Ilustrasi dokter manusia berhadapan dengan sistem AI diagnosis Microsoft MAI-DxO

Microsoft Klaim AI MAI-DxO Kalahkan Akurasi Diagnosis Dokter Manusia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Microsoft klaim MAI-DxO dua kali lebih akurat dari dokter umum
  • Akurasi 83,2 persen vs 36,1 persen pada 304 kasus NEJM
  • Akurasi 80,3 persen vs 46,8 persen pada 325 kasus MIMIC-IV-ED
  • Biaya pemeriksaan AI setengah hingga sepertiga lebih murah
  • Uji dilakukan di benchmark terkontrol, simulasi pasien oleh AI
  • Mustafa Suleyman sebut era AI di layanan kesehatan telah tiba

Telset.id – Microsoft mengklaim model AI medisnya, Microsoft AI Diagnostic Orchestrator (MAI-DxO), lebih dari dua kali lebih akurat dibanding dokter umum dalam mendiagnosis pasien. Klaim ini berdasar studi peer-review yang diterbitkan di jurnal Science, dan menjadi sinyal bahwa Microsoft serius menggarap pasar layanan kesehatan berbasis kecerdasan artifisial.

Temuan utama studi tersebut cukup mencolok. Pada 304 kasus clinicopathological conference dari New England Journal of Medicine, MAI-DxO mencatat akurasi diagnosis 83,2 persen, sementara dokter umum yang memeriksa kasus sama hanya 36,1 persen meski diizinkan melihat materi referensi. Untuk 325 kasus pasien dari ruang gawat darurat hingga rawat inap dari basis data MIMIC-IV-ED, AI Microsoft meraih akurasi 80,3 persen, sedangkan dokter manusia 46,8 persen.

Yang membedakan studi ini dari riset sebelumnya adalah cara pengujiannya. MAI-DxO tidak langsung diberi daftar gejala lengkap. Model harus bekerja secara berurutan layaknya dokter sungguhan: menerima keluhan awal pasien, menyusun diagnosis kerja, memilih pertanyaan lanjutan, lalu menentukan pemeriksaan apa yang perlu dilakukan dengan mempertimbangkan biaya. Pendekatan ini disebut para penulis studi sebagai hal yang belum diuji dalam riset diagnosis sebelumnya, yang umumnya memberi seluruh data kasus dalam satu prompt.

A photo shows an older doctor looking thoughtful.

Selain akurasi, Microsoft juga menyoroti efisiensi biaya. Menurut blog resmi perusahaan, MAI-DxO mampu mencapai diagnosis dengan biaya setengah hingga sepertiga lebih murah dibanding dokter manusia, diukur dari estimasi biaya pemeriksaan yang dipesan untuk sampai pada kesimpulan.

CEO AI lab Microsoft Mustafa Suleyman menyambut hasil ini dengan nada optimistis. Ia menyebut era AI yang meningkatkan kualitas hidup lewat layanan kesehatan “akhirnya tiba”, dan menyatakan kemajuan lanjutan akan segera menyusul. “Tahun depan kita akan melihat penerapan sistem cerdas yang sangat impresif di lingkungan produksi,” kata Suleyman kepada The Verge. “Saya pikir ini akan mengubah cara layanan kesehatan diberikan secara besar-besaran.”

Meski begitu, hasil studi ini tetap perlu dibaca dengan catatan. Pengujian dilakukan dalam kerangka benchmark terkontrol, sehingga kegunaannya di lingkungan medis sesungguhnya masih menjadi perdebatan. Studi ini juga hanya bisa menyimulasikan dialog bolak-balik antara dokter dan pasien secara tidak sempurna, lewat mekanisme “gatekeeper agent” yang memediasi semua permintaan informasi dari rekam kasus di baliknya. Dengan kata lain, ini adalah AI yang mendiagnosis pasien yang diperankan oleh AI pula.

Kritik lain yang wajar muncul: model AI memang kuat dalam menganalisis dan menyintesis informasi, tetapi berkas kasus yang rapi dan sangat rinci itu disusun lebih dulu oleh dokter manusia. Pekerjaan tersulit dalam praktik medis, seperti membuat pasien terbuka soal keluhannya dan menggali hal-hal yang mungkin dianggap sepele, belum sepenuhnya terwakili dalam simulasi ini.

Dari sisi ekosistem, langkah Microsoft di ranah AI medis sejalan dengan ambisi perusahaan memperluas pemanfaatan AI ke sektor-sektor kritis. Sebelumnya, perusahaan juga aktif menangani persoalan keamanan siber lewat jaringan phishing global yang berhasil dibongkar dan dihentikan. Upaya serupa juga terlihat dari langkah pembekuan YAM Store yang merugikan 150 negara.

Bagi pengguna layanan kesehatan, klaim akurasi MAI-DxO memang menarik, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga medis. Studi ini menunjukkan potensi AI sebagai alat bantu diagnosis yang lebih murah dan teliti, bukan pengganti dokter. Microsoft sendiri belum mengumumkan kapan atau di mana teknologi ini akan dipakai secara nyata, sehingga manfaatnya bagi pasien masih menunggu pembuktian di lapangan.

[ META_DESCRIPTION]
Microsoft klaim AI MAI-DxO dua kali lebih akurat dari dokter umum dalam studi Science. Simak hasil, metode uji, dan catatan kritisnya di sini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.