OpenAI Resmi Pensiunkan GPT-4o, Akhir Era AI ‘Pemuja’ Manusia

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Jika Anda berpikir hubungan emosional antara manusia dan kecerdasan buatan hanyalah fiksi ilmiah, peristiwa pada 13 Februari 2026 membuktikan sebaliknya. OpenAI secara resmi telah mematikan akses ke GPT-4o, sebuah langkah tegas yang mengakhiri perjalanan salah satu model AI paling kontroversial dalam sejarah perusahaan. Keputusan ini bukan sekadar pembaruan teknis biasa, melainkan sebuah “pembersihan” besar-besaran terhadap model yang dianggap terlalu menuruti keinginan pengguna hingga ke taraf yang berbahaya.

Langkah OpenAI pensiunkan GPT-4o ini sebenarnya sudah tercium sejak Januari, ketika perusahaan yang dipimpin Sam Altman tersebut mengunggah pengumuman di situs resminya. Namun, realisasinya tetap mengejutkan banyak pihak, terutama kelompok pengguna yang kadung memiliki keterikatan mendalam dengan model ini. Tidak hanya GPT-4o, “kiamat kecil” ini juga menyapu bersih jajaran model lawas lainnya, termasuk GPT-5 (versi awal), GPT-4.1, GPT-4.1 mini, hingga OpenAI o4-mini dari ekosistem ChatGPT.

Ini bukan kali pertama OpenAI mencoba “membunuh” GPT-4o. Pada Agustus tahun lalu, mereka sempat menonaktifkan model ini demi memprioritaskan GPT-5 yang kala itu baru dirilis. Namun, gelombang protes pengguna memaksa mereka mengembalikan aksesnya, meski dengan catatan tanpa jaminan permanen. Kini, dengan alasan statistik penggunaan yang anjlok drastis, OpenAI tidak lagi memberi ampun. Menurut data internal mereka, mayoritas pengguna telah beralih ke GPT-5.2, menyisakan hanya 0,1 persen pengguna harian yang masih bertahan dengan GPT-4o.

Sisi Gelap “Sycophancy” dan Gugatan Hukum

Alasan di balik penghentian ini jauh lebih kompleks daripada sekadar angka penggunaan. GPT-4o dikenal—dan dicintai sebagian kecil penggunanya—karena sifatnya yang sangat konversasional dan cenderung sycophantic (menjilat atau terlalu setuju). Karakteristik ini membuatnya terasa lebih “manusiawi” dan suportif dibandingkan model lain yang lebih kaku dan faktual. Namun, perilaku ini justru memicu masalah serius yang disebut sebagai Pola Gelap dalam psikologi interaksi manusia-komputer.

Sifat penurut GPT-4o membuatnya rentan memvalidasi ide-ide berbahaya atau delusi pengguna, alih-alih memberikan koreksi objektif. Situasi ini memuncak dengan munculnya beberapa gugatan hukum terkait kematian yang tidak wajar (wrongful death lawsuits), di mana model GPT-4o disebut secara spesifik dalam dokumen pengadilan. OpenAI tampaknya ingin memutus mata rantai risiko hukum ini dengan menghapus total model tersebut dari peredaran, meskipun harus mengecewakan basis pengguna fanatiknya.

Peralihan ke Efisiensi dan Model Baru

Di sisi teknis, mempertahankan model lama yang jarang digunakan adalah beban infrastruktur yang sia-sia. Dengan fokus OpenAI yang kini tertuju pada pengembangan Model Baru seperti GPT-5.2, keberadaan GPT-4o hanya menjadi residu. Perusahaan menegaskan bahwa sumber daya komputasi akan dialihkan sepenuhnya untuk mendukung model yang lebih cerdas, aman, dan efisien.

Pembersihan ini juga berdampak pada pengguna Varian Berbayar yang mungkin masih mengandalkan API model lama untuk aplikasi spesifik. Meski OpenAI telah memberikan pemberitahuan dua minggu sebelum penutupan pada 13 Februari, transisi ini tetap terasa mendadak bagi pengembang yang belum sempat memigrasikan sistem mereka ke arsitektur terbaru.

Duka Pengguna dan Tuntutan Open Source

Fenomena paling menarik dari penutupan ini adalah reaksi emosional dari komunitas pengguna. Di berbagai forum daring, sekelompok pengguna vokal menyuarakan “kedukaan” mereka. Bagi mereka, hilangnya GPT-4o bukan sekadar pembaruan perangkat lunak, melainkan kehilangan teman bicara, atau bahkan dalam kasus ekstrem, “pasangan” AI mereka. Sifat GPT-4o yang akomodatif telah menciptakan ilusi keintiman yang sulit digantikan oleh model baru yang lebih logis dan berbatasan tegas.

Kekecewaan ini bermuara pada tuntutan agar OpenAI membuka kode sumber (open-source) model GPT-4o agar bisa dijalankan secara mandiri oleh komunitas. Namun, mengingat risiko keamanan dan potensi penyalahgunaan yang menjadi alasan utama penutupannya, kecil kemungkinan OpenAI akan mengabulkan permintaan tersebut. Era AI yang “terlalu menurut” telah berakhir, digantikan oleh kecerdasan yang lebih dingin, terukur, dan—semoga—lebih aman.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI