📑 Daftar Isi

Ilustrasi kontraktor manusia meninjau prompt gambar Microsoft Copilot di depan komputer.

Kontraktor Microsoft Copilot Beberkan Prompt Gambar Vulgar Pengguna

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Ratusan kontraktor Microsoft Copilot meninjau prompt gambar dan foto pengguna
  • Banyak prompt berisi permintaan seksual eksplisit dan konten mengganggu
  • Penilaian dilakukan berdasarkan "intuisi" sesuai instruksi Microsoft
  • Pekerja mengaku tanpa peringatan sebelum melihat konten traumatis
  • Praktik serupa juga dilaporkan terjadi di OpenAI
  • Keberadaan kontraktor manusia tidak dijelaskan terbuka ke publik

Telset.id – Ratusan kontraktor manusia yang dipekerjakan untuk meningkatkan kemampuan Microsoft Copilot mengungkap bahwa mereka harus meninjau prompt pengeditan gambar serta foto yang diunggah pengguna, dan banyak di antaranya berisi permintaan bernuansa seksual eksplisit. Temuan ini menempatkan persoalan privasi dan kondisi kerja tersembunyi di balik layanan AI menjadi sorotan publik.

Menurut laporan baru dari 404 Media, para pekerja tersebut bertugas mengevaluasi seberapa baik Copilot AI memenuhi sebuah prompt. Microsoft dalam dokumen yang diperoleh 404 menginstruksikan agar penilaian dilakukan dengan mengandalkan “intuisi” para kontraktor. Artinya, manusia tetap menjadi bagian tak terlihat dalam rantai kerja sistem AI yang digunakan banyak orang.

Beberapa kontraktor mengaku diminta mengevaluasi foto upskirt perempuan, atau meninjau prompt yang dirancang untuk menempatkan perempuan dalam skenario seksual. Prompt lain yang mereka temui menyasar karakter kartun anak-anak, hingga permintaan memperpendek rok seorang perempuan nyata. “Wajah selalu tidak disensor, dan banyak prompt bersifat seksual serta secara etis meragukan soal persetujuan,” kata salah satu pekerja yang memilih anonim kepada 404.

Praktik ini menjadi contoh lain dari elemen manusia tersembunyi yang digunakan perusahaan AI untuk menjalankan dan menyempurnakan teknologinya, yang keberadaannya tidak dijelaskan secara gamblang kepada publik. Pengguna biasa berasumsi bahwa percakapan mereka tidak dilihat orang lain, kecuali mungkin untuk keperluan moderasi. Selama tidak melakukan kesalahan, mereka menganggap tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

404 juga baru-baru ini melaporkan bahwa OpenAI, dalam praktik serupa, mempekerjakan ratusan karyawan untuk membaca prompt pengguna demi meningkatkan respons chatbot. Kekhawatiran soal privasi hanya puncak dari persoalan yang lebih besar. Alat AI jamak digunakan untuk menghasilkan konten seksual nonkonsensual, bahkan bisa ilegal, terhadap perempuan dan terkadang anak-anak.

Para kontraktor manusia, yang sering kali tidak dibayar dengan layak, diharapkan meninjau konten yang mengganggu dan bahkan traumatis tersebut. Di sebuah papan pesan internal, seorang pekerja mengaku “mundur” setelah meninjau konten pro-anoreksia. Pekerja lain mengatakan melihat prompt yang tampaknya dimaksudkan untuk membuat gambar cabul sekelompok anak perempuan muda.

Para pekerja mengeluhkan bahwa mereka sering tidak mendapat peringatan bahwa mereka akan segera melihat permintaan-permintaan yang mengganggu itu. “Saya baru saja menemukan satu set gambar yang terdiri dari delapan foto upskirt,” tulis kontraktor tersebut, meminta atasan menandai konten itu sebagai tidak aman. Pekerja lain mengaku melihat gambar “semacam pengorbanan hewan.”

A color-treated photo of a woman reading from a computer.

Kondisinya cukup parah hingga sebagian pekerja mempertanyakan hakikat pekerjaan mereka. “Siapa yang menulis prompt-prompt ini dan siapa yang memutuskan bahwa pada dasarnya menghasilkan pornografi adalah fokus Copilot sekarang?” tulis kontraktor lain. “Sulit untuk bersikap serius ketika fokus saya harus menentukan model mana yang menghasilkan ukuran payudara yang sesuai atau perempuan paruh baya mana yang ditempatkan pada posisi bernuansa seksual yang sesuai.”

Kasus ini memperlihatkan bahwa di balik kemudahan layanan seperti Microsoft Copilot, terdapat tenaga manusia yang menanggung beban konten paling gelap dari interaksi pengguna. Laporan 404 Media menyoroti bahwa keberadaan pekerja tersebut tidak pernah disampaikan secara terbuka kepada pengguna, sekaligus memunculkan pertanyaan soal perlindungan bagi mereka yang harus meninjau materi traumatis setiap hari.

Beban Manusia di Balik Sistem AI

Pengungkapan ini menegaskan bahwa AI tidak sepenuhnya berjalan otomatis. Ketika pengguna mengirim prompt pengeditan gambar atau mengunggah foto, ada kemungkinan materi tersebut dibaca dan dinilai oleh kontraktor manusia. Dalam dokumen yang diperoleh 404, Microsoft mengarahkan agar penilaian kualitas prompt dilakukan berdasarkan intuisi pekerja, bukan semata pedoman teknis yang ketat.

Praktik serupa juga terjadi di tempat lain. Laporan 404 menyebut OpenAI mempekerjakan ratusan orang untuk membaca prompt pengguna demi memperbaiki respons chatbot. Pola ini menunjukkan bahwa lapisan manusia menjadi komponen tetap dalam industri AI, meski tidak pernah menjadi bagian dari komunikasi resmi kepada publik.

Bagi para kontraktor, dampaknya bersifat langsung. Mereka tidak hanya berhadapan dengan permintaan seksual eksplisit, tetapi juga konten yang menyasar anak-anak dan materi yang mengganggu secara psikologis. Keluhan soal tidak adanya peringatan sebelum meninjau konten berbahaya menambah panjang daftar persoalan kondisi kerja di balik layanan AI.

Privasi Pengguna dan Batas Etika

Dari sisi pengguna, temuan ini membuka kembali pertanyaan tentang sejauh mana percakapan dan berkas yang dikirim ke layanan AI dapat dilihat pihak lain. Asumsi bahwa interaksi dengan chatbot bersifat privat ternyata tidak sepenuhnya benar, terutama ketika materi tersebut digunakan untuk pelatihan dan evaluasi kualitas sistem.

Persoalan etika juga mencuat karena banyak prompt yang ditemui kontraktor bersifat nonkonsensual. Laporan 404 menyebut alat AI kerap digunakan untuk menghasilkan konten seksual terhadap perempuan dan terkadang anak-anak. Para pekerja yang harus meninjau materi itu pun berada di posisi sulit, karena tugas mereka menuntut penilaian atas konten yang secara etis bermasalah.

Sejumlah pekerja bahkan mempertanyakan arah pengembangan Copilot. Mereka menyoroti bahwa fokus pekerjaan mereka bergeser menjadi menilai hasil gambar bernuansa seksual, bukan semata meningkatkan kualitas sistem secara umum. Pertanyaan itu muncul di papan pesan internal, mencerminkan kegelisahan terhadap prioritas yang dianggap tidak sejalan dengan tujuan awal pengembangan AI.

Sampai saat ini, keberadaan kontraktor yang meninjau prompt dan foto pengguna tidak dijelaskan secara terbuka kepada publik. Laporan 404 Media memperlihatkan bahwa di balik layanan AI yang tampak mulus, terdapat manusia yang harus berhadapan dengan konten paling gelap dari permintaan pengguna setiap hari.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.