šŸ“‘ Daftar Isi

Netflix Pakai AI untuk VFX di The Eternaut, Efisiensi atau Ancaman?

Netflix Pakai AI untuk VFX di The Eternaut, Efisiensi atau Ancaman?

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø2 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Jika Anda mengira penggunaan AI dalam industri hiburan masih sebatas eksperimen, pikirkan lagi. Netflix baru saja mengungkap fakta mengejutkan: mereka menggunakan generative AI untuk menciptakan efek visual (VFX) dalam serial orisinal Argentina, The Eternaut, yang dirilis April 2025. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh co-CEO Ted Sarandos dalam laporan keuangan perusahaan, membuka babak baru dalam perdebatan tentang peran AI di dunia kreatif.

Sarandos menjelaskan, tim produksi membutuhkan adegan gedung runtuh di Buenos Aires. Alih-alih menyewa studio VFX tradisional, Netflix memilih solusi berbasis AI. ā€œDengan alat bertenaga AI, mereka mencapai hasil luar biasa dalam waktu singkat,ā€ ujarnya. Menurutnya, proses tersebut 10 kali lebih cepat dibanding metode konvensional—sebuah efisiensi yang ā€œtidak mungkin tercapai dengan anggaran terbatas.ā€

Adegan gedung runtuh di The Eternaut hasil generative AI

Prototipe Masa Depan atau Langkah Kontroversial?

Netflix menyebut ini sebagai ā€œfootage final berbasis AI pertamaā€ di konten orisinal mereka. Namun, di balik klaim inovasi, terselip pertanyaan kritis: apakah keputusan ini murni untuk kreativitas, atau sekadar menghemat biaya? Industri hiburan sendiri masih panas membahas isu AI. Pemogokan SAG-AFTRA baru-baru ini, misalnya, menjadikan perlindungan dari AI sebagai tuntutan utama. Bahkan film nominasi Oscar The Brutalist sempat dikritik karena menggunakan AI pada 2024.

Lebih dari itu, legalitas pelatihan model AI dengan materi berhak cipta masih abu-abu. Netflix justru berencana memperluas penggunaan AI, termasuk untuk iklan di layanan berlangganan beriklan mereka dan fitur pencarian berbasis model OpenAI. Langkah ini bisa menjadi preseden—apakah AI akan menjadi alat pendukung, atau justru menggeser peran manusia?

Baca Juga:

Dilema Kreator vs Teknologi

Kasus The Eternaut menggarisbawahi dilema abadi: teknologi kerap hadir sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, AI memungkinkan produksi konten dengan anggaran terbatas. Di sisi lain, ada kekhawatiran valid tentang masa depan pekerja kreatif. Seperti dikatakan seorang seniman VFX yang enggan disebutkan namanya, ā€œIni bukan tentang menolak kemajuan, tapi memastikan AI tidak menjadi alat untuk mengeksploitasi.ā€

Sementara Netflix belum merinci tools spesifik yang digunakan, langkah mereka bisa memicu tren. Apalagi, raksasa seperti Elon Musk lewat xAI juga mulai merambah konten hiburan. Pertanyaannya kini: bisakah industri menemukan titik temu antara inovasi dan keberlanjutan kreativitas manusia?