Telset.id – Riset terbaru dari Gartner memproyeksikan bahwa pada 2027, setengah dari perusahaan yang menggantikan agen layanan pelanggan dengan kecerdasan buatan diperkirakan akan merekrut mereka kembali. Temuan ini membalikkan asumsi umum bahwa adopsi AI secara otomatis berarti pengurangan tenaga kerja manusia secara permanen.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa pergeseran ini bukan karena AI gagal berfungsi. Sebaliknya, para eksekutif mulai menyadari perbedaan kritis: mengurangi penggajian dan menambah nilai nyata bagi bisnis adalah dua hal yang sangat berbeda. Gelombang pertama penerapan AI memang didorong oleh keinginan untuk melakukan penggantian, terutama setelah ChatGPT meledak pada akhir 2022. Banyak perusahaan bergerak cepat memangkas jumlah karyawan atau membekukan perekrutan sambil menunggu melihat seberapa banyak pekerjaan yang bisa diserap AI.
Namun, menurut Gartner, organisasi yang mendapatkan keuntungan paling besar dari AI bukanlah mereka yang melakukan pemotongan paling dalam. Justru sebaliknya, perusahaan-perusahaan yang berinvestasi dalam pelatihan, mendesain ulang alur kerja, dan membantu karyawan bekerja berdampingan dengan AI lah yang menuai hasil terbaik.

Salah satu kesalahan terbesar dalam diskusi tentang AI adalah anggapan bahwa pekerjaan hanyalah kumpulan tugas individual. Kenyataannya, sebagian besar pekerjaan melibatkan campuran tanggung jawab yang sulit dipisahkan. Ambil contoh layanan pelanggan. Chatbot AI mungkin unggul dalam menjawab pertanyaan rutin tentang kebijakan pengiriman atau informasi produk. Namun, pelanggan yang frustrasi seringkali membutuhkan lebih dari sekadar jawaban yang benar secara teknis. Mereka membutuhkan empati, penilaian, negosiasi, atau jaminan. Di area inilah manusia masih cenderung mengungguli mesin.
Prinsip yang sama berlaku di hampir semua industri. AI dapat membantu penulis menyusun konten, tetapi tidak secara otomatis memahami ekspektasi audiens, strategi editorial, atau konteks budaya. AI juga bisa menghasilkan kode perangkat lunak, tetapi belum tentu memahami prioritas bisnis atau keputusan produk jangka panjang. AI juga bisa menganalisis data, namun pemimpin manusia tetap perlu memutuskan tindakan apa yang harus diambil berdasarkan informasi tersebut.
Baca Juga:
AI sebagai Alat Produktivitas, Bukan Pemangkas Biaya
Menginterpretasikan prediksi Gartner sebagai bukti bahwa AI tidak sekuat yang dijanjikan adalah kesimpulan yang tergesa-gesa. Justru sebaliknya, temuan ini menunjukkan bahwa sistem AI menjadi semakin mumpuni dengan kecepatan yang mencengangkan, tapi pengawasan manusia justru semakin dibutuhkan.
Banyak organisasi mendekati AI sebagai alat pemangkas biaya, padahal AI mungkin lebih berharga sebagai alat produktivitas. Ada perbedaan besar antara menggunakan AI untuk menghilangkan pekerjaan dan menggunakan AI untuk membantu karyawan melakukan pekerjaan yang lebih baik. Perusahaan yang paling sukses dalam mengadopsi AI saat ini tidak lagi memilih antara manusia dan AI. Mereka justru mencari cara bagaimana keduanya bisa saling melengkapi.
Hampir setiap profesi saat ini—penulis, desainer, pemasar, programmer, perwakilan dukungan pelanggan—sedang berusaha mencari tahu apa arti AI bagi masa depan mereka. Beberapa pekerjaan akan berubah secara dramatis. Beberapa peran akan hilang. Peran baru akan muncul. Namun, prediksi Gartner menyoroti sesuatu yang jarang kita dengar: perusahaan masih mendefinisikan tujuan penggunaan AI, dan dalam banyak kasus, mereka menemukan bahwa penilaian manusia ternyata jauh lebih berharga daripada yang mereka perkirakan sebelumnya.
Oleh karena itu, keterampilan paling penting di era AI mungkin bukanlah belajar bagaimana bersaing dengan AI, tetapi belajar bagaimana bekerja dengannya. Organisasi yang mendapatkan nilai paling banyak dari AI semakin tidak memilih antara manusia dan AI. Mereka mencari cara bagaimana keduanya dapat saling melengkapi. Dan itulah gambaran yang jauh lebih akurat tentang bagaimana masa depan pekerjaan sebenarnya.






Komentar
Belum ada komentar.