Bagi Anda yang berkecimpung di dunia akademik atau penelitian ilmiah, berurusan dengan format dokumen sering kali menjadi mimpi buruk tersendiri. Bayangkan skenario ini: Anda telah menyelesaikan riset mendalam, data sudah matang, dan argumen telah tersusun rapi. Namun, saat tiba waktunya menuangkan semua itu ke dalam dokumen siap terbit, Anda justru terjebak berjam-jam hanya untuk memperbaiki margin atau posisi diagram yang berantakan. Frustrasi semacam ini adalah makanan sehari-hari bagi mereka yang “berperang” dengan sistem penulisan ilmiah konvensional.
Kabar baiknya, penderitaan administratif tersebut mungkin akan segera berakhir berkat terobosan terbaru dari raksasa kecerdasan buatan, OpenAI. Perusahaan yang dipimpin oleh Sam Altman ini baru saja merilis aplikasi anyar bernama Prism. Langkah ini bukan sekadar pembaruan fitur biasa, melainkan sebuah upaya strategis untuk melakukan apa yang sebelumnya telah berhasil dilakukan oleh agen koding seperti Claude Code atau platform Codex milik mereka sendiri terhadap dunia pemrograman. Bedanya, kali ini target utamanya adalah komunitas sains dan peneliti yang membutuhkan presisi tinggi.
Prism hadir sebagai solusi cerdas yang dibangun di atas fondasi Crixet, sebuah platform LaTeX berbasis cloud yang baru saja diakuisisi oleh OpenAI. Sinergi ini menjanjikan perubahan fundamental dalam cara ilmuwan bekerja. Jika sebelumnya energi peneliti habis tersedot untuk urusan teknis penulisan, kini mereka bisa kembali fokus pada esensi utama: penemuan dan inovasi. Kehadiran Prism menandai era baru di mana kecerdasan buatan tidak hanya menjadi alat bantu pencarian informasi, tetapi juga mitra aktif dalam proses penyusunan karya ilmiah yang kompleks.
Transformasi LaTeX dan Akuisisi Strategis
Bagi kalangan awam, istilah LaTeX mungkin terdengar asing. Namun, bagi komunitas ilmiah, sistem typesetting ini adalah standar emas untuk memformat dokumen dan jurnal ilmiah. Hampir seluruh komunitas sains bergantung pada LaTeX karena kemampuannya menghasilkan dokumen dengan tata letak yang presisi, terutama untuk rumus matematika yang rumit. Sayangnya, kehebatan LaTeX hadir dengan kurva pembelajaran yang curam. Tugas-tugas tertentu, seperti menggambar diagram melalui perintah TikZ, bisa sangat memakan waktu dan menguji kesabaran.
Di sinilah Prism masuk untuk mengisi celah tersebut. Aplikasi ini menawarkan kemampuan pengeditan LaTeX yang kuat, namun dengan sentuhan modern yang jauh lebih intuitif. Langkah OpenAI mengakuisisi Crixet menjadi kunci utama dalam pengembangan ini. Crixet sebelumnya dikenal sebagai platform yang memudahkan penggunaan LaTeX, dan kini teknologinya telah diintegrasikan sepenuhnya ke dalam ekosistem OpenAI. Dengan akuisisi ini, Crixet tidak akan lagi ditawarkan secara terpisah, melainkan melebur menjadi satu kekuatan utuh di dalam Prism.
Integrasi ini bukan sekadar penggabungan fitur, melainkan peningkatan kecerdasan. Jika sebelumnya Crixet mengandalkan agen bernama “Chirp”, Prism kini ditenagai oleh model AI yang jauh lebih canggih, yakni GPT-5.2 Thinking. Peningkatan ini membawa kemampuan penalaran yang lebih dalam, memungkinkan aplikasi untuk memahami konteks dokumen ilmiah dengan lebih baik daripada pendahulunya. Ini sejalan dengan ambisi Profit OpenAI untuk terus mendominasi pasar teknologi global.
Kecerdasan Buatan dalam Alur Kerja Ilmiah
Keunggulan utama Prism terletak pada bagaimana ia memanfaatkan model GPT-5.2 Thinking untuk membantu peneliti. Dalam sebuah demonstrasi pers, seorang karyawan OpenAI menunjukkan bagaimana Prism mampu melakukan lebih dari sekadar memformat jurnal. Aplikasi ini digunakan untuk mencari dan memasukkan literatur ilmiah yang relevan dengan makalah yang sedang dikerjakan. Lebih mengesankan lagi, GPT-5.2 secara otomatis menyusun daftar pustaka atau bibliografi, sebuah tugas yang sering kali membosankan dan rentan terhadap kesalahan manusia.
Kemampuan ini tentu memicu pertanyaan mengenai akurasi. Kita tahu bahwa model bahasa besar terkadang bisa berhalusinasi atau memberikan informasi yang tidak tepat. Menanggapi hal ini, Kevin Weil, Wakil Presiden Sains untuk OpenAI, memberikan pandangannya yang realistis. Ia menegaskan bahwa meskipun teknologi ini dapat mempercepat proses kerja secara signifikan, tanggung jawab akhir tetap berada di tangan ilmuwan.
Baca Juga:
“Tidak ada dari fitur ini yang membebaskan ilmuwan dari tanggung jawab untuk memverifikasi bahwa referensi mereka benar,” ujar Weil saat demo berlangsung. Pernyataan ini muncul ketika ditanya mengenai kemungkinan ChatGPT menghasilkan kutipan palsu. Weil menyadari bahwa seiring dengan semakin canggihnya kemampuan AI, muncul kekhawatiran mengenai volume, kualitas, dan kepercayaan dalam komunitas ilmiah. Hal ini mengingatkan kita pada kasus di mana Masalah Privasi sempat menjadi isu hangat di kalangan akademisi.
Edukasi dan Masa Depan Kolaborasi
Selain membantu penulisan jurnal, Prism juga dirancang untuk mendukung sektor pendidikan tinggi. Dalam demonstrasi yang sama, diperlihatkan bagaimana Prism digunakan untuk menyusun rencana pembelajaran (lesson plan) untuk kursus pascasarjana mengenai relativitas umum. Tak hanya itu, AI ini juga mampu menghasilkan serangkaian soal latihan bagi mahasiswa untuk dipecahkan. Fitur ini jelas ditujukan untuk membantu para profesor dan dosen agar dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk tugas-tugas administratif yang membosankan.
Visi OpenAI adalah mengintegrasikan AI langsung ke dalam alur kerja ilmiah dengan cara yang menjaga akuntabilitas. Menurut Weil, respons yang tepat bukanlah menjauhkan AI atau membiarkannya bekerja tanpa terlihat di latar belakang, melainkan menjadikannya mitra yang transparan di mana peneliti tetap memegang kendali penuh. Pendekatan ini sangat penting untuk menjaga integritas sains di tengah gempuran teknologi otomatisasi.
Saat ini, Prism sudah tersedia bagi siapa saja yang memiliki akun ChatGPT personal. Fitur ini mencakup dukungan untuk proyek dan kolaborator tanpa batas, memungkinkan kerja sama tim yang lebih efisien. Ke depannya, OpenAI berencana memboyong perangkat lunak ini ke organisasi yang menggunakan paket ChatGPT Business, Team, Enterprise, dan Education. Dengan langkah ini, OpenAI tampaknya semakin serius memperluas cakupan teknologinya, mungkin sejalan dengan rumor Teknologi Pikiran yang sempat menghebohkan, namun kali ini dalam wujud yang sangat praktis dan aplikatif bagi dunia sains.
Kehadiran Prism menandai babak baru di mana batasan antara perangkat lunak penulisan tradisional dan asisten cerdas semakin kabur. Bagi para ilmuwan, ini adalah kesempatan untuk bekerja lebih cepat dan efisien, asalkan prinsip verifikasi dan validasi data tetap dipegang teguh.

