📑 Daftar Isi

Ilustrasi laporan McKinsey tentang adopsi agentic AI di perusahaan besar dengan grafik pertumbuhan dan analisis data bisnis

Riset McKinsey: Adopsi Agentic AI Naik, 39% Perusahaan Prediksi PHK

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 40% perusahaan dengan pendapatan di atas $1 miliar melakukan scaling AI agents, naik dari 27% tahun lalu
  • 39% responden memperkirakan penurunan tenaga kerja akibat AI dalam 12 bulan ke depan, naik dari 32%
  • 20% organisasi mengurangi penggunaan AI karena biaya operasional atau token cost
  • 80% responden melaporkan peningkatan produktivitas individu, 50% mengklaim perbaikan pengambilan keputusan
  • 33% responden beralih dari pembelian software ke pengembangan solusi internal dengan agentic coding tools
  • 6% responden mengalokasikan minimal 5% EBIT untuk AI, angka stabil tidak menurun
  • 43% responden memperkirakan tidak ada perubahan jumlah tenaga kerja terkait AI

Telset.id – Riset terbaru dari McKinsey mengungkapkan bahwa semakin banyak perusahaan yang mengadopsi solusi agentic AI, namun di saat yang sama, 39% responden memperkirakan akan terjadi penurunan jumlah tenaga kerja di organisasi mereka akibat teknologi ini. Temuan ini menjadi sinyal penting bagi dunia bisnis yang tengah berinvestasi besar dalam kecerdasan buatan.

Laporan bertajuk “The state of AI” ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam penggunaan AI, khususnya di kalangan perusahaan besar. Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat tantangan nyata terkait biaya operasional dan dampaknya terhadap lapangan kerja yang perlu menjadi perhatian para pelaku industri.

Perusahaan Besar Lebih Cepat Mengadopsi AI Agents

McKinsey menemukan bahwa 40% responden dari perusahaan dengan pendapatan tahunan lebih dari $1 miliar kini sedang melakukan scaling pada AI agents. Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan survei tahun sebelumnya yang hanya mencatat 27%. Sementara itu, di organisasi yang lebih kecil, hanya 22% yang melaporkan scaling serupa, sebuah angka yang tidak banyak berubah sejak survei terakhir.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa organisasi besar memiliki kapasitas lebih untuk mengeksplorasi AI dan mengembangkan aplikasi agentic. Hal ini juga ditegaskan langsung dalam laporan McKinsey sebagai salah satu temuan kunci.

businessman working on desk office with using a calculator to calculate the numbers, finance accounting concept

“Keyakinan organisasi terhadap AI tumbuh lebih cepat daripada imbal balik finansial langsung yang dapat mereka kaitkan dengannya,” ujar McKinsey dalam laporannya. “Lebih banyak pihak yang memperkirakan AI akan mengubah bentuk bisnis mereka dalam tiga tahun ke depan dibandingkan tahun lalu, dan mereka terus berencana untuk berinvestasi lebih banyak.”

Meskipun faktor EBIT (Earnings Before Interest and Taxes), di mana setidaknya 5% dialokasikan untuk AI, mungkin terlihat rendah dan relatif stagnan dengan hanya 6% responden, angka ini tidak mengalami penurunan. Pada tahap ini, hal tersebut dianggap sebagai perkembangan yang vital bagi industri.

Biaya Operasional dan Dampak pada Tenaga Kerja

Survei ini juga mengungkapkan sejumlah tren signifikan yang dapat menjadi tantangan bagi bisnis yang mengandalkan AI. Salah satu kendala utama adalah biaya token, dengan 20% responden melaporkan pengurangan penggunaan AI akibat biaya operasional yang tinggi.

Di sisi lain, terdapat kabar baik terkait dampak finansial dari penggunaan AI. Hampir 33% responden mengatakan mereka telah beralih dari pengadaan software ke pengembangan solusi internal menggunakan alat coding agentic. Selain itu, 80% melaporkan peningkatan “produktivitas individu” dan 50% mengklaim telah terjadi perbaikan dalam pengambilan keputusan.

A person typing on a laptop and using a tablet. Only their upper torso, arms and hands are visible. Text superimposed on the image shows AI

Namun, para responden tidak optimistis mengenai dampak AI terhadap ukuran tenaga kerja mereka. Sebanyak 39% memperkirakan akan terjadi penurunan jumlah karyawan akibat AI dalam 12 bulan ke depan. Angka ini meningkat dari 32% dalam laporan McKinsey sebelumnya. Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa 43% responden memperkirakan tidak akan ada penurunan atau peningkatan terkait AI.

Menariknya, survei menemukan bahwa meskipun penggunaan AI di tingkat organisasi secara keseluruhan tampak relatif rendah, teknologi ini justru meningkatkan performa karyawan secara individual. Temuan ini sejalan dengan perkembangan terkini di industri, termasuk performa AI terkini yang semakin mumpuni.

Laporan ini juga menyoroti adanya beberapa keuntungan penghematan biaya dari adopsi AI. Salah satunya adalah keputusan sejumlah perusahaan untuk mengembangkan solusi internal dibandingkan membeli software komersial. Tren ini menunjukkan pergeseran strategi yang menarik di kalangan korporasi.

Meskipun demikian, masih ada kekhawatiran yang belum sepenuhnya terjawab, terutama terkait efektivitas biaya investasi AI dalam jangka panjang. Beberapa pemimpin bisnis mengakui bahwa mereka masih memiliki pemahaman terbatas tentang anggaran AI yang mereka miliki, sementara yang lain mengeluhkan tingginya biaya transisi ke teknologi ini.

Mature man using laptop in a cafe, looking annoyed

Data McKinsey ini memberikan gambaran komprehensif tentang lanskap adopsi AI saat ini. Di satu sisi, teknologi ini menjanjikan peningkatan produktivitas dan efisiensi yang nyata. Di sisi lain, perusahaan harus siap menghadapi tantangan biaya dan dampak sosial yang mungkin timbul, termasuk fokus kerja yang semakin bergantung pada teknologi.

Laporan ini menjadi bahan pertimbangan penting bagi para pengambil keputusan di perusahaan. Meskipun tren adopsi AI agentic terus meningkat, perusahaan perlu menyeimbangkan antara investasi teknologi, efisiensi biaya, dan tanggung jawab terhadap tenaga kerja mereka.

Ke depannya, kemampuan organisasi dalam mengelola transisi ini akan menentukan keberhasilan mereka dalam memanfaatkan potensi penuh AI. Seperti yang ditegaskan McKinsey, keyakinan terhadap AI memang tumbuh, namun realisasi imbal balik finansialnya masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.