📑 Daftar Isi

Logo Proton dengan latar gelap mewakili kebijakan penggunaan AI perusahaan

Proton Batalkan Wawancara Ulang Karyawan soal Penggunaan AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Proton batalkan wawancara ulang karyawan soal penggunaan AI
  • Tidak ada PHK terkait penggunaan AI dan tidak ada pelacakan di laptop karyawan
  • Proton janji penggunaan AI tak mengorbankan keamanan
  • CTO Bart Butler publikasikan manifesto AI internal
  • Proton akan buka sumber alat internal dan tingkatkan Lumo

Telset.id – Proton memastikan tidak akan melakukan wawancara ulang terhadap sejumlah karyawannya soal cara menggunakan AI. Perusahaan yang dikenal lewat Proton Mail dan Proton VPN ini juga berjanji bahwa penggunaan AI tidak akan pernah mengorbankan keamanan produk mereka.

Keputusan tersebut disampaikan Proton melalui pernyataan di media sosial X, beberapa waktu setelah kisruh internal perusahaan bocor ke publik. Dalam pernyataan itu, Proton mengakui belum “memenuhi standar tinggi yang seharusnya” menjadi acuan perusahaan. Pernyataan tersebut menjadi respons resmi pertama Proton setelah dokumen internal soal kebijakan AI ramai dibicarakan.

Proton menyebut ada tiga janji yang ditujukan kepada komunitasnya, termasuk pengguna layanan ekosistem privasi Proton. Pertama, perusahaan tidak akan mewawancarai ulang staf soal penggunaan AI. Kedua, tidak akan ada pemutusan hubungan kerja yang dikaitkan dengan penggunaan AI. Ketiga, penggunaan AI tidak akan dilakukan dengan mengorbankan aspek keamanan.

Tiga Janji Proton ke Komunitas

Selain tiga poin utama tersebut, Proton menegaskan bahwa perusahaan tidak memasang perangkat lunak pelacak di laptop karyawan untuk mengukur seberapa banyak kode yang dihasilkan AI. Langkah ini menjadi penting karena isu pelacakan produktivitas sempat mencuat dalam dokumen internal yang bocor.

Proton juga berkomitmen untuk merilis secara publik dan membuka sumber sejumlah alat internalnya. Perusahaan akan mempublikasikan bagaimana proses tinjauan kode (code review) dan tinjauan keamanan (security review) dilakukan. Tujuannya adalah memberikan transparansi sekaligus bukti bahwa Proton benar-benar menjalankan janjinya.

Pengumuman ini muncul bersamaan dengan gelombang dukungan dari sejumlah karyawan aktif Proton di Reddit dan X. Mereka menyebutkan nama masing-masing secara terbuka dan membantah banyak klaim yang disebut berasal dari email internal yang bocor. Meski demikian, sejumlah komentator di kedua platform menduga hal ini bisa jadi bagian dari respons kehumasan yang terkoordinasi.

Terlepas dari pro-kontra soal respons tersebut, satu hal yang pasti adalah komitmen Proton untuk memakai AI sebagai pendorong perusahaan. Pada Minggu, 1 November, dua hari setelah kisruh dokumen internal terbit, CTO Proton Bart Butler mempublikasikan detail memo perusahaan soal penggunaan AI berjudul “AI @ Proton, Engineering Manifesto”. Memo itu disebut telah ia kirimkan ke staf sebulan sebelum insiden.

Isi Manifesto AI dari CTO Proton

Dalam manifesto tersebut, Bart Butler memaparkan posisi Proton secara gamblang soal bagaimana insinyur perangkat lunak seharusnya menggunakan AI. Ia menulis dengan huruf tebal bahwa pekerjaan para insinyur telah berubah secara fundamental. Menurutnya, tugas mereka bukan lagi menulis kode, dan LLM (large language model) bukan alat untuk membantu menulis kode lebih baik dan lebih cepat.

Butler menyebut tugas baru para insinyur adalah membantu LLM menulis kode yang lebih baik dan lebih cepat. Setiap insinyur kini diposisikan sebagai pemimpin tim sekaligus manajer, dengan model dan agen AI sebagai bawahan langsung mereka. Pernyataan ini menjadi salah satu bagian paling mencolok dari manifesto yang dipublikasikan Proton.

Butler melanjutkan dengan menegaskan pentingnya peran staf dan di mana nilai mereka berada. Ia menyatakan bahwa ini bukanlah kematian dari keahlian. Menurutnya, LLM memang cepat, sementara manusia lambat, tetapi manusia membawa serta pengalaman seumur hidup, pengambilan keputusan, dan pemahaman yang tidak dimiliki model.

Pernyataan itu mungkin melegakan bagi para insinyur yang memiliki pengalaman panjang. Namun, bisa jadi lebih sulit dicerna oleh lulusan baru yang sedang mencari pekerjaan pertama di industri ini. Butler juga menegaskan bahwa ini bukan kematian praktik rekayasa perangkat lunak yang baik. Ia menyebut maintainability dan velocity lebih baik pada codebase yang terarsitektur dengan baik, serta dokumentasi dan pengujian tetap krusial.

Manifesto tersebut ditutup dengan seruan yang menyoroti dunia yang berubah dan bagaimana Proton bersama karyawannya ingin terus mengikuti perkembangan. Butler menegaskan bahwa perusahaan berada di dunia baru. Menurutnya, “programming” telah mati, tetapi engineering tidak, begitu pula keahlian. Pekerjaan lama disebut telah hilang, dan pekerjaan baru sebagai builder akan memungkinkan karyawan berbuat lebih banyak serta memberi dampak lebih besar jika mengambil peluang tersebut.

Sejumlah pengamat menilai, besarnya penekanan Proton pada penggunaan AI dalam manifesto itu membuat laporan soal wawancara ulang staf terhadap penggunaan AI terdengar masuk akal. Terlepas dari apakah benar ada ancaman terhadap pekerjaan atau tidak, dokumen tersebut menunjukkan betapa seriusnya Proton mendorong adopsi AI di internal perusahaan.

Yang belum bisa dipastikan adalah seberapa keras Proton awalnya berniat melakukan audit terhadap praktik AI karyawannya. Namun, pernyataan reaktif perusahaan di media sosial jelas menunjukkan adanya penyesalan atas bagian tertentu dari persoalan ini. Apakah itu soal perlakuan terhadap karyawan, kekhawatiran bahwa kode produk jadi kurang aman karena AI, atau keduanya, masih sulit ditentukan.

Dari sisi pelanggan, ada satu hasil yang lebih konkret dan menarik: peningkatan pada Lumo, layanan AI berbasis privasi milik Proton, diperkirakan akan hadir lebih cepat. Sebagai bagian dari janji transparansi alat internal, Proton akan membuka “versi Lumo yang lebih canggih dengan kemampuan lebih besar, yang selama ini tidak pernah tersedia di luar perusahaan”. Hal ini menjadi kabar yang relevan bagi pengguna yang mengandalkan layanan Proton sehari-hari.

Proton sendiri selama ini dikenal sebagai penyedia perangkat lunak yang mengutamakan privasi. Perusahaan yang berbasis di Swiss ini juga sempat menyoroti berbagai isu keamanan digital, termasuk lewat temuan mereka soal aplikasi yang mengirim data ke luar negeri seperti dalam laporan kebocoran data pengguna. Sikap kritis terhadap praktik data perusahaan teknologi lain menjadi bagian dari citra Proton di mata komunitasnya.

Karena itu, janji bahwa penggunaan AI tidak akan mengorbankan keamanan menjadi poin yang paling disorot publik. Bagi pengguna Proton Mail dan Proton VPN, transparansi soal proses tinjauan kode dan keamanan menjadi cara perusahaan mempertahankan kepercayaan. Proton juga menyatakan akan membuka sumber sejumlah alat internal sebagai bukti nyata dari komitmen tersebut.

Dengan langkah ini, Proton berupaya menyeimbangkan dua hal: mempercepat adopsi AI di internal perusahaan dan menjaga reputasi sebagai layanan yang mengutamakan privasi. Publik kini menantikan realisasi janji transparansi tersebut, termasuk pembaruan pada Lumo yang disebut akan membawa kemampuan lebih besar bagi pengguna.

[IMAGE: https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/fbpKgEUYyeXGbPKDVFvDzi.png (Alt: “Headshot of Proton’s Founder, Andy Yen, in the Geneva office”)]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.