📑 Daftar Isi

Ilustrasi kantor kosong dengan efek warna sebagai gambaran penurunan lowongan kerja entry-level di sektor teknologi.

Lowongan Kerja Entry-Level Teknologi di New York Anjlok 49 Persen

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Lowongan kerja entry-level bidang komputer dan matematika di New York City turun 49 persen sejak 2022
  • Lulusan ilmu komputer paling terdampak dari penurunan ini
  • Sektor lain juga alami penurunan: administrasi, keuangan, media, dan pendidikan
  • Pemangkasan pasca-COVID dan kebangkitan AI generatif jadi faktor utama
  • Hampir seperempat angkatan kerja AS fungsional menganggur per Juli
  • AI bukan satu-satunya penyebab, tapi tidak memperbaiki keadaan

Telset.id – Lowongan kerja untuk posisi entry-level di bidang teknologi mengalami penurunan tajam. Berdasarkan laporan terbaru atas data pekerjaan di New York City yang disusun oleh organisasi nirlaba Center for an Urban Future, jumlah lowongan untuk peran entry-level dalam kategori pekerjaan “komputer dan matematika” anjlok sebesar 49 persen sejak 2022. Temuan ini menjadi indikasi terbaru bahwa perusahaan teknologi menggunakan AI untuk membenarkan perlambatan besar-besaran dalam perekrutan tenaga kerja baru.

Penurunan drastis ini paling dirasakan oleh lulusan ilmu komputer. Namun, menurut laporan tersebut, tekanan pada lapisan entry-level tidak berhenti di sektor teknologi saja. Direktur eksekutif Center for an Urban Future, Jon Bowles, menyatakan bahwa lowongan entry-level secara umum telah “jatuh bebas” dan anak tangga pertama di dunia teknologi kini berada di bawah tekanan besar.

“Selama bertahun-tahun, ini adalah peluang luar biasa bagi orang-orang yang mencari pekerjaan karena teknologi tumbuh begitu cepat dan menambah begitu banyak pekerjaan entry-level,” kata Bowles. “Posisi-posisi untuk anak muda dengan pengalaman terbatas itu kini lebih sulit didapat dan persaingannya sangat ketat.”

Tekanan Meluas ke Berbagai Sektor

Selain bidang komputer dan matematika, sejumlah industri lain juga mencatat penurunan tajam dalam perekrutan entry-level. Sektor-sektor tersebut meliputi peran di bidang dukungan kantor dan administrasi, operasi keuangan, seni, desain, hiburan, olahraga, dan media, serta peran di bidang pendidikan dan perpustakaan, di antara lainnya.

Meski AI menjadi variabel yang paling jelas dalam fenomena ini, laporan tersebut mencatat ada banyak faktor lain yang turut berkontribusi terhadap penurunan lowongan entry-level. Salah satunya, perusahaan teknologi telah memangkas pekerjaan secara besar-besaran untuk membalikkan kondisi kelebihan perekrutan (overhiring) pada era COVID, yang bertepatan dengan kebangkitan AI generatif.

Baca Juga:

Temuan Center for an Urban Future ini juga muncul di tengah kondisi pasar kerja Amerika Serikat yang memburuk dengan cepat. Hingga Juli, hampir seperempat dari angkatan kerja AS secara fungsional menganggur. Kondisi ini memperkuat gambaran bahwa perlambatan perekrutan entry-level bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tekanan yang lebih luas pada pasar tenaga kerja.

Perdebatan mengenai arah masa depan AI sendiri masih terus berlangsung di kalangan pelaku industri. Pandangan yang berbeda soal masa depan AI menunjukkan bahwa dampak teknologi ini terhadap dunia kerja masih menjadi perhatian utama banyak pihak.

AI Bukan Satu-satunya Penyebab

Laporan tersebut menegaskan bahwa AI memang bukan satu-satunya faktor di balik penurunan lowongan entry-level. Meski demikian, kesimpulan yang disampaikan cukup jelas: AI tidak memperbaiki keadaan. Namun, jika seluruh chatbot AI dimatikan besok, sangat kecil kemungkinan pekerjaan entry-level akan pulih dengan sendirinya.

Artinya, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyingkirkan teknologi AI. Ada faktor struktural lain, mulai dari pemangkasan pasca-COVID hingga kondisi pasar kerja yang melemah, yang turut membentuk situasi saat ini. Bagi lulusan baru dan pekerja dengan pengalaman terbatas, kompetisi yang ketat menjadi kenyataan yang harus dihadapi.

Perkembangan teknologi juga terus berjalan di sektor lain, termasuk industri perangkat dan game, yang sama-sama menghadapi dinamika pasarnya sendiri. Sejumlah proyek tetap berjalan meski kondisi pasar berubah, seperti yang terlihat pada spesifikasi Steam Deck 2 yang tidak berubah di tengah krisis RAM, serta Tomb Raider yang dibangun ulang tanpa kode lama.

Data dari New York City ini menjadi sinyal bahwa anak tangga pertama di dunia kerja teknologi kini berada di bawah tekanan. Bagi perusahaan, efisiensi menjadi pertimbangan utama. Bagi pencari kerja, terutama generasi muda dengan pengalaman terbatas, peluang yang tersedia semakin sempit dan persaingan semakin ketat. Laporan Center for an Urban Future menunjukkan bahwa penurunan ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek, melainkan perubahan yang terlihat jelas pada data lowongan kerja selama beberapa tahun terakhir.

A color-treated photo of an empty office.

Di sisi lain, industri hiburan dan game juga harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang berubah. Proyek seperti Diablo 5 menunjukkan bahwa pengembangan produk tetap berjalan meski lanskap industri terus bergeser. Namun untuk pasar kerja entry-level, data terbaru menegaskan bahwa peluang yang dulu terbuka lebar kini jauh lebih terbatas.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.