Kylian Mbappé pemain Prancis mengenakan jersey Nike Piala Dunia 2026 dengan desain bahu yang menggelembung tidak wajar.

Nike Hadapi Kritik Keras Atas Desain Jersey Piala Dunia 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Nike menghadapi gelombang kritik dari penggemar sepak bola global setelah seragam resmi Piala Dunia FIFA 2026 yang mereka produksi untuk beberapa tim nasional terlihat cacat desain, dengan bagian bahu yang menggelembung tidak wajar. Jersey yang diduga melibatkan elemen AI dalam proses desainnya ini telah dipakai pemain bintang seperti Kylian MbappĂ© (Prancis) dan dijual kepada publik dengan harga hingga $200.

Masalah estetika ini pertama kali disorot oleh penggemar yang tajam dan dilaporkan oleh The Guardian. Pada pertandingan persahabatan internasional baru-baru ini, jersey tim seperti Prancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Uruguay menunjukkan siluet yang aneh. Bagian jahitan bahu terlihat menonjol dan berkerut, seolah-olah kain berkumpul di area tersebut, mengaburkan bentuk fisik atlet yang sebenarnya fit.

Uruguay disebut-sebut menjadi yang paling parah terpengaruh. Kapten mereka, Federico Valverde, terlihat mengenakan jersey yang seolah-olah tiga ukuran lebih kecil saat melawan Inggris, akibat distorsi visual dari desain bahu yang bermasalah. Kejadian ini memunculkan pertanyaan besar mengapa kegagalan seperti ini bisa terjadi pada Nike, yang telah memproduksi kit untuk tim-tim nasional terkemuka selama beberapa dekade.

Jersey Piala Dunia Nike dengan desain bahu yang menggelembung tidak wajar, dipakai oleh pemain Prancis Kylian Mbappé.

Nike sendiri telah mempromosikan teknologi “Aero-FIT” pada jersey edisi khusus Piala Dunia 2026 ini. Menurut klaim pemasaran, desain ini dimaksudkan untuk membantu atlet tetap dingin selama turnamen yang diprediksi akan sangat panas. Teknologi tersebut disebut-sebut “memanfaatkan desain komputasi dan proses rajutan khusus yang sangat spesifik pada setiap jahitan”.

Istilah “desain komputasi” yang digunakan Nike dianggap banyak pihak sebagai bentuk lain dari kecerdasan buatan. Sebuah sumber yang familiar dengan proses desain mengonfirmasi kepada The Guardian bahwa elemen AI memang digunakan untuk bekerja bersama desainer manusia. Hal ini meningkatkan kemungkinan bahwa alat AI terlibat dalam kesalahan desain yang sekarang menjadi sorotan.

Dalam pernyataan resmi kepada The Guardian, Nike mengakui adanya masalah pada bagian bahu jersey tersebut. Seorang juru bicara Nike menyatakan, “Selama jeda internasional baru-baru ini, kami mengamati masalah minor pada kit tim nasional Nike, paling terlihat di sekitar jahitan bahu.” Mereka menambahkan, “Kinerja tidak terpengaruh, tetapi estetika keseluruhan tidak berada di tempat yang seharusnya.”

Masalah ini tidak hanya dialami atlet. Ribuan penggemar yang telah membeli jersey replica dengan harga premium juga mengeluhkan kualitasnya. Di platform media sosial dan forum seperti Reddit, banyak pembeli yang marah. Salah satu pengguna Reddit mengeluh, “Cara bahunya dijahit membuatnya mengerut seperti ini tidak peduli apa pun yang dilakukan. Ini desain yang bodoh, BODOH.”

Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di tiga negara Amerika Utara hanya tinggal beberapa bulan lagi, jutaan jersey ini kemungkinan telah terjual kepada penggemar atau didistribusikan ke tim nasional. Pertanyaan besar sekarang adalah apakah Nike dapat atau akan mendesain ulang kit tersebut tepat waktu, mengingat skala produksi dan logistik yang masif.

Insiden jersey Nike ini menambah daftar kontroversi yang menyelimuti persiapan Piala Dunia 2026. Sebelumnya, FIFA dikritik karena harga tiket yang dinilai terlalu tinggi, serta ancaman dari mantan Presiden AS Donald Trump untuk mengerahkan agen ICE di kota dan stadion penyelenggara. Kekacauan di bandara AS akibat pengunduran diri massal pekerja TSA juga memperkeruh situasi.

Hingga saat ini, Nike belum memberikan penjelasan rinci tentang bagaimana kesalahan desain bahu ini bisa terjadi, atau langkah konkret apa yang akan diambil untuk memperbaikinya. Respons perusahaan yang lebih fokus pada “kinerja” daripada estetika justru memicu kritik lebih lanjut dari komunitas sepak bola yang menilai seragam tim nasional juga memiliki nilai simbolis dan kebanggaan yang tinggi.