Telset.id – Seorang pendeta asal Florida, Scott Winters, menggugat OpenAI secara hukum setelah ChatGPT diduga memberikan saran medis yang sangat berbahaya, yang hampir merenggut nyawanya. Kasus ini menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya sebuah chatbot umum dituntut secara hukum atas nasihat medis yang keliru.
Winters mengaku telah berbulan-bulan menggunakan ChatGPT untuk menanyakan keluhan pusing yang kambuh dan tekanan darah yang tidak stabil. Alih-alih menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter, chatbot tersebut justru meyakinkannya bahwa gejalanya tidak serius dan perlu dikhawatirkan. ChatGPT bahkan menyebut bahwa “pemulihan mikro berbasis kursi malas” yang ia lakukan sudah berjalan dengan baik.
Akibatnya, Winters mengikuti saran tersebut. Namun, di balik ketenangan yang disarankan chatbot, ternyata ada kondisi darurat yang mengancam jiwa: emboli paru akibat gumpalan darah di kedua paru-parunya. Dokter kemudian memberi tahu bahwa imobilitas yang justru direkomendasikan oleh ChatGPT lah yang membuatnya berada di ambang kematian.

Kejadian ini semakin aneh setelah OpenAI meluncurkan fitur memori lintas-obrolan pada tahun 2025. ChatGPT mulai menggunakan bahasa religius dalam tanggapannya, tampaknya karena mengetahui Winters adalah seorang pendeta. Pada satu titik, chatbot menyebut pemulihannya sebagai “bentuk ibadah.” Gejala yang berlangsung selama enam minggu dan dianggap sepele berubah menjadi hitungan mundur menuju krisis medis.
Winters mengajukan gugatannya di pengadilan California, menuduh OpenAI dan CEO Sam Altam melakukan kelalaian dan praktik kedokteran tanpa izin. Ia mengklaim dampak dari insiden ini membuatnya kehilangan pekerjaan, pelayanannya, dan rumahnya, selain hampir kehilangan nyawanya. Kasus ini dilaporkan menjadi yang pertama kali menyatakan bahwa chatbot serba guna harus bertanggung jawab secara hukum atas nasihat medis yang buruk. Winters menuntut ganti rugi finansial dan meminta pengadilan untuk menghentikan sementara layanan ChatGPT Health sampai terbukti aman.
Di sisi lain, OpenAI menyatakan kepada New York Times bahwa menyalahkan chatbot saja terlalu menyederhanakan keputusan kesehatan seseorang. Apapun keputusan pengadilan nantinya, kasus ini menjadi pengingat bahwa nada percaya diri dari sebuah chatbot tidak sama dengan gelar medis. Para ahli menekankan pentingnya tidak pernah menerima saran medis dari ChatGPT atau mesin pencari manapun. Yang menjadi sorotan utama bukan hanya saran medis yang diberikan, tetapi fakta bahwa ChatGPT tidak pernah menyuruhnya untuk berkonsultasi dengan dokter. Hal ini seharusnya menjadi jaring pengaman yang melekat pada semua chatbot AI.
Kasus gugatan terhadap OpenAI ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Florida. Sebelumnya, negara bagian tersebut juga menggugat TikTok terkait keamanan anak dan pelanggaran HB3. Selain itu, ada juga gugatan terhadap OpenAI dan Sam Altman atas dugaan eksploitasi pengguna. Insiden ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap keamanan dan tanggung jawab platform AI.
Kasus Scott Winters menjadi titik balik penting dalam diskusi tentang regulasi kecerdasan buatan. Ketika sebuah chatbot mampu memberikan saran yang berdampak langsung pada keselamatan jiwa, pertanyaan tentang batas tanggung jawab pengembang menjadi semakin mendesak. Apakah cukup dengan menyematkan disclaimer, ataukah diperlukan regulasi yang lebih ketat seperti halnya industri medis?
Gugatan ini juga menyoroti celah keamanan dalam desain chatbot. Fitur memori yang seharusnya membuat interaksi lebih personal, dalam kasus ini justru menjadi bumerang. Alih-alih mendeteksi bahwa pengguna sedang dalam kondisi medis darurat, AI malah memperkuat keyakinan yang salah dengan bahasa yang familiar bagi pengguna.
Untuk pengguna biasa, kasus ini menjadi pelajaran berharga. AI, secanggih apapun, tetaplah alat yang tidak memiliki lisensi medis. Informasi kesehatan yang akurat dan aman hanya bisa diperoleh dari tenaga medis profesional. Jangan biarkan kemudahan akses dan nada meyakinkan dari chatbot menggantikan penilaian klinis seorang dokter.
Ke depannya, kasus ini bisa menjadi preseden hukum yang penting. Jika pengadilan memenangkan Winters, maka perusahaan AI harus memikirkan ulang desain sistem mereka, terutama untuk fitur-fitur yang berpotensi digunakan dalam konteks kesehatan. Jaring pengaman yang memadai, seperti peringatan eksplisit untuk berkonsultasi dengan dokter, mungkin akan menjadi standar baru dalam industri ini.
Sementara itu, OpenAI terus mengembangkan teknologi mereka. Namun, insiden ini membuktikan bahwa inovasi tanpa pengawasan yang memadai bisa berakibat fatal. Tanggung jawab untuk melindungi pengguna tidak hanya terletak pada regulasi pemerintah, tetapi juga pada etika perusahaan teknologi dalam merancang produk mereka.
Bagi para pengembang AI, kasus ini menjadi peringatan keras. Algoritma harus dirancang tidak hanya untuk memberikan jawaban yang akurat, tetapi juga untuk mengenali kapan mereka tidak boleh memberikan jawaban sama sekali. Dalam konteks medis, mengatakan “Saya tidak tahu, konsultasikan dengan dokter” adalah jawaban yang lebih bertanggung jawab daripada memberikan saran yang terdengar meyakinkan tapi berbahaya.
Kasus gugatan ini juga membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana masyarakat harus menyikapi perkembangan AI. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan kemudahan luar biasa. Di sisi lain, potensi penyalahgunaan atau kesalahan yang berdampak serius harus diantisipasi dengan regulasi yang tepat dan kesadaran pengguna yang lebih baik.
Dengan segala kontroversinya, kasus Scott Winters vs. OpenAI akan menjadi salah satu ujian paling penting bagi masa depan interaksi manusia dengan kecerdasan buatan. Apakah chatbot akan tetap menjadi alat yang tidak bertanggung jawab, atau akankah mereka diatur dengan standar keamanan yang lebih ketat seperti halnya industri lainnya? Jawabannya mungkin akan ditentukan oleh keputusan pengadilan dalam waktu dekat.





Komentar
Belum ada komentar.