šŸ“‘ Daftar Isi

Pusat data Google baru sedang dalam tahap pembangunan

NVIDIA, Google, Emerald AI Bentuk Koalisi AI Energy Management Alliance

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø5 menit membaca
Bagikan:
  • NVIDIA, Google, dan Emerald AI membentuk koalisi AI Energy Management Alliance (AEMA)
  • AEMA mendorong pusat data AI fleksibel yang tidak mengganggu jaringan listrik
  • Koalisi meminta operator utilitas mempercepat koneksi pusat data sebagai imbal balik
  • Jaringan listrik AS hanya terutilisasi 50 persen, berpotensi membuka 100GW
  • Usulan mencakup baterai, pembangkit di lokasi, dan perangkat lunak pengalih beban komputasi
  • AEMA juga berperan sebagai lengan lobi di tingkat negara bagian dan Washington
  • Isu polusi dan gangguan komunitas belum ditangani koalisi ini

Telset.id – NVIDIA, Google, dan Emerald AI meluncurkan koalisi baru bernama AI Energy Management Alliance (AEMA), sebuah inisiatif yang menargetkan pusat data AI lebih fleksibel agar tidak mengganggu jaringan listrik. Sebagai imbalannya, koalisi ini meminta operator utilitas untuk mempercepat koneksi pusat data ke jaringan listrik. Langkah ini menjadi respons industri terhadap tekanan publik yang meningkat terhadap konsumsi daya pusat data AI di Amerika Serikat.

Koalisi AI Energy Management Alliance (AEMA) bertujuan mendorong pusat data AI yang lebih fleksibel, yang tidak mengganggu jaringan listrik dan tidak menuntut peningkatan infrastruktur besar-besaran yang dibiayai pembayar pajak. Dalam pertukaran tersebut, koalisi ingin operator utilitas menghubungkan pusat data mereka lebih cepat. Inisiatif ini melibatkan tiga entitas utama, yaitu NVIDIA, Google, dan Emerald AI, sebuah startup yang berfokus membuat pusat data lebih fleksibel.

Dalam blog resminya, NVIDIA menjelaskan bahwa infrastruktur kelistrikan Amerika Serikat dibangun untuk permintaan listrik yang ā€œdatar dan statisā€, bukan untuk pusat komputasi yang mampu memoderasi penggunaan daya. Karena itu, perusahaan-perusahaan tersebut ingin menetapkan standar bagi pusat data fleksibel yang dapat mengalihkan beban kerja komputasi, melepaskan penyimpanan energi, dan merespons kontingensi sistem. Tujuannya, menjadikan pusat data sebagai ā€œsumber daya yang dapat dikendalikan, bukan beban yang tidak fleksibelā€.

Emerald AI menjelaskan tujuan koalisi ini dalam artikel Fortune. CEO Emerald AI, Varun Sivaram, menulis bahwa pusat data baru di Amerika Serikat bisa menunggu satu dekade atau lebih untuk mendapatkan koneksi jaringan listrik. Penyebabnya, utilitas perlu memastikan kapasitas cukup untuk melayani semua orang saat permintaan tertinggi, ā€œtermasuk pada sore yang terik ketika pendingin udara bekerja penuhā€.

Pada saat yang sama, jaringan listrik hanya terutilisasi rata-rata 50 persen. Menurut Sivaram, jika pusat data AI bersifat fleksibel selama jam-jam terburuk jaringan listrik sepanjang tahun, Amerika Serikat dapat membuka 100GW pada jaringan listrik yang ada untuk pusat data fleksibel. Data ini menjadi dasar utama koalisi dalam mengajukan prinsip-prinsip pengelolaan energi yang lebih adaptif.

Prinsip Fleksibilitas dan Standarisasi Teknis

AEMA mengusulkan sejumlah prinsip, termasuk menetapkan aturan jelas bagi fasilitas terkait tetap terhubung selama gangguan jaringan listrik singkat, mengurangi penggunaan daya saat dibutuhkan, dan merespons keadaan darurat. Persyaratan teknis, metrik performa, serta berbagi data operasional juga akan distandardisasi. Sebagai timbal balik, operator jaringan listrik akan menghubungkan pusat data ke jaringan lebih cepat dan berpotensi berbagi biaya.

Beberapa teknologi yang diusulkan kelompok ini mencakup baterai yang menjaga fasilitas melewati puncak beban, pembangkit listrik di lokasi untuk mendukung permintaan, serta perangkat lunak yang dapat ā€œmemperlambat, menjeda, atau mengalihkan komputasi yang kurang mendesakā€. Pendekatan ini menempatkan pusat data sebagai entitas yang bisa menyesuaikan konsumsi dayanya secara real-time sesuai kondisi jaringan.

Koalisi ini kemungkinan merupakan respons terhadap gelombang penolakan publik yang besar terhadap pusat data AI. Para politisi mulai menyadari bahwa isu ini bisa memengaruhi elektabilitas mereka di masa depan. Namun, AEMA tidak benar-benar menangani polusi masif yang dihasilkan pusat data akibat kebutuhan energinya, juga tidak menangani kebisingan dan gangguan umum terhadap komunitas sekitar. Sebaliknya, koalisi ini ingin memastikan pusat data terhubung lebih cepat, dengan imbalan mengurangi beban terhadap jaringan listrik regional.

Langkah ini juga menjadikan AEMA sebagai lengan lobi bagi perusahaan teknologi besar. Sivaram menegaskan bahwa AEMA akan memperjuangkan kasus ini di ibu kota negara bagian dan di Washington. ā€œPermintaan kami kepada para gubernur, regulator, dan pembuat kebijakan federal sederhana: tawarkan koneksi jaringan listrik yang lebih cepat dan lebih besar kepada pusat data yang berkomitmen pada fleksibilitas, dan tuntut mereka memenuhinya,ā€ tulis Sivaram.

Meskipun demikian, mengingat kemarahan publik saat ini terhadap pusat data AI, masyarakat mungkin tidak melihatnya dengan cara yang sama. Koalisi ini berupaya menyeimbangkan percepatan koneksi pusat data dengan pengurangan gangguan terhadap jaringan listrik regional, tetapi kritik terhadap dampak lingkungan dan sosial pusat data AI tetap menjadi isu yang belum tersentuh oleh inisiatif ini.

Dampak bagi Industri Pusat Data AI

Inisiatif AEMA menyoroti ketegangan antara pertumbuhan pesat pusat data AI dan keterbatasan infrastruktur kelistrikan yang ada. Dengan mengusulkan standar fleksibilitas, koalisi ini berharap dapat mempercepat koneksi pusat data tanpa memerlukan pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dibiayai publik. NVIDIA, Google, dan Emerald AI menempatkan diri sebagai pihak yang menawarkan solusi teknis, sekaligus mendorong perubahan kebijakan di tingkat negara bagian dan federal.

Bagi industri, usulan ini berpotensi mengubah cara pusat data beroperasi, dari konsumen daya yang kaku menjadi sumber daya yang dapat dikendalikan. Teknologi seperti penyimpanan baterai, pembangkit di lokasi, dan perangkat lunak pengalih beban komputasi menjadi komponen kunci dalam visi tersebut. Namun, tanpa penanganan isu polusi dan gangguan komunitas, penerimaan publik terhadap pendekatan ini masih menjadi pertanyaan terbuka.

Perkembangan koalisi ini juga menandai bagaimana perusahaan teknologi besar semakin aktif terlibat dalam kebijakan energi. Langkah AEMA untuk melobi pemerintah negara bagian dan federal menunjukkan bahwa percepatan koneksi jaringan listrik kini menjadi prioritas strategis bagi industri AI. Seiring pertumbuhan kebutuhan komputasi AI, tekanan untuk menemukan keseimbangan antara ekspansi dan keberlanjutan jaringan listrik akan semakin besar.

Sejumlah artikel terkait juga menyoroti dinamika industri ini, termasuk langkah Apple dan Nvidia di sektor server, serta persoalan klaim garansi RTX 5090 yang sempat mencuat. Selain itu, kehadiran Perplexity di PC RTX menunjukkan ekosistem Nvidia yang terus meluas di berbagai perangkat.

Dengan peluncuran AEMA, NVIDIA, Google, dan Emerald AI menempatkan fleksibilitas pusat data sebagai syarat utama untuk mempercepat koneksi jaringan listrik. Koalisi ini menawarkan kerangka kerja yang mencakup standar teknis, metrik performa, dan berbagi data operasional. Namun, keberhasilan inisiatif ini akan bergantung pada respons regulator dan penerimaan publik, terutama di tengah kekhawatiran yang masih berlangsung terkait dampak lingkungan dan sosial pusat data AI.

A new Google data center under construction

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.