πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi kapal drone Rusia dengan muatan berat untuk operasi maritim

Klaim Ukraina: Rusia Miliki Drone Laut dengan Muatan 1 Ton

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Badan intelijen militer Ukraina merilis katalog kapal drone Rusia dengan berbagai kemampuan
  • Model BEK-1000 diklaim mampu membawa muatan 1 ton dengan jangkauan 500 km dan kecepatan 40 knot
  • Model Zefir dan Orkan memiliki jangkauan 400 km, kecepatan 35 knot, dan muatan 400 kg
  • Model Katran khusus meluncurkan drone FPV dengan jangkauan 100-200 km
  • Presiden Zelenskyy mendesak intensifikasi tekanan di wilayah Rusia
  • Verifikasi independen masih terbatas dan analis mengingatkan angka bisa bersifat aspirasional

Telset.id – Badan intelijen militer Ukraina mengklaim Rusia kini mengoperasikan armada kapal drone yang mampu membawa muatan hingga satu metrik ton dan berpatroli di perairan terbuka tanpa terdeteksi dalam waktu lama. Klaim ini diungkap melalui katalog terbaru yang dirilis Ukraina, yang memuat berbagai model kapal drone Rusia dengan kemampuan membawa bahan peledak, torpedo, hingga peralatan pengintaian udara.

Menurut laporan yang dikutip dari Defence Blog pada Rabu (13/8/2026), beberapa platform kapal drone tersebut dikabarkan mampu menempuh perjalanan ratusan kilometer dan mencapai kecepatan mendekati 55 knot tanpa pengawasan atau intervensi manusia. Pengungkapan ini tampaknya dirancang untuk menarik perhatian global terhadap program kapal drone angkatan laut Rusia yang terus berkembang sebelum eskalasi lebih lanjut terjadi di laut.

Armada yang Dibangun untuk Jangkauan dan Muatan

Di antara sistem yang dijelaskan dalam katalog tersebut, model Zefir dan Orkan dilaporkan mampu menempuh perjalanan hingga 400 kilometer, mencapai kecepatan 35 knot, dan dapat membawa sekitar 400 kilogram kargo. Sementara itu, desain yang lebih berat bernama BEK-1000 dikabarkan mampu mengangkut satu ton kargo dengan jarak tempuh lebih dari 500 kilometer pada kecepatan 40 knot.

3D printed TF-179 Drone Boat

Varian lain yang disebut Katran tampaknya dibuat khusus untuk meluncurkan drone first-person-view (FPV) dengan jangkauan 100 hingga 200 kilometer di lepas pantai. Adapun varian Murena-300s dilaporkan memperpanjang jangkauannya hingga 500 kilometer, membawa drone udara yang terpasang dan naik 100 meter di atas permukaan air, serta dapat dipasangi torpedo atau drone FPV.

Inventaris tersebut juga mencakup kapal pemantau dan pemetaan dasar, bersama dengan platform tempur canggih yang dibangun khusus untuk serangan pantai dan serangan terhadap kapal di dekat perairan yang disengketakan. Secara kolektif, platform-platform ini menunjukkan armada yang berkembang pesat dan dirancang untuk operasi pengintaian maupun serangan angkatan laut di zona maritim yang disengketakan di dekat Ukraina.

Desain Lama dan Tekanan Politik

Prototipe awal kapal drone ini dapat ditelusuri kembali ke tahun 2014, ketika Rusia menguji coba Skanda di Danau Ladoga sebelum pengujian di dekat Sevastopol pada tahun 2019. Desain awal tersebut menawarkan jangkauan 150 kilometer dan mencapai kecepatan tidak kurang dari 20 knot.

Remotely operated interceptor drones

Versi berikutnya seperti Iskatel dapat membawa 600 kilogram pada kecepatan 25 knot dan tetap berada di laut selama tujuh hari. Kapal katamaran Farvater mencakup jarak sekitar 250 kilometer pada kecepatan 32 knot, sementara model Trezubets yang lebih pendek mencapai kecepatan 30 knot dengan tenaga dua motor berkekuatan 320 tenaga kuda.

Model Vizir-700 yang berfokus pada pertempuran dapat membawa 600 kilogram dengan kecepatan mendekati 80 kilometer per jam, dilengkapi dengan dudukan depan untuk senjata otomatis dan roket. Perkembangan ini menunjukkan diversifikasi kemampuan Rusia dalam peperangan maritim tanpa awak.

Di tengah situasi ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menekankan perlunya mengintensifkan tekanan di dalam wilayah Rusia. β€œKita perlu membawa perang kembali ke wilayah Rusia,” kata Zelenskyy saat berbicara di forum pemuda yang digelar pada 12 Agustus 2026. Ia juga mendesak negara-negara sekutu untuk memperkuat sistem pertahanan udara menjelang perkiraan mobilisasi musim gugur di Rusia pasca pemilihan umum baru-baru ini.

Zelenskyy and Trump

Pejabat Ukraina menyatakan bahwa pabrik-pabrik yang memproduksi kapal-kapal ini tetap menjadi target militer yang sah selama konflik berlangsung, mengingat peran langsung mereka dalam produksi senjata. Namun, verifikasi independen atas klaim-klaim ini masih terbatas, dan para analis mengingatkan bahwa beberapa angka mungkin mencerminkan kapabilitas yang diharapkan, bukan kapabilitas operasional yang sebenarnya.

Para analis juga mencatat bahwa sistem tanpa awak tetap rentan terhadap gangguan sinyal (jamming) dan deteksi, meskipun kemampuannya terus berkembang di bawah kondisi peperangan elektronik yang semakin canggih.

Pengungkapan Ukraina ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam persaingan teknologi militer maritim di kawasan Laut Hitam. Dengan kemampuan yang diklaim mencapai kecepatan 55 knot dan jangkauan lebih dari 500 kilometer, kapal-kapal drone ini berpotensi mengubah dinamika operasi angkatan laut di wilayah yang disengketakan.

Perkembangan ini juga menyoroti drone otonom yang semakin menjadi komponen penting dalam strategi militer modern. Sementara itu, Ukraina sendiri terus mengembangkan kemampuan serupa, termasuk robot darat VORON untuk menjaring drone FPV, menunjukkan bahwa kedua belah pihak berlomba memperkuat kemampuan teknologi militer tanpa awak mereka.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.