Potret aktor Gene Wilder sebagai Willy Wonka dalam film tahun 1971

Netflix Gunakan AI Tiru Suara Gene Wilder untuk Acara Baru, Fans Marah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Netflix menggunakan AI untuk meniru suara mendiang aktor Gene Wilder di acara kompetisi "Wonka’s The Golden Ticket"
  • Langkah ini menuai kemarahan luas dari penggemar yang menyebutnya tidak etis dan tidak menghormati almarhum
  • Istri Gene Wilder, Karen Wilder, justru menyetujui penggunaan suara tersebut dan mengaku senang
  • Acara ini juga dikritik karena desain set yang buruk dan dibandingkan dengan bencana acara "Willy’s Chocolate Experience" tahun 2024
  • Wilder bukan satu-satunya selebritas yang suaranya dikloning AI; Stan Lee, Anthony Bourdain, dan Ian Holm juga pernah mengalami hal serupa
  • Aktor Tom Hanks juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa Disney bisa menggunakan AI untuk menggantikan suaranya di film Toy Story

Telset.id – Netflix kembali memicu kontroversi besar setelah menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meniru suara mendiang aktor legendaris Gene Wilder dalam acara kompetisi terbaru mereka. Langkah ini langsung menuai kemarahan luas dari para penggemar yang menilai tindakan tersebut tidak etis dan tidak menghormati almarhum.

Raksasa streaming itu baru saja merilis trailer untuk acara bertajuk Wonka’s The Golden Ticket, sebuah kompetisi bertema pabrik cokelat Willy Wonka. Dalam trailer tersebut, suara Gene Wilder yang telah meninggal dunia pada 2016 lalu di usia 83 tahun karena komplikasi penyakit Alzheimer, dihidupkan kembali menggunakan teknologi AI tanpa persetujuan pribadi sang aktor. Teknologi untuk melakukan hal tersebut bahkan belum ada saat ia masih hidup.

Keputusan Netflix ini langsung disambut gelombang kritik pedas dari warganet. Banyak yang menyebut penggunaan AI untuk meniru suara mendiang sebagai tindakan yang “menjijikkan” dan “ide yang sangat buruk.” Beberapa pengguna media sosial bahkan menyerukan agar acara tersebut dibatalkan. “Saya harap ini dibatalkan. Berhenti menggunakan AI,” cuit salah satu pengguna di platform X.

Kemarahan ini bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Industri hiburan memang telah lama berupaya meraup keuntungan dari selebritas yang telah meninggal, seringkali dengan izin dari pihak keluarga. Namun, kasus Wilder ini menjadi contoh terbaru dari reaksi balik publik yang semakin kuat terhadap penggunaan AI di industri kreatif.

Menariknya, istri Gene Wilder, Karen Wilder, justru menyetujui penggunaan suara suaminya untuk acara tersebut. Ia mengaku “senang” dengan serial yang “merayakan imajinasi” sang aktor. Namun, persetujuan dari pihak keluarga tidak serta merta meredam amarah publik yang menganggap tindakan ini tetap tidak pantas tanpa persetujuan langsung dari yang bersangkutan.

Acara game show kontroversial Netflix ini akan menantang para kontestan untuk mengikuti “serangkaian godaan dan tantangan Wonka” demi memenangkan hadiah utama, yang kemungkinan besar adalah Golden Ticket ikonik. Dalam trailer, suara Wilder yang diciptakan ulang oleh AI berkata, “Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, saya membuka pabrik cokelat kesayangan saya.”

Netflix bukanlah pihak pertama yang melakukan hal ini. Wilder hanyalah salah satu dari sekian banyak selebritas yang suaranya dikloning menggunakan AI. Sebelumnya, suara ikon komik Stan Lee yang wafat pada 2018, juga dikloning oleh perusahaan AI ElevenLabs untuk program “Stan Lee Book Club of the Month.” Perusahaan yang sama juga membantu menghidupkan kembali suara Wilder.

Tokoh terkenal lainnya seperti pembawa acara dan penulis legendaris Anthony Bourdain, serta aktor Ian Holm yang dikenal lewat film Alien, juga pernah mengalami hal serupa. Suara mereka dikloning tanpa izin eksplisit dari mereka saat masih hidup. Hal ini menunjukkan bahwa praktik tersebut semakin marak dan menimbulkan pertanyaan serius tentang etika dan hak digital seorang seniman.

Kekhawatiran ini bahkan dirasakan oleh aktor yang masih hidup. Baru-baru ini, aktor kenamaan Tom Hanks mengungkapkan ketakutannya kepada Entertainment Weekly bahwa Disney suatu hari nanti dapat menggunakan AI untuk menggantikan suaranya di installment mendatang franchise Toy Story. Ini adalah bukti bahwa ancaman AI terhadap profesi aktor sangat nyata dan dirasakan langsung oleh para pelaku industri.

Selain masalah etika penggunaan suara, trailer acara Netflix ini juga menuai kritik karena desain set yang dinilai tidak orisinal. Banyak warganet yang membandingkannya dengan bencana acara bertema Willy Wonka di Glasgow pada tahun 2024, yang dikenal dengan sebutan Willy’s Chocolate Experience. Acara yang disebut-sebut sebagai “pengalaman imersif” tersebut ternyata sangat mengecewakan hingga anak-anak menangis dan orang tua mereka memanggil polisi.

“Mungkin pengalaman Wonka itu lebih baik dari ini (bukan berarti itu bagus),” tulis seorang warganet sinis menanggapi berita terbaru ini. Perbandingan dengan acara yang menjadi meme internet itu semakin memperburuk citra Netflix di mata publik.

Kontroversi yang melanda Netflix ini mengingatkan kita pada berbagai kasus serupa di industri hiburan. Beberapa waktu lalu, kemitraan antara A24 dan Google juga menuai kemarahan fans karena dianggap terlalu dekat dengan perusahaan teknologi raksasa. Hal serupa terjadi ketika fans kecewa dengan langkah investasi Google di A24. Bahkan, Apple pun dikabarkan ikut-ikutan membuat perangkat AI yang dianggap aneh oleh para penggemarnya. Semua ini menunjukkan bahwa hubungan antara perusahaan teknologi, studio film, dan basis penggemar sedang berada dalam titik rawan.

Di sisi lain, tidak semua kabar terkait AI dan hiburan bernada negatif. Misalnya, pembaruan terbaru untuk NVIDIA Shield TV justru disambut baik oleh para penggemar yang merasa lega perangkat lawas mereka masih mendapat dukungan.

Penggunaan AI untuk meniru suara mendiang Gene Wilder oleh Netflix jelas merupakan langkah yang kontroversial. Meskipun sudah mendapat restu dari pihak keluarga, publik menilai tindakan ini tetap tidak etis karena tidak menghormati hak individual sang aktor. Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa di era digital, izin dan persetujuan dari individu yang masih hidup menjadi semakin krusial, terutama ketika teknologi sudah mampu meniru identitas seseorang secara persis.

Kritik terhadap desain set yang buruk dan perbandingan dengan acara Willy’s Chocolate Experience yang gagal total menunjukkan bahwa Netflix mungkin tidak melakukan riset yang cukup sebelum meluncurkan proyek ini. Alih-alih menciptakan nostalgia yang positif, mereka justru memicu kemarahan dan cemoohan dari para penggemar setia film klasik Willy Wonka & the Chocolate Factory.

Ke depannya, kasus ini bisa menjadi preseden penting dalam regulasi penggunaan AI di industri hiburan. Pertanyaan tentang siapa yang berhak memberikan izin atas data digital seseorang setelah meninggal, dan bagaimana batasan etisnya, perlu segera dijawab. Jika tidak, kita akan terus menyaksikan fenomena “kebangkitan” selebritas secara artifisial yang justru merusak warisan dan kenangan indah yang mereka tinggalkan.

Keputusan Netflix untuk tetap melanjutkan acara ini di tengah badai kritik akan menjadi ujian besar. Apakah mereka akan mendengarkan suara para penggemar dan membatalkan proyek tersebut, atau tetap ngotot dengan alasan sudah mendapatkan izin dari pihak keluarga? Yang jelas, gelombang penolakan terhadap penggunaan AI yang tidak etis semakin kuat dan sulit untuk diabaikan.

Dengan maraknya kasus serupa, mulai dari kloning suara Stan Lee hingga kekhawatiran Tom Hanks, sudah saatnya industri hiburan dan perusahaan teknologi duduk bersama untuk merumuskan pedoman etis yang jelas. Tanpa adanya regulasi yang tegas, kita mungkin akan melihat lebih banyak lagi kontroversi serupa di masa depan, yang pada akhirnya hanya akan merugikan semua pihak, termasuk para penggemar yang merasa warisan idola mereka dinodai.

Netflix sendiri belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai kontroversi ini. Namun, tekanan dari publik terus meningkat. Waktu akan membuktikan apakah raksasa streaming ini akan bertahan dengan keputusannya atau justru mundur untuk menyelamatkan reputasi mereka di mata para pelanggan setianya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.