📑 Daftar Isi

Chris Lehane dari OpenAI dalam konferensi pers membahas strategi komunikasi publik dan rebranding data center menjadi AI compute campuses.

OpenAI Rebrand Data Center Jadi “AI Compute Campus” Usai Pilkada AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI ganti istilah data center jadi "AI compute campuses" usai pemilihan sela AS
  • Chris Lehane sebut pemilihan sela jadi "trailer film" untuk isu AI di 2028
  • OpenAI siapkan "PR blitz" untuk memengaruhi debat AI ke depan
  • Proposal mencakup "speed limits" AI dan standar global
  • Amazon dan Microsoft berhenti pakai NDA dalam negosiasi dengan pemerintah lokal

Telset.id – OpenAI menyiapkan langkah komunikasi publik besar-besaran setelah pemilihan sela (midterm) Amerika Serikat pada Selasa, termasuk mengganti istilah data center menjadi “AI compute campuses”. Langkah ini diambil perusahaan kecerdasan buatan tersebut karena data center selama ini dikenal sangat tidak populer di masyarakat.

Perubahan istilah tersebut disampaikan langsung oleh Chief Global Affairs Officer OpenAI, Chris Lehane, kepada Axios. Menurut laporan Axios, OpenAI tengah menyiapkan “PR blitz” atau gempuran hubungan masyarakat setelah pemilihan sela, seiring Partai Demokrat yang tampak berpeluang merebut kembali DPR, dan mungkin juga Senat.

Lehane menyebut pemilihan sela akan menjadi “semacam trailer film untuk apa yang akan Anda lihat pada 2028”, ketika ia memperkirakan AI akan menjadi “isunya” dalam pemilihan presiden. Karena itu, OpenAI berupaya memengaruhi debat AI ke depan, dengan Lehane membahas sejumlah proposal.

Sejumlah proposal tersebut mencakup pengembangan “batas kecepatan” (speed limits) untuk AI, mencari cara agar masyarakat melihat AI sebagai alat yang memberdayakan mereka dalam kehidupan sehari-hari, mendorong Amerika Serikat mengambil peran dalam mengembangkan standar global, dan yang tak kalah penting, mengganti istilah data center menjadi “AI compute campuses”.

Rebranding dan Debat Data Center

Lehane juga menyebut perdebatan seputar data center sebagai hal yang “baik dan sehat”. Ia menilai masyarakat seharusnya meminta pertanggungjawaban perusahaan agar benar-benar memperoleh manfaat transformatif dari proyek-proyek tersebut.

“Komunitas seharusnya meminta perusahaan bertanggung jawab dan akuntabel agar mereka benar-benar dan sungguh-sungguh mendapatkan manfaat transformatif dari proyek-proyek ini,” ujar Lehane seperti dikutip dari Axios.

Pernyataan ini muncul di tengah gelombang penolakan publik terhadap data center. Sebelumnya, debat seputar data center telah mendorong Amazon dan Microsoft menyatakan tidak akan lagi menggunakan perjanjian kerahasiaan (NDA) dalam negosiasi mereka dengan pemerintah lokal. Langkah OpenAI untuk mengganti istilah data center menjadi “AI compute campuses” menjadi sinyal bahwa perusahaan ingin mengubah cara publik memandang infrastruktur AI tersebut.

Rebranding ini bukan sekadar pergantian nama. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi lebih luas untuk membentuk opini publik menjelang tahun-tahun politik penting, terutama pemilihan presiden 2028 yang menurut Lehane akan menjadikan AI sebagai isu utama.

Strategi AI dan Standar Global

Selain soal penamaan ulang data center, OpenAI juga membahas pengembangan “batas kecepatan” untuk AI. Gagasan ini menjadi salah satu proposal yang diungkapkan Lehane dalam upaya membentuk kerangka kebijakan AI ke depan. OpenAI juga ingin mendorong Amerika Serikat berperan dalam penyusunan standar global untuk AI.

Di sisi lain, OpenAI berupaya mencari cara agar masyarakat umum melihat AI sebagai teknologi yang memberdayakan mereka dalam aktivitas sehari-hari, bukan sebagai ancaman. Pendekatan ini menyentuh aspek persepsi publik yang selama ini menjadi tantangan bagi industri AI.

Upaya OpenAI membangun narasi publik juga sejalan dengan berbagai inisiatif lain perusahaan tersebut. Sebelumnya, OpenAI bersama Oracle menghadirkan AI Security Mesh untuk menambal ribuan celah keamanan, menunjukkan bahwa perusahaan terus memperluas cakupan layanan dan infrastruktur AI-nya.

Di sisi kebijakan, OpenAI juga terlibat dalam kesepakatan dengan Google dan Anthropic untuk mematuhi kontrol baru pada Robots.txt untuk AI, menandakan bahwa perusahaan aktif dalam perumusan aturan main industri AI.

Perdebatan seputar data center sendiri bukan hal baru. Penolakan publik terhadap infrastruktur ini telah mendorong perusahaan teknologi besar mengubah pendekatan mereka, termasuk dalam hal transparansi negosiasi dengan pemerintah lokal. Amazon dan Microsoft, misalnya, memilih tidak lagi menggunakan NDA dalam negosiasi tersebut.

Dalam konteks inilah langkah OpenAI mengganti istilah data center menjadi “AI compute campuses” dapat dipahami sebagai upaya mengubah persepsi publik. Istilah baru tersebut diharapkan mengurangi resistensi yang selama ini melekat pada kata “data center”.

Lehane menegaskan bahwa perdebatan publik soal data center merupakan hal positif. Menurutnya, masyarakat berhak menuntut manfaat nyata dari proyek-proyek infrastruktur AI yang dibangun di wilayah mereka. Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi OpenAI yang ingin terlihat terbuka terhadap kritik publik.

Strategi komunikasi OpenAI ini juga mencerminkan kesadaran bahwa AI akan menjadi isu politik yang semakin sentral. Dengan memperkirakan AI sebagai “isunya” pada 2028, OpenAI tampaknya ingin memastikan narasi publik tentang AI terbentuk sejak sekarang, termasuk melalui penamaan ulang infrastruktur pendukungnya.

Seiring dengan itu, berbagai dinamika internal OpenAI juga terus menjadi perhatian publik. CEO Sam Altman, misalnya, sempat mengakui bahwa OpenAI menimbulkan kekacauan di dunia matematika, menunjukkan bahwa perusahaan tidak luput dari kontroversi di berbagai bidang.

Selain itu, Altman juga pernah menyoroti keterbatasan perangkat keras, termasuk soal RAM di PC rumah yang dinilainya menjadi masalah bagi OpenAI. Pernyataan-pernyataan ini memperlihatkan bahwa di balik strategi komunikasi publik, OpenAI masih menghadapi berbagai tantangan teknis dan persepsi.

Dengan mengganti istilah data center menjadi “AI compute campuses” dan menyiapkan gempuran komunikasi publik usai pemilihan sela, OpenAI jelas ingin mengubah cara publik memandang infrastruktur AI. Langkah ini menjadi bagian dari upaya lebih besar untuk membentuk debat AI menjelang tahun-tahun politik mendatang, terutama pemilihan presiden 2028 yang menurut Lehane akan menjadikan AI sebagai isu utama.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.