📑 Daftar Isi

Kontroversi Higgsfield Seedance 2.5 dan reaksi negatif kreator konten

Kontroversi Higgsfield Seedance 2.5 dan Kreator AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Kontroversi Higgsfield Seedance 2.5 dipicu video promosi kreator terkenal tanpa label iklan
  • Matti Haapoja dan Sam Kolder membuat video yang dianggap iklan terselubung untuk Higgsfield
  • Marques Brownlee mengkritik penyamaan AI generatif dengan Canon EOS 5D Mark II
  • Video Haapoja menuai reaksi negatif di Threads, sementara komentar Kolder lebih beragam
  • Tautan afiliasi diskon 30 persen muncul di caption video Kolder
  • Kasus serupa terjadi dengan OpenAI dan influencer di retret "Summer Club" New York
  • Kreator dengan pengikut besar berisiko kehilangan kepercayaan audiens saat mendukung AI

Telset.id – Kontroversi seputar platform AI Higgsfield dan fitur Seedance 2.5 mencuat setelah sejumlah kreator konten terkenal seperti Matti Haapoja dan Sam “Kold” Kolder memposting video yang dianggap sebagai iklan terselubung. Kedua kreator tersebut membuat video yang mempromosikan kemampuan AI Higgsfield, namun tanpa label iklan yang jelas, sehingga memicu reaksi negatif dari penggemar dan sesama kreator.

Video-video yang diunggah dalam beberapa hari terakhir ini menampilkan Haapoja dan Kolder yang antusias memuji Higgsfield dan Seedance 2.5 sebagai alat inovatif yang berpotensi merevolusi industri hiburan. Namun, tidak adanya label iklan pada video tersebut membuat banyak pihak berspekulasi bahwa kolaborasi ini merupakan kemitraan berbayar yang disembunyikan.

Menanggapi video-video tersebut, sejumlah kreator lain mulai membagikan tangkapan layar yang tampaknya menunjukkan tawaran kemitraan yang mereka terima dari firma PR yang bekerja atas nama Higgsfield. Hal ini semakin memperkuat dugaan publik bahwa Higgsfield sengaja menggunakan kreator untuk meningkatkan profil dan mendapatkan citra positif dari masyarakat.

Video Haapoja dan Kolder yang Menuai Kritik

Video Matti Haapoja digambarkan seperti infomersial yang menjelaskan bagaimana film fitur “Cully Hill Boys” diproduksi menggunakan prompt AI. Film tersebut dibintangi oleh duplikat yang dihasilkan AI dari YouTuber Mikyle “N3on” Rafiq dan Matt Kiatipis. Haapoja juga mendemonstrasikan kemampuan Seedance 2.5 dengan memanipulasi footage dirinya sendiri dalam berbagai latar fiksi ilmiah.

Sementara itu, video Kolder yang berjudul “AI is replacing me” berkisah tentang latar belakangnya dalam produksi video sebelum menjadi narasi fiksi bergaya film Chappie, di mana ia menjelajahi Mauritania dengan bantuan robot. Kedua video tersebut menggabungkan footage orang sungguhan dengan citra AI yang terlihat tidak natural.

Marques Brownlee, seorang kreator teknologi terkenal, mengkritik Haapoja yang menyamakan AI generatif dengan Canon EOS 5D Mark II, kamera DSLR ikonik yang membuat perekaman 1080p full HD lebih terjangkau bagi pembuat film independen. Brownlee menekankan bahwa tidak seperti 5D Mark II yang merupakan alat fisik yang harus dipelajari penggunaannya, AI generatif “dilatih dari materi buatan manusia tanpa kredit.”

Di Threads, video Haapoja mendapat penolakan keras dari penggemar dan kreator lain yang menganggapnya sebagai rekan mereka. Sebaliknya, kolom komentar YouTube Kolder lebih beragam, dengan banyak penonton merespons positif. Namun, di antara komentar pujian seperti “absolute cinema!” dan “amazing transitions!”, terdapat pula orang-orang yang menyayangkan bahwa “AI telah mengalahkan raja kami” dan bersikeras bahwa “tidak ada AI yang bisa menggantikan seniman kreatif.”

Perbedaan dengan Kolaborasi Higgsfield Sebelumnya

Reaksi negatif terhadap video Haapoja dan Kolder jauh lebih keras dibandingkan respons terhadap kolaborasi kreator Higgsfield lainnya. Film Cully Hill Boys yang debut minggu lalu tidak banyak mendapat perhatian, menunjukkan bahwa penonton mungkin tidak memiliki perasaan yang kuat terhadap film tersebut.

Dalam postingan para pemeran Cully Hill Boys, terdapat campuran pendukung AI yang menyemangati Higgsfield dan orang-orang yang mengkritik perusahaan tersebut. Namun, sebagian besar kritik tidak ditujukan kepada para pemeran film, yang memberikan hak penggunaan kemiripan mereka kepada Higgsfield namun tidak terlibat langsung dalam produksi seperti aktor tradisional.

Yang membedakan postingan Haapoja dan Kolder adalah bagaimana keduanya tampak seperti iklan bersponsor yang dimaksudkan untuk menanamkan citra positif Higgsfield di mata audiens mereka. Meskipun tidak ada satu pun kreator yang secara eksplisit mengatakan “Anda juga harus menggunakan produk ini,” pesan tersebut tampaknya menjadi pesan yang tersirat.

Caption video Kolder bahkan tampaknya mengandung tautan afiliasi yang menawarkan diskon 30 persen untuk langganan tahunan Higgsfield. Hal ini semakin memperkuat kesan bahwa konten tersebut merupakan bentuk pemasaran berbayar.

Kasus Haapoja dan Kolder menunjukkan apa yang bisa terjadi ketika orang-orang dengan pengikut media sosial yang besar terlibat dengan produk dan perusahaan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai audiens mereka. Ini adalah potensi masalah dengan hampir semua produk, tetapi dengan mendukung AI generatif secara khusus, para kreator membuka diri mereka untuk menjadi pusat perasaan negatif orang-orang tentang teknologi tersebut.

Kejadian serupa terjadi awal bulan ini ketika OpenAI mengundang sekelompok influencer ke resor mewah di New York untuk retret “Summer Club”. Tidak ada kreator konten yang mengunggah sesuatu yang substansial seperti video panjang yang menampilkan alat OpenAI, tetapi postingan mereka tentang perjalanan dan menerima barang-barang bermerek OpenAI sudah cukup untuk membuat pengikut mereka kecewa.

Sementara perusahaan seperti OpenAI dan Higgsfield dapat menahan diri untuk tidak menyenangkan orang dengan iklan mereka, kreator yang menyetujui kemitraan dengan perusahaan AI berada dalam posisi yang jauh lebih rumit. Kreator hanya bisa mendapatkan kesepakatan seperti itu setelah membangun banyak pengikut, tetapi pengikut tersebut sering kali terdiri dari orang-orang yang melihat mereka sebagai individu yang dapat dipercaya dengan keyakinan yang mirip dengan mereka.

Bagi kreator seperti Haapoja dan Kolder, yang daya tariknya sebagai pembuat film terletak pada kreativitas manusia mereka sendiri, kesepakatan ini sangat berisiko. Di saat banyak layanan dan alat AI dianggap sebagai ancaman, mendukung teknologi tersebut dapat menandakan kepada pengikut mereka bahwa mereka bukanlah seseorang yang layak untuk diinvestasikan.

Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kreator konten harus menavigasi kemitraan dengan perusahaan AI. Transparansi tentang hubungan komersial menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan audiens, terutama ketika teknologi yang dipromosikan masih menjadi topik yang sensitif dan kontroversial di kalangan publik.

Higgsfield sendiri belum memberikan tanggapan resmi mengenai kontroversi ini. Baik Haapoja maupun Kolder juga tidak menjawab pertanyaan tentang apakah video mereka merupakan kemitraan berbayar. Namun, dampak dari kontroversi ini terhadap reputasi mereka di mata penggemar sudah terlihat jelas dari reaksi negatif yang muncul di berbagai platform media sosial.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.