📑 Daftar Isi

Ilustrasi pekerja Hollywood yang melatih teknologi AI

Paradoks Hollywood: Pekerja Kreatif Kini Melatih AI demi Bertahan Hidup

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pekerja kreatif Hollywood beralih melatih AI melalui Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF) untuk bertahan hidup
  • Gabe Sena (editor) dan Steven Woolworth (eks HBO) adalah contoh pekerja yang melatih AI setelah sulit mendapat pekerjaan
  • Platform Mercor mempertemukan ahli domain dengan perusahaan AI yang membutuhkan umpan balik manusia
  • Gaji berkisar dari 16 dolar AS/jam (entry-level) hingga 150 dolar AS/jam (tugas spesialisasi)
  • Ruth Fowler alami pembatalan proyek mendadak dan manajer muda yang tidak berpengalaman
  • Lowongan AI di sektor seni hampir dua kali lipat antara 2025-2026
  • Martin Scorsese resmi bergabung dengan kubu AI, Vince Gilligan pahami kontradiksi pekerjaan ini

Telset.id – Tiga tahun setelah gelombang pemogokan tahun 2023 yang menyoroti kekhawatiran akan penggantian tenaga kerja kreatif oleh kecerdasan buatan, ironi pahit kini terjadi di Hollywood. Para penulis, editor, dan eksekutif yang dulu khawatir akan tergantikan oleh AI, kini justru bekerja melatih teknologi yang sama untuk bertahan hidup di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan di industri film dan televisi.

Fenomena ini dikenal sebagai Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF), sebuah metode untuk menyempurnakan model AI melalui umpan balik manusia. Menurut laporan dari The Hollywood Reporter, editor Gabe Sena beralih ke pekerjaan melatih AI setelah mengalami masa pengangguran yang panjang. Ia mengaku ingin memahami teknologi tersebut daripada sekadar takut terhadapnya.

Motivasi serupa diungkapkan oleh mantan eksekutif pengembangan HBO, Steven Woolworth. Ia menyebut pekerjaan ini sebagai cara untuk tetap mendapatkan informasi ketimbang “membenamkan kepala di pasir” sementara usahanya mencari kerja selama lebih dari setahun tidak membuahkan hasil.

Keduanya mendapatkan pekerjaan sampingan ini melalui platform rekrutmen bernama Mercor, yang mempertemukan para ahli di bidang tertentu dengan perusahaan AI yang membutuhkan umpan balik manusia. Tren ini sejalan dengan pola industri yang lebih luas, di mana Amazon juga mulai memanfaatkan AI untuk menekan biaya produksi film dan TV melalui studio khusus mereka.

Realitas Pahit di Balik Layar Pekerjaan Melatih AI

Pengalaman para pekerja Hollywood yang beralih menjadi pelatih AI tidak selalu mulus. Penulis skenario Ruth Fowler, melalui esainya di Wired, menggambarkan pengalaman yang jauh lebih berat. Ia menceritakan delapan bulan dan dua puluh kontrak yang ia jalani di lima platform berbeda.

Rentang gaji untuk pekerjaan ini bervariasi, mulai dari 16 dolar AS per jam untuk pekerjaan anotasi tingkat pemula, hingga 150 dolar AS per jam untuk tugas penulisan yang lebih terspesialisasi. Namun, Fowler juga mendokumentasikan sisi gelapnya: pembatalan proyek secara mendadak, perubahan tarif bayaran yang tidak menentu, dan para manajer muda yang tidak berpengalaman mengawasi pekerja yang telah berkarier puluhan tahun.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, industri RLHF terus berkembang pesat. Lowongan pekerjaan terkait AI di sektor seni hampir dua kali lipat antara tahun 2025 dan 2026. Pertumbuhan ini terjadi di tengah meningkatnya gugatan hukum terkait kesalahan klasifikasi pekerja dan jadwal kerja yang tidak stabil di seluruh industri.

Sutradara legendaris Martin Scorsese secara resmi telah bergabung dengan kubu AI, sebuah tanda seberapa jauh penerimaan alat-alat ini telah menyebar di industri hiburan. Sementara itu, kritikus AI generatif di Hollywood, seperti kreator Breaking Bad Vince Gilligan, mengaku memahami mengapa para pekerja yang kesulitan mengambil pekerjaan ini meskipun terdapat kontradiksi di dalamnya.

Bagi banyak orang di Hollywood saat ini, melatih mesin bukan lagi tentang rasa ingin tahu, melainkan tentang kemampuan untuk membayar sewa dan bertahan hidup. Studio Hollywood yang menolak distribusi film Sam Altman menjadi contoh lain dari ketegangan antara industri kreatif tradisional dan teknologi AI yang terus berkembang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.