid. Jepang baru-baru ini mengumumkan rencana untuk menciptakan dan mengerahkan sekitar 10 juta robot humanoid di seluruh negeri pada tahun 2040. Robot-robot ini ditargetkan untuk diintegrasikan ke dalam 18 sektor pekerjaan guna mengatasi kekurangan tenaga kerja.

China, Korea Selatan, Singapura, dan sejumlah negara lain juga telah mengumumkan rencana untuk meneliti, berinvestasi, dan kemungkinan mengerahkan robot humanoid untuk pekerjaan fisik yang membutuhkan tenaga manusia.

Sebuah studi tahun 2025 yang dilakukan oleh American College of Surgeons menunjukkan adanya kekurangan dokter bedah di seluruh Amerika Serikat. Data yang diperoleh dari Association of American Medical Colleges mengungkapkan bahwa 21 negara bagian memiliki jumlah dokter bedah umum di bawah kebutuhan. Data tersebut juga memperkirakan kekurangan 13.500 hingga 86.000 dokter pada tahun 2036.

Melihat statistik tersebut, bukan tidak mungkin robot humanoid akan dipanggil untuk mengisi kekurangan dokter bedah dan bekerja sama dengan dokter manusia yang tersisa pada saat itu.

Melihat kembali momen bersejarah yang menyaksikan robot menjadi bagian dari operasi, pencapaian ini layak dicatat. Pada tahun 1983, Anthrobot, robot bedah pertama, membantu ahli bedah selama operasi lutut artroskopi. Pada tahun 1985, sistem robotik PUMA 560 melakukan hal yang sama saat berpartisipasi dalam biopsi otak yang dipandu CT. Pada tahun 1992, ROBODOC yang dipandu gambar menorehkan sejarah sebagai sistem robotik pertama yang mengoperasi manusia saat menyiapkan tulang paha untuk penggantian pinggul prostetik.

Kini, kita baru saja menyaksikan sepasang robot humanoid bekerja sama dengan ahli bedah manusia dan satu sama lain untuk berhasil melakukan dua operasi. Momen ini menggambarkan masa depan cerah di mana robot humanoid digunakan secara massal untuk membantu para profesional medis berpengalaman dalam berbagai operasi penting. Dengan perkembangan lebih lanjut di bidang kecerdasan buatan, bukan tidak mungkin robot humanoid akan bertindak secara mandiri selama prosedur bedah.

Perkembangan robot humanoid di sektor medis ini membuka peluang baru yang signifikan. Keberhasilan operasi kandung empedu yang melibatkan robot humanoid menunjukkan bahwa teknologi ini siap untuk diadopsi lebih luas, terutama untuk mengatasi kekurangan tenaga ahli bedah di berbagai belahan dunia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.