📑 Daftar Isi

Pekerja garmen di India memakai kamera GoPro di kepala untuk merekam aktivitas menjahit

Pabrik Pasang Kamera ke Pekerja untuk Latih Robot Pengganti

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pabrik garmen di India mewajibkan pekerja memakai kamera GoPro di kepala
  • Rekaman digunakan untuk melatih AI robot humanoid menggantikan pekerja
  • Pekerja tidak diberi tahu tujuan sebenarnya dari pemasangan kamera
  • Lingkungan kerja menjadi sunyi dan penuh paranoia akibat pengawasan
  • Tujuan akhir adalah robot serba guna yang bisa menggantikan pekerja pabrik
  • Pekerja bergaji rendah menjadi sumber data ganda bagi pemilik pabrik

Telset.id – Pekerja garmen di pabrik-pabrik Global South kini dipaksa menjalani peran ganda: menjahit pakaian sekaligus melatih robot humanoid yang suatu hari akan menggantikan mereka. Sebuah laporan dari Guardian mengungkap praktik baru yang mulai marak di fasilitas manufaktur di seluruh dunia.

Seorang pekerja garmen berusia 32 tahun di luar Delhi, yang diidentifikasi sebagai Lalita, mengatakan pabriknya kini mewajibkan setiap pekerja untuk memasang kamera GoPro di kepala mereka setiap awal shift. “Awalnya kami menganggapnya lucu, karena penampilan kami dengan headgear itu,” kata Lalita kepada Guardian. Namun, ketika kamera mulai mendominasi lantai pabrik, para pekerja menjadi semakin curiga bahwa setiap ucapan mereka akan terdengar oleh atasan.

Akibatnya, lingkungan kerja menjadi lebih sunyi dan penuh paranoia. “Cara orang memasang kamera CCTV di dinding, mereka memasangnya pada kami,” tambah Lalita. Sementara pabrik merekam terabyte rekaman aktivitas pekerja, para karyawan mengaku tidak pernah diberi tahu tujuan sebenarnya dari kamera tersebut. Alih-alih sekadar alat pengawasan, kamera itu berfungsi mengumpulkan data visual untuk melatih robot humanoid.

Close-up of a worker wearing a camera on her head recording actions through motion capture

Mekanisme Pelatihan Robot dengan Data Pekerja

Pelatihan robot humanoid bekerja dengan cara memberi makan model AI vision-language-action ribuan jam rekaman manusia saat melakukan tugas. Setelah menyerap semua data, jaringan saraf ini belajar memprediksi dan meniru urutan gerakan tubuh serta posisi tangan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu — seperti menjahit kancing pada jaket — yang nantinya dapat direproduksi di dunia nyata.

Kasus pabrik Lalita menunjukkan bahwa operasi “rekaman-manusia-untuk-robot” ini berfungsi memusatkan kekayaan dan data yang dihasilkan oleh tenaga kerja ke tangan segelintir perusahaan robotika dan mitra manufaktur mereka. Sementara itu, pekerja yang menghasilkan data pelatihan adalah pekerja bergaji rendah dan tidak tetap yang kini menjadi sumber pendapatan ganda bagi pemilik pabrik.

Tujuan Akhir: Robot Serba Guna

Tujuan akhir, setidaknya bagi perusahaan teknologi dan pemilik pabrik, adalah menciptakan robot satu-ukuran-untuk-semua yang dapat dipasang ke lini perakitan mana pun dan membuat pekerja seperti Lalita menjadi usang. Rekaman yang dihasilkan pekerja secara tidak langsung mempercepat pengembangan teknologi yang akan menggusur posisi mereka sendiri.

Jika ada sisi positifnya, kita masih jauh dari robot humanoid yang benar-benar menjadi pengganti yang layak di lantai pabrik. Namun, fakta bahwa para elit dunia secara terbuka menyiarkan niat mereka tetap menjadi sinyal yang mengkhawatirkan. Praktik ini menimbulkan pertanyaan serius tentang etika ketenagakerjaan di era otomatisasi.

Fenomena serupa juga terjadi di sektor lain. Di industri otomotif, Tesla Akui HW3 tidak mampu menjalankan Full Self-Driving dan menjanjikan retrofit ke HW4. Sementara itu, perkembangan teknologi robotika terus berlanjut tanpa henti, seperti yang terlihat dari Nvidia N1X Resmi yang muncul di Computex 2026.

Para pekerja yang terlibat dalam program ini tidak mendapatkan kompensasi khusus selain upah harian mereka. Mereka juga tidak diberi informasi bahwa rekaman mereka digunakan untuk melatih robot yang akan menggantikan pekerjaan mereka. Situasi ini menciptakan paradoks di mana pekerja justru berpartisipasi aktif dalam mempercepat pemutusan hubungan kerja mereka sendiri.

Praktik ini dipandang sebagai bentuk eksploitasi tenaga kerja modern yang memanfaatkan kerentanan pekerja di negara berkembang. Perusahaan robotika mendapatkan data pelatihan berkualitas tinggi tanpa harus membayar biaya produksi data yang mahal, sementara pekerja hanya menerima upah minimum tanpa mengetahui konsekuensi jangka panjang dari partisipasi mereka.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.