Telset.id – Teknologi AI agent diproyeksikan menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan infrastruktur IT perusahaan pada tahun 2026. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru hasil riset dari MIT Technology Review Insights yang didukung oleh Microsoft, yang menyoroti lonjakan kepercayaan para ahli teknologi terhadap kemampuan agen otonom ini.
Laporan yang dirilis pada pertengahan 2026 ini menandai apa yang disebut Gartner sebagai “tahun infleksi” bagi organisasi untuk menyelaraskan proyek AI mereka dengan tujuan bisnis strategis. Dengan tekanan untuk membuktikan laba atas investasi (ROI) yang semakin besar, para eksekutif dan pemimpin teknologi kini beralih ke AI agent untuk mendorong hasil finansial yang terukur.
Menurut konsultan manajemen global McKinsey, biaya infrastruktur IT diproyeksikan tumbuh dua hingga tiga kali lipat pada tahun 2030, sementara anggaran perusahaan cenderung tetap tidak berubah. Kondisi ini menciptakan peluang besar bagi AI agent untuk mengelola dan mengoptimalkan beban kerja teknis secara lebih efisien.
Baca Juga:
Lonjakan Kepercayaan pada AI Agent
Laporan yang didasarkan pada survei terhadap 300 pakar teknologi global ini memeringkat 101 tugas di seluruh alur kerja AI, data, dan cloud berdasarkan tingkat kepercayaan responden terhadap AI agent yang bertindak atas nama mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap agen otonom ini meningkat pesat, terutama untuk tugas-tugas yang terukur.
Para ahli teknologi sangat yakin bahwa AI agent membantu pekerjaan sehari-hari, termasuk memperlancar proses, meningkatkan kinerja, dan mengurangi tugas-tugas repetitif. Kepercayaan tertinggi tercatat untuk proses seperti pembuatan laporan dan kode boilerplate. Peluang jelas terlihat pada tugas-tugas yang melibatkan alur kerja multi-langkah dan penalaran tingkat lanjut untuk membuat keputusan.
“Janji utama dari agen bukan hanya untuk mengotomatiskan tugas, tetapi untuk mengelola dan mengoordinasikan seluruh alur kerja, mengejar tujuan bisnis dengan cara yang memungkinkan manusia dan agen bekerja sama,” demikian bunyi laporan tersebut.
Meski demikian, laporan ini juga mengidentifikasi bahwa kesiapan AI agent menurun ketika kurangnya konteks bisnis yang diberikan kepada sistem agen. Semakin kompleks suatu tugas, semakin besar kemampuan penalaran yang dibutuhkan agen, dan semakin besar pula kebutuhannya akan konteks bisnis. Kemampuan untuk menghasilkan konteks semacam itu masih dalam tahap awal pengembangan, terutama dalam situasi di mana data perusahaan sulit diolah dan dihubungkan ke dalam siklus hidup agen.
Alur Kerja Data sebagai Domain Terobosan
Salah satu temuan kunci dalam laporan ini adalah bahwa alur kerja data menjadi domain terobosan bagi AI agent. Tim teknologi paling mempercayai agen di area di mana struktur dapat memberikan fondasi yang andal untuk pengambilan keputusan.
Area-area tersebut mencakup pemantauan kualitas data, deteksi anomali visualisasi, pemantauan aliran data real-time, dan pembuatan profil data. Di sinilah para ahli domain yang paling dekat dengan titik pembuatan data dapat memberikan konteks untuk memungkinkan agen bertindak dan memberikan hasil yang dapat dipercaya. Perkembangan ini sejalan dengan tren AI agent lindungi stasiun pengisian EV dari serangan siber, yang menunjukkan aplikasi agen di area yang membutuhkan keandalan tinggi.
Laporan ini juga menekankan pentingnya pengawasan manusia sebagai faktor kunci keberhasilan dalam menerapkan AI agent. Para ahli yang diwawancarai memperkirakan kepercayaan terhadap agen akan semakin cepat seiring dengan bertambahnya pengalaman dan matangnya lingkungan bisnis.
Jeremy Winter, wakil presiden perusahaan dan kepala produk Microsoft Azure Platform, menegaskan, “Saat kita merancang agen untuk beroperasi dalam batasan operasional, sistem identitas, dan model tata kelola yang sama yang sudah digunakan tim, mereka mulai berperilaku lebih seperti sistem yang sudah dipercaya organisasi.”
Laporan ini juga mencatat bahwa tim teknologi berada dalam posisi penting untuk memimpin transformasi ini. Dengan pengalaman yang semakin dalam, konteks bisnis yang lebih matang, dan integrasi dengan sistem yang sudah ada, AI agent diproyeksikan akan menjadi bagian integral dari infrastruktur IT perusahaan. Perusahaan seperti Apple juga mulai merambah area ini dengan Apple rilis framework AI dan Xcode 27 agentic coding di WWDC 2026, menandakan bahwa ini adalah tren industri yang lebih luas.
Laporan lengkap dapat diunduh dari situs MIT Technology Review Insights. Untuk informasi lebih lanjut, pembaca dapat membaca blog Microsoft Cloud oleh Amanda Silver, wakil presiden perusahaan Microsoft 365 Core dan Work IQ, yang menggarisbawahi pentingnya menjaga manusia dalam proses pengambilan keputusan. Sementara itu, bagi yang ingin mendalami lebih jauh tentang alur kerja data sebagai kasus penggunaan terobosan untuk agen, blog Fabric dari Kim Manis, wakil presiden perusahaan Produk untuk Microsoft Fabric, dapat menjadi referensi tambahan.
Konten ini diproduksi oleh Insights, bagian konten khusus dari MIT Technology Review. Konten ini tidak ditulis oleh staf editorial MIT Technology Review. Konten ini diteliti, dirancang, dan ditulis oleh penulis, editor, analis, dan ilustrator manusia. Ini termasuk penulisan survei dan pengumpulan data untuk survei. Alat AI yang mungkin digunakan terbatas pada proses produksi sekunder yang telah melalui tinjauan manusia secara menyeluruh.
Secara keseluruhan, laporan ini memberikan gambaran optimistis namun realistis tentang adopsi AI agent di dunia teknologi. Meskipun masih ada tantangan, terutama dalam penyediaan konteks bisnis yang memadai, tren menuju otonomi yang lebih besar dalam pengelolaan infrastruktur IT tampaknya tidak terelakkan. Bagi para profesional TI, ini adalah momen untuk bersiap dan beradaptasi dengan lanskap teknologi yang baru.





Komentar
Belum ada komentar.