📑 Daftar Isi

Ilustrasi chip Nvidia GB300 yang digunakan di pusat data Colossus SpaceX untuk Reflection AI

Reflection AI Bayar Rp 105 Triliun ke SpaceX untuk Chip GB300

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Reflection AI menandatangani kontrak US$6,3 miliar dengan SpaceX untuk akses chip Nvidia GB300
  • Pembayaran US$150 juta per bulan mulai 1 Juli 2026 hingga 2029
  • Kontrak lebih kecil dibanding Anthropic (US$1,25 miliar/bulan) dan Google (US$920 juta/bulan)
  • Reflection AI adalah startup open-weight AI yang didirikan 2024 oleh mantan peneliti Google DeepMind
  • Pusat data Colossus awalnya dibangun xAI, kini disewakan SpaceX ke laboratorium AI terkemuka
  • Opsi pembatalan kontrak dengan pemberitahuan 90 hari setelah tiga bulan pertama

Telset.id – Startup AI open-source Reflection AI mengikat kontrak senilai hingga US$6,3 miliar atau sekitar Rp 105 triliun dengan SpaceX untuk menyewa akses ke ribuan chip Nvidia GB300 di pusat data Colossus 2 dekat Memphis, Tennessee. Mulai 1 Juli 2026, Reflection akan membayar US$150 juta per bulan hingga 2029, menandai komitmen infrastruktur AI terbuka terbesar yang pernah diumumkan.

Detail Kontrak dan Nilai Investasi

Berdasarkan laporan yang diterima TechCrunch, Reflection AI akan membayar US$150 juta per bulan kepada SpaceX untuk mendapatkan akses langsung ke chip Nvidia GB300 dan perangkat pendukungnya. Periode pembayaran dimulai 1 Juli 2026 dan berlangsung hingga tahun 2029. Total nilai kontrak mencapai US$6,3 miliar, meskipun kedua belah pihak memiliki opsi untuk membatalkan perjanjian dengan pemberitahuan 90 hari setelah tiga bulan pertama berjalan.

Kontrak ini tergolong lebih kecil dibandingkan kesepakatan SpaceX dengan Anthropic yang mencapai US$1,25 miliar per bulan, dan Google yang membayar US$920 juta per bulan. Kedua kontrak tersebut juga berjalan hingga Juli 2029, meskipun Elon Musk secara terbuka meremehkan jangka waktu tiga tahun tersebut dengan menekankan bahwa kontrak dapat dibatalkan kapan saja.

Strategi Open-Source di Tengah Ketegangan Regulasi

Reflection AI menggunakan kesepakatan komputasi ini — yang pertama bagi perusahaan — untuk menonjolkan nilai strategi open-weight AI mereka. Startup yang didirikan pada tahun 2024 oleh dua mantan peneliti Google DeepMind ini memposisikan diri sebagai alternatif sumber terbuka untuk laboratorium AI tertutup seperti Anthropic dan OpenAI.

Model AI open-weight, yang merilis parameter terlatihnya secara publik, mendapat perhatian lebih besar setelah pemerintah AS melarang model tertutup milik Anthropic, yaitu Fable dan Mythos. Seorang juru bicara Reflection AI menyatakan dalam pernyataan resmi: “Peristiwa baru-baru ini menyoroti betapa pentingnya open source bagi ekosistem AI, dengan semakin banyak negara dan perusahaan yang menyadari risiko dan biaya yang terkait dengan ketergantungan eksklusif pada model tertutup.”

Juru bicara tersebut menambahkan, “Kesepakatan kami dengan SpaceXAI menandakan kepentingan strategis Reflection dalam ekosistem AI perbatasan, dan lebih banyak komputasi berarti lebih banyak landasan untuk membangun model terbuka terbaik di dunia dalam skala besar.”

Pusat Data Colossus dan Peran xAI

Pusat data Colossus awalnya dibangun oleh xAI, perusahaan yang didirikan Elon Musk yang kini menjadi bagian dari SpaceX, untuk upaya AI internalnya. Ketika ambisi internal xAI mulai goyah, SpaceX memanfaatkan kepemilikan chip AI yang berharga dan mulai menyewakannya kepada beberapa laboratorium AI terkemuka di dunia.

Kesepakatan ini menunjukkan pergeseran strategi SpaceX dari pengembang AI menjadi penyedia infrastruktur komputasi bagi para pemain utama industri. Langkah ini juga memperkuat posisi SpaceX sebagai pemasok daya komputasi kritis di tengah persaingan ketat pasar chip AI global.

Implikasi bagi Ekosistem AI Global

Kesepakatan ini menjadi sinyal kuat bahwa model AI terbuka semakin dianggap sebagai alternatif serius di tengah kekhawatiran ketergantungan pada model tertutup. Dengan akses ke ribuan chip Nvidia GB300, Reflection AI memiliki kapasitas komputasi yang diperlukan untuk melatih model-model AI skala besar tanpa harus membangun infrastruktur sendiri.

Namun, ketentuan pembatalan kontrak dalam 90 hari setelah tiga bulan pertama memberikan fleksibilitas bagi kedua belah pihak. Hal ini mencerminkan dinamika industri AI yang masih sangat fluktuatif, di mana kebutuhan komputasi dan strategi bisnis dapat berubah dengan cepat.

Bagi industri teknologi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Konektivitas 5G tanpa operator dan IPO saham SpaceX menunjukkan bahwa perusahaan milik Elon Musk ini terus melakukan diversifikasi bisnis di luar layanan peluncuran roket.

Kesimpulannya, kontrak senilai US$6,3 miliar antara Reflection AI dan SpaceX menegaskan bahwa persaingan di pasar AI tidak lagi hanya soal algoritma, tetapi juga soal siapa yang memiliki akses ke daya komputasi paling masif. Strategi open-source yang diusung Reflection AI menjadi pembeda utama di tengah dominasi model tertutup dari para raksasa teknologi.

Komentar

Belum ada komentar.