📑 Daftar Isi

Spesialis IT berbicara di dalam pusat data di Texas

Riset: Lulusan Baru Terdampak PHK Akibat AI di Texas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Riset Federal Reserve Bank Dallas: tingkat pengangguran lulusan baru di Texas naik drastis seiring adopsi AI
  • Lowongan kerja bidang terpapar AI turun 8 persen pada Q1 2025 sejak rilis ChatGPT
  • Texas adalah negara bagian dengan pusat data terbanyak yang sedang dibangun
  • Permintaan koneksi listrik pusat data melonjak dari 48 GW (2023) menjadi 474 GW
  • Gubernur Greg Abbott membekukan koneksi pusat data baru karena tekanan publik
  • Studi Stanford: pekerja muda 22-25 tahun paling terdampak penurunan lapangan kerja
  • Jajak pendapat Gallup: 72 persen responden menilai waktu buruk mencari kerja

Telset.id – Adopsi AI yang cepat ternyata berbanding lurus dengan meningkatnya tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi di Texas, negara bagian dengan pusat data terbanyak di Amerika Serikat. Sebuah riset terbaru dari Federal Reserve Bank di Dallas mengungkapkan bahwa pertumbuhan AI justru bertepatan dengan “tingkat pengangguran yang luar biasa tinggi” di kalangan lulusan baru.

Fenomena ini menjadi sorotan utama karena Texas merupakan negara bagian dengan konstruksi pusat data terbanyak. Temuan ini menunjukkan bahwa infrastruktur AI yang masif tidak serta-merta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, melainkan berpotensi menggantikan pekerjaan di bidang yang paling rentan terhadap otomatisasi.

Penelitian yang dilaporkan oleh Financial Times ini menemukan bahwa sejak perilisan ChatGPT, jumlah lowongan pekerjaan di Texas untuk bidang yang terpapar AI mengalami penurunan drastis. Dampak ini dirasakan secara tidak proporsional oleh para lulusan perguruan tinggi.

Penurunan Lowongan Pekerjaan di Bidang Terpapar AI

Para peneliti di Federal Reserve Bank Dallas menemukan bahwa pada kuartal pertama tahun 2025, jumlah lowongan pekerjaan di bidang yang dianggap terpapar AI merosot hingga 8 persen. Angka ini dibandingkan dengan pekerjaan yang dinilai kurang terpapar dampak AI pada periode yang sama.

“Dinamika ini menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi baru, yang tingkat pengganggurannya naik ke level yang luar biasa tinggi selama periode adopsi AI generatif yang cepat ini, adalah kelompok yang pertama kali merasakan dampak GenAI terhadap lapangan kerja dan pendapatan,” tulis para peneliti dalam analisis mereka.

Spesialis IT berbicara di dalam pusat data.

Data ini memperkuat kekhawatiran yang selama ini muncul di tengah gencarnya pembangunan pusat data AI di berbagai wilayah. Meskipun Texas dan Gubernur Greg Abbott sebelumnya menyambut baik pembangunan pusat data AI, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa fasilitas tersebut tidak banyak berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja lokal.

Analisis dari Reuters mengungkapkan bahwa permintaan dari pusat data dan pengguna listrik besar untuk terhubung ke jaringan listrik negara bagian melonjak dari sekitar 48 gigawatt pada tahun 2023 menjadi lebih dari 474 gigawatt saat ini. Lonjakan ini menjadikan Texas sebagai salah satu pusat pertumbuhan tercepat untuk fasilitas AI dan komputasi awan.

Perubahan Sikap Pemerintah dan Dampak pada Tenaga Kerja Muda

Seiring meningkatnya penolakan publik terhadap pusat data dan mendekatnya pemilihan paruh waktu, Gubernur Abbott mengubah sikapnya menjadi kritikus industri AI. Abbott mengumumkan pembekuan koneksi pusat data baru pada bulan lalu. Selain kekhawatiran tentang dampak lingkungan, banyak pihak khawatir teknologi yang didukung pusat data akan menghancurkan lapangan kerja, sementara fasilitas itu sendiri hanya memberikan sedikit manfaat bagi ekonomi lokal.

Riset terbaru ini, menurut para penulisnya, menunjukkan realitas bagaimana AI membentuk permintaan tenaga kerja di wilayah yang seharusnya mendapatkan manfaat langsung darinya. Temuan ini sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan AI mulai menghilangkan pekerjaan tingkat pemula — sebuah hasil yang telah diperingatkan oleh tokoh industri seperti CEO Anthropic, Dario Amodei.

Analisis terbaru dari para peneliti di Digital Economy Lab Stanford juga menemukan penurunan tajam dalam lapangan kerja di kalangan pekerja pengetahuan muda. Sementara itu, jumlah pekerja di bidang yang tidak dianggap rentan terhadap otomatisasi AI, termasuk pekerjaan industri dan ritel, justru meningkat.

“Untuk usia 22 hingga 25 tahun, lapangan kerja di pekerjaan yang paling terpapar AI sedang menurun dan meningkat di pekerjaan yang paling tidak terpapar,” kata salah satu penulis laporan tersebut.

Masih ada banyak ketidakpastian tentang berapa banyak pekerjaan yang benar-benar digantikan oleh AI, dan apakah sebagian dari kekacauan ini dapat dijelaskan sebagai penggunaan AI sebagai alasan untuk memecat pekerja karena alasan lain. Namun, situasi ini telah membawa efek demoralisasi pada angkatan kerja.

Dalam jajak pendapat Gallup yang dilakukan selama tiga bulan terakhir tahun 2025, sebanyak 72 persen responden mengatakan bahwa ini adalah “waktu yang buruk” untuk mencari pekerjaan yang baik.

Temuan ini memberikan gambaran nyata tentang dampak AI terhadap pasar tenaga kerja, khususnya bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja. Meskipun pembangunan pusat data terus berlanjut, manfaat ekonominya bagi masyarakat lokal masih menjadi pertanyaan besar yang perlu dijawab oleh para pembuat kebijakan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.