Telset.id – Gelombang penolakan terhadap pembangunan data center di Amerika Serikat semakin meluas, dan hasil riset terbaru mengungkap akar permasalahannya. Penelitian dari Andy Masley menunjukkan bahwa penolakan publik terhadap proyek data center tidak didorong oleh sentimen anti-AI atau isu geopolitik, melainkan oleh kekhawatiran nyata terhadap dampak lingkungan dan ekonomi di tingkat lokal.
Temuan ini menjawab pertanyaan penting di tengah meningkatnya protes dan moratorium pembangunan data center di berbagai negara bagian AS. Lebih dari seratus protes telah terjadi secara bersamaan, namun analisis dari berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa “bahaya lingkungan dan ekonomi di tingkat objek” yang banyak diberitakan media menjadi faktor utama pemicu resistensi masyarakat.
Masley menemukan bahwa kekhawatiran spesifik tentang dampak nyata yang sudah terjadi di lokasi lain menjadi pendorong utama penolakan. Ini bukan tentang ketakutan terhadap teknologi AI itu sendiri, melainkan tentang masalah konkret seperti konsumsi listrik masif, gangguan pasokan air, polusi suara, dan dampak finansial yang harus ditanggung warga.
Dampak Nyata pada Tagihan Listrik dan Infrastruktur
Isu yang paling menyita perhatian publik adalah konsumsi listrik dalam jumlah besar yang dibutuhkan data center AI. Operator jaringan seperti PJM Interconnection harus memperluas infrastruktur mereka untuk melayani kebutuhan ini, dengan biaya mencapai miliaran dolar.
Yang menjadi masalah, belanja modal untuk peningkatan infrastruktur ini biasanya dibebankan secara merata kepada semua pengguna. Akibatnya, warga melihat kenaikan tagihan listrik hingga 76 persen. Kondisi ini memaksa Presiden Donald Trump untuk meminta perusahaan teknologi besar, operator utilitas, dan gubernur negara bagian menandatangani “ikrar perlindungan pembayar tarif” agar perusahaan AI membayar biaya listrik mereka sendiri.
Namun, langkah tersebut dinilai terlambat untuk menghentikan kenaikan biaya listrik yang membebani sebagian besar penduduk AS yang dilayani PJM Interconnection. Satu-satunya negara bagian yang telah memberlakukan aturan tegas adalah Oregon, yang mewajibkan situs dengan pemakaian 20MW atau lebih untuk membayar bagian mereka sendiri. PGE, penyedia listrik terbesar di negara bagian itu, bahkan menaikkan tarif data center sebesar 30 persen sambil memotong biaya residensial sebesar 1,3 persen.
Masalah Air, Polusi Suara, dan Strategi Pengembang
Selain listrik, laporan tentang dua data center di Georgia dan satu di Wyoming menunjukkan masalah air di lingkungan sekitar. Warga mengalami tekanan air rendah akibat konsumsi berlebihan, penurunan kualitas air dengan air keruh keluar dari keran, serta pembuangan air yang mengontaminasi pasokan air reklamasi kota.
Masalah lain termasuk polusi suara dari situs yang menghasilkan kebisingan 24 jam sehari, digambarkan seperti “seseorang menyalakan vacuum cleaner di ruang tamu Anda,” serta polusi udara dari generator turbin mobile dan pembangkit listrik gas alam khusus.
Semua ini adalah kekhawatiran “tingkat objek” — masalah spesifik yang nyata terjadi di lokasi lain dan dapat diamati langsung. Namun, Masley juga mencatat bahwa sebagian pemberitaan tentang isu ini berlebihan atau hanya menampilkan kekhawatiran warga tanpa konteks proyek yang sebenarnya. Hal ini membuat banyak orang takut bahwa masalah di pengembangan lain akan otomatis terjadi di komunitas mereka.
Baca Juga:
Beberapa pengembang data center justru memperburuk situasi dengan melawan moratorium dan larangan yang diberlakukan. Mereka bahkan menggugat yurisdiksi lokal. Satu kota di Pennsylvania mencantumkan 43 tuntutan spesifik yang disebut pengembang “terlalu sulit” sehingga menarik diri dari negosiasi sebelum mengajukan aplikasi lagi — langkah yang oleh dewan kota disebut sebagai upaya “persetujuan dengan cara mengamuk.”
Penolakan publik terhadap data center di AS kini menjadi isu kompleks yang melibatkan keseimbangan antara kebutuhan infrastruktur AI dan perlindungan warga. Selama masalah dampak lokal seperti kenaikan tagihan listrik dan gangguan lingkungan belum terselesaikan, resistensi masyarakat diprediksi akan terus berlanjut.





Komentar
Belum ada komentar.