Telset.id – Keamanan siber untuk perangkat industri kembali menjadi sorotan setelah riset terbaru mengungkap bahwa Artificial Intelligence (AI) dapat digunakan untuk mengeksploitasi Programmable Logic Controllers (PLC). Temuan dari peneliti Forescout ini menunjukkan bahwa meskipun serangan AI terhadap perangkat OT (Operational Technology) masih membutuhkan biaya besar, ancaman dari aktor negara tetap nyata.
Penelitian yang dilakukan oleh tim keamanan Forescout ini berfokus pada upaya memahami apakah para penjahat siber dapat memanfaatkan AI untuk menyerang perangkat industri yang semakin banyak terpapar. Hasilnya menunjukkan jawaban “ya, tetapi belum sepadan dengan usaha yang dikeluarkan”. Eksperimen yang mereka lakukan adalah memindahkan kerentanan remote code execution (RCE) dari satu PLC ke PLC lainnya.
Perangkat PLC yang menjadi sasaran eksperimen ini dibangun dengan perangkat lunak sumber tertutup (closed-source), sehingga tidak mudah untuk dimanipulasi. Meskipun demikian, eksperimen tersebut berhasil dilakukan. Para peneliti tidak hanya berhasil memicu kondisi Denial of Service (DoS) yang membuat perangkat crash, tetapi juga berhasil mendapatkan RCE yang mampu mengeksekusi ARM shellcode yang dikendalikan oleh penyerang.

Keterbatasan Serangan AI pada Perangkat Industri
Kendati hasil eksperimen ini terdengar mengkhawatirkan, ada catatan besar yang perlu diperhatikan. Para peneliti Forescout mengungkapkan bahwa proses eksploitasi membutuhkan intervensi signifikan dari peneliti manusia. Tahap akhir pengembangan RCE sendiri menghabiskan biaya lebih dari $500 untuk penggunaan API.
“Upaya untuk memperluas eksploitasi melampaui RCE awal pada akhirnya membuat PLC menjadi brick,” demikian pernyataan para peneliti dalam laporan mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun AI dapat membantu, proses eksploitasi perangkat OT tidak semudah yang dibayangkan banyak orang.
Para peneliti juga menambahkan bahwa keterbatasan ini memberikan pelajaran berharga tentang eksploitasi berbantuan AI di lingkungan OT. Proses tersebut memang bisa dilakukan, tetapi tidak semudah yang terdengar. Untuk saat ini, tingkat kesulitan, biaya, dan keahlian khusus yang dibutuhkan membuat jenis serangan ini kurang menarik dibandingkan alternatif yang lebih mudah.
Baca Juga:
Dengan kata lain, para penjahat siber masih memiliki banyak jalan lain yang lebih mudah untuk dieksplorasi. Selama kondisi ini masih berlangsung, perangkat OT relatif aman dari serangan otomatis berbasis AI. Namun, laporan ini tidak membahas tentang kemungkinan serangan dari aktor negara dengan sumber daya yang signifikan.
Ancaman Nyata dari Kelompok Sandworm
Bagi aktor negara yang memiliki sumber daya besar, perangkat industri merupakan target utama. Menghabiskan biaya lebih dari $500 untuk penggunaan API bukanlah masalah besar bagi kelompok semacam ini. Bukti nyata sudah terlihat pada tahun 2025 ketika kelompok Sandworm menyerang pemasok listrik di Polandia.
Serangan yang dilakukan Sandworm tersebut menunjukkan bahwa kelompok peretas yang didukung negara memiliki kapabilitas dan sumber daya untuk menargetkan infrastruktur kritis. Insiden ini menjadi pengingat bahwa meskipun serangan AI terhadap perangkat OT mungkin belum ekonomis bagi penjahat siber biasa, ancaman dari aktor negara tetap harus diwaspadai.

Penelitian Forescout ini sejalan dengan kekhawatiran yang berkembang tentang penggunaan AI dalam serangan siber terhadap infrastruktur kritis. Sebelumnya, para ahli juga telah memperingatkan tentang potensi penyalahgunaan AI untuk membuat malware yang lebih canggih. Perkembangan ini menunjukkan bahwa lanskap ancaman siber terus berevolusi seiring dengan kemajuan teknologi AI.
Meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan AI terhadap PLC masih membutuhkan banyak campur tangan manusia dan biaya yang tidak sedikit, perkembangan ini tetap menjadi sinyal penting bagi industri. Perusahaan yang mengoperasikan perangkat OT perlu meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sistem keamanan mereka, terutama mengingat potensi ancaman dari kelompok yang didukung negara.
Para pelaku industri juga perlu memahami bahwa meskipun serangan otomatis berbasis AI mungkin belum menjadi ancaman langsung, evolusi teknologi AI terus berlanjut. Biaya penggunaan API yang saat ini masih tinggi dapat turun seiring waktu, membuat metode serangan semacam ini semakin terjangkau bagi lebih banyak pihak di masa mendatang.
Keamanan infrastruktur kritis menjadi semakin kompleks dengan hadirnya AI sebagai alat yang dapat digunakan baik untuk pertahanan maupun serangan. Hasil riset Forescout ini memberikan gambaran nyata tentang tantangan yang dihadapi industri dalam melindungi perangkat OT mereka dari ancaman yang terus berkembang.





Komentar
Belum ada komentar.