📑 Daftar Isi

Ilustrasi foto seorang wanita memegang kuas makeup dengan nuansa fashion

Pendiri Sporty & Rich: AI Tak Punya Selera untuk Ganti Manusia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Emily Oberg, pendiri Sporty & Rich, menyatakan AI tidak akan pernah memiliki selera baik seperti manusia
  • Eksperimen AI untuk gambar e-commerce dianggap gagal dan hasilnya dinilai datar serta tanpa emosi
  • Biaya produksi gambar e-commerce Sporty & Rich mencapai lebih dari US$ 200.000 per pemotretan
  • Oberg kembali menggunakan tim manusia karena AI tidak bisa meniru perasaan dan estetika
  • Selera menurut Oberg adalah sesuatu yang "dirasakan, bukan dipelajari"

Telset.id – Emily Oberg, pendiri brand fashion Sporty & Rich, menyatakan bahwa AI tidak akan pernah memiliki selera yang baik seperti manusia. Pernyataan ini muncul setelah eksperimennya menggunakan AI untuk menghasilkan gambar e-commerce justru berakhir dengan kegagalan.

Oberg mengungkapkan hasil eksperimen tersebut dalam sebuah tulisan di Substack-nya, Emily Loves. Dalam percobaannya, ia menggunakan AI untuk membantu menjalankan Sporty & Rich, brand fashion dan lifestyle yang ia dirikan pada 2018 berdasarkan moodboard populer yang ia buat sebelumnya.

Eksperimen AI untuk Menghemat Biaya Produksi

Salah satu area yang ia uji adalah penggunaan AI untuk menghasilkan gambar e-commerce. Menurut Oberg, biaya produksi gambar e-commerce merupakan salah satu pengeluaran terbesar brand-nya, mencapai lebih dari US$ 200.000 untuk setiap sesi pemotretan yang dilakukan dua kali setahun.

Sporty & Rich kemudian menggunakan AI untuk menghasilkan gambar e-commerce guna memodelkan koleksi terbarunya. Meskipun biayanya jauh lebih murah dibandingkan foto yang dimodelkan, difoto, dan diedit oleh manusia, penghematan biaya tersebut ternyata diiringi dengan hasil yang kurang memuaskan.

“With the rise of AI and the ongoing discourse around the threat it has on creativity, jobs and society as a whole, I firmly believe that it will never possess good taste the way that a human does,” tegas Oberg.

Ia menambahkan bahwa inilah alasan mengapa ia tidak menganggap AI sebagai ancaman besar bagi para kreator seperti yang banyak orang khawatirkan.

Hasil Gambar AI Dinilai Datar dan Tanpa Nyawa

“Ini adalah salah satu area yang saya pikir bisa kami hemat, tetapi setelah melihat hasilnya, saya sekarang kembali memproduksi e-commerce dengan tim manusia sepenuhnya, karena AI tidak akan pernah bisa mencapai hasil yang bisa dicapai tim IRL saya,” ungkap Oberg.

Ia juga menambahkan bahwa gambar yang dihasilkan oleh brand-nya saat ini memiliki “kekurangan nyawa” tertentu. Menurutnya, gambar-gambar tersebut terlihat datar, styling-nya biasa saja, dan terlalu “sempurna” dengan cara yang buruk.

“Modelnya terlihat mati di matanya dan tidak memiliki gerakan organik sama sekali. Gambar-gambar itu kosong dan tanpa perasaan atau emosi apa pun,” lanjut Oberg menjelaskan kekurangan hasil gambar AI tersebut.

Oberg menghubungkan kegagalan AI ini dengan kenyataan bahwa selera adalah sesuatu yang “dirasakan, bukan dipelajari”. Model AI penghasil gambar pada dasarnya adalah model pembelajaran yang tidak memiliki pengalaman hidup yang bisa diterjemahkan menjadi cara pandang tertentu terhadap dunia di sekitar mereka.

“AI terpintar di dunia pun bisa mempelajari segala hal tentang selera dan gaya, tetapi perasaan itu tidak akan pernah ada,” tambahnya.

Ilustrasi foto seorang wanita memegang kuas makeup.

Sporty & Rich dan Estetika Berbasis Perasaan

Eksperimen AI yang gagal ini menarik untuk dicermati mengingat Sporty & Rich, bersama brand sejenis seperti Glossier dan Goop, merupakan representasi dari jenis usaha berbasis estetika yang lahir di platform media sosial seperti Pinterest, Tumblr, dan Instagram pada era 2010-an.

Oberg berhasil menangkap sebuah perasaan yang pertama kali diterjemahkan melalui koleksi gambar yang dikurasi dengan cermat dari berbagai sumber di internet. Perasaan tersebut kemudian ia tuangkan ke dalam lini produk fashion dan lifestyle yang sukses dengan mengusung semangat “health is wealth”.

Fakta bahwa model AI saat ini tidak mampu menangkap perasaan atau estetika yang sama secara memuaskan menunjukkan keterbatasan AI di dunia kreatif.

Orang-orang “yang benar-benar memiliki selera baik tidak mengikuti tren, mereka yang menciptakan tren,” tulis Oberg. “Lebih dari itu, mereka menciptakan tren tanpa berusaha melakukannya, itu terjadi hanya dengan menjadi diri mereka sendiri dan menyukai apa yang mereka sukai, bukan karena algoritma atau AI yang menyuruh mereka.”

Pertanyaan kunci yang tersisa adalah apakah brand lain akan terus menganggap sentuhan manusia sepadan dengan biayanya, atau justru tetap menggunakan AI meskipun hasilnya kurang memuaskan. Persoalan ini menjadi relevan di tengah meningkatnya adopsi AI di berbagai industri, termasuk di sektor fashion dan teknologi yang semakin terintegrasi.

Sementara itu, perkembangan AI di industri fashion terus berlanjut. Beberapa perusahaan mencoba pendekatan berbeda, seperti yang terlihat pada game dengan gaya fashion unik yang memanfaatkan elemen estetika dalam pengalaman digital.

Di sisi lain, raksasa teknologi seperti Apple juga mulai terjun ke pasar kacamata pintar tanpa bantuan brand fashion, menunjukkan bahwa pendekatan terhadap estetika dan teknologi masih menjadi medan eksplorasi yang terus berkembang.

Pengalaman Oberg dengan Sporty & Rich memberikan perspektif berharga bahwa meskipun AI dapat menghemat biaya produksi secara signifikan, kualitas estetika yang dihasilkan tetap menjadi faktor pembeda yang sulit digantikan oleh teknologi. Keputusan untuk kembali menggunakan tim manusia menunjukkan bahwa dalam industri yang berbasis pada selera dan perasaan, nilai sentuhan manusia tetap tak tergantikan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.