Pernahkah Anda membayangkan memiliki asisten digital yang tidak hanya pandai menjawab pertanyaan, tetapi benar-benar mampu “bergerilya” di dalam aplikasi favorit Anda untuk menyelesaikan tugas nyata? Bayangkan sebuah kecerdasan buatan yang bisa membalas pesan WhatsApp mendesak, mengatur playlist Spotify sesuai suasana hati, hingga membersihkan kotak masuk email yang berantakan, semua tanpa Anda perlu mengangkat jari sedikit pun. Ini bukan lagi sekadar angan-angan fiksi ilmiah, melainkan realitas baru yang sedang dibentuk oleh para raksasa teknologi dunia.
Baru-baru ini, Sam Altman selaku CEO OpenAI mengumumkan langkah strategis yang mengguncang industri kecerdasan buatan. OpenAI resmi “menyerap” OpenClaw, sebuah proyek yang memungkinkan pengguna menciptakan agen AI mereka sendiri, dengan merekrut pengembang utamanya, Peter Steinberger. Langkah ini menandai babak baru dalam ambisi OpenAI untuk menghadirkan era AI personal yang lebih canggih dan terintegrasi langsung dengan kehidupan sehari-hari penggunanya.
Pengumuman ini datang di tengah memanasnya persaingan teknologi agen otonom. Steinberger, yang kini bergabung dengan OpenAI, memiliki misi khusus untuk memimpin pengembangan generasi berikutnya dari agen personal. Namun, di balik rekrutmen ini, terdapat kisah menarik tentang perebutan talenta, tawaran miliaran dolar yang ditolak, dan visi besar tentang masa depan di mana berbagai agen cerdas akan saling berinteraksi untuk melayani kebutuhan manusia.
Menolak Miliaran Dolar demi Visi
Keputusan Peter Steinberger untuk bergabung dengan OpenAI bukanlah langkah yang diambil karena ketiadaan pilihan. Sebaliknya, ia justru menjadi “rebutan” dua raksasa teknologi terbesar saat ini. Menurut laporan dari Implicator.AI, Steinberger juga sedang dalam pembicaraan serius dengan Meta sebelum akhirnya memilih berlabuh ke OpenAI. Kabarnya, kedua perusahaan tersebut mengajukan penawaran yang nilainya mencapai “miliaran”, sebuah angka fantastis yang menunjukkan betapa berharganya teknologi yang ia kembangkan.
Namun, bagi Steinberger, uang bukanlah motivasi utamanya. Dalam pernyataan di blog pribadinya, ia menegaskan bahwa tujuannya adalah mengubah dunia, bukan sekadar membangun perusahaan besar. Ia melihat kolaborasi dengan OpenAI sebagai jalur tercepat untuk membawa teknologi agen ini kepada semua orang. Daya tarik utama OpenClaw sebenarnya bukan hanya pada basis kodenya, melainkan pada popularitasnya yang luar biasa dengan 196.000 bintang di GitHub dan dua juta pengunjung mingguan, angka yang membuktikan betapa tingginya minat publik terhadap otomatisasi personal.
Baca Juga:
Transformasi dari Clawdbot ke OpenClaw
Sebelum dikenal luas sebagai OpenClaw, proyek ini sempat bernama “Clawdbot”. Perubahan nama ini terjadi setelah adanya intervensi dari Anthropic, perusahaan di balik Claude AI, yang memaksa pergantian nama karena kemiripan branding dengan produk mereka. Meski berganti nama, reputasi OpenClaw justru semakin melesat. Dalam beberapa minggu terakhir, platform ini menjadi buah bibir berkat kemampuan multifasetnya dalam menjalankan berbagai tugas digital.
Para pengguna, yang sering disebut sebagai “vibe coders”, memanfaatkan OpenClaw untuk menciptakan agen yang mampu menulis kode, melakukan belanja online, hingga pekerjaan asisten lainnya secara otomatis. Di situs resminya, OpenClaw dengan bangga memamerkan kemampuannya berinteraksi dengan aplikasi populer seperti Discord, Slack, iMessage, Hue, dan tentu saja Spotify. Fleksibilitas inilah yang sering membuat OpenClaw disandingkan dengan Claude Code dalam hal kemampuan mengotomatisasi pengembangan situs web dan tugas pemrograman lainnya.
Masa Depan Multi-Agent yang Terbuka
Sam Altman sendiri menegaskan bahwa masa depan teknologi akan sangat bergantung pada konsep “multi-agent”. Ia percaya bahwa sangat penting untuk mendukung ekosistem open source sebagai bagian dari evolusi ini. Sesuai dengan visi tersebut, OpenClaw tidak akan ditutup atau diubah menjadi produk eksklusif tertutup. Proyek ini akan dipindahkan ke sebuah yayasan (foundation) dan tetap berstatus open source serta independen, meskipun didukung penuh oleh OpenAI.
Steinberger digambarkan oleh Altman sebagai sosok jenius dengan banyak ide luar biasa tentang masa depan di mana agen AI yang sangat cerdas akan saling berinteraksi untuk melakukan hal-hal berguna bagi manusia. Dengan bergabungnya Steinberger, OpenAI tampaknya ingin mempercepat realisasi visi tersebut, memastikan bahwa kecerdasan buatan tidak hanya menjadi chatbot pasif, melainkan mitra aktif yang mampu menavigasi dunia digital yang semakin kompleks demi kenyamanan Anda.

