📑 Daftar Isi

Keluarga petani menolak tawaran perusahaan AI untuk membangun pusat data di lahan pertanian mereka di Kentucky

Keluarga Petani Tolak Tawaran $26 Juta demi Lahan Pertanian

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Keluarga Huddleston di Northern Kentucky menolak tawaran $26 juta dari perusahaan AI untuk membangun pusat data
  • Tawaran tersebut hampir 10 kali lipat nilai pasar tanah di Mason County yang sekitar $6.000 per acre
  • Lahan seluas 1.200 acre telah digarap keluarga selama beberapa generasi sejak masa Depresi Besar
  • Perusahaan AI berencana mengakuisisi setengah dari lahan untuk proyek pusat data
  • Beberapa pemilik lahan lain di sekitar area disebut menyerah dan setuju menjual tanah mereka
  • Amerika Serikat memiliki lebih dari 4.400 pusat data, tertinggi di dunia menurut Statista
  • Pembangunan pusat data menimbulkan kekhawatiran soal konsumsi listrik dan air yang besar

Telset.id – Sebuah perusahaan AI anonim dikabarkan menawarkan $26 juta kepada keluarga petani di Northern Kentucky untuk membangun pusat data di lahan mereka. Namun, tawaran yang hampir 10 kali lipat nilai pasar tanah tersebut ditolak mentah-mentah oleh pemilik lahan yang telah menggarap tanah itu selama beberapa generasi.

Ida Huddleston dan keluarganya, yang telah memiliki dan menggarap lahan pertanian seluas 1.200 acre tersebut secara turun-temurun, menolak tawaran tersebut dengan tegas. Penolakan ini menjadi sorotan di tengah maraknya pembangunan pusat data AI di Amerika Serikat yang kerap menghadapi tentangan dari masyarakat setempat.

“Mereka menyebut kami petani tua yang bodoh, tapi kami tidak,” ujar Huddleston seperti dikutip dari laporan WKRC. “Kami tahu kapan makanan kami menghilang, lahan kami menghilang, dan kami tidak punya air—dan itu racun. Ya, kami tahu kami mengalaminya.”

No data center sign on a farm

Delsia Bare, putri Huddleston, menceritakan sejarah panjang keluarganya dalam menggarap tanah tersebut. Selama beberapa generasi, keluarga Huddleston telah membudidayakan tanah dan menyediakan makanan bagi banyak keluarga di luar keluarga mereka sendiri. Bare menggambarkan bagaimana nenek moyang mereka bertahan melalui masa-masa tergelap bangsa, seperti saat menanam gandum selama Depresi Besar dan membantu memasok jalur roti ketika sebagian besar Amerika berjuang melawan kemiskinan dan kelaparan.

“Tetap tinggal dan bertahan serta memberi makan bangsa,” kata Bare kepada WKRC. “$26 juta tidak berarti apa-apa.”

Nilai Lahan vs Tawaran Perusahaan AI

Perusahaan AI yang diduga merupakan salah satu pemain besar di industri ini menghubungi Huddleston karena ukuran dan lokasi properti seluas 1.200 acre tersebut. Perusahaan AI itu berusaha mengakuisisi sekitar setengah dari lahan untuk proyek pusat data besar. Tanah pertanian di Mason County biasanya dijual sekitar $6.000 per acre.

Dalam upaya membujuk keluarga Huddleston untuk menandatangani perjanjian, perusahaan AI menawarkan $26 juta, hampir 10 kali lipat nilai lahan lokal. Meski tawaran tersebut sangat menggiurkan, Huddleston dan keluarganya menolak tanpa ragu-ragu.

Keputusan keluarga ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak pembangunan pusat data. Dengan booming AI yang berkembang pesat, perusahaan-perusahaan AI berlomba membangun pusat data di seluruh negeri. Menurut Statista, Amerika Serikat memimpin dunia dengan lebih dari 4.400 pusat data. Sebagai perbandingan, Inggris yang menempati peringkat kedua memiliki sekitar seperdelapan dari jumlah tersebut.

Proliferasi pusat data dalam beberapa tahun terakhir membawa banyak kekurangan. Beberapa di antaranya termasuk kebutuhan listrik dan air dalam jumlah besar untuk beroperasi; fasilitas ini membebani jaringan listrik lokal hingga batasnya, dengan tagihan energi yang melonjak dan pasokan air yang menipis.

Dapat dipahami mengapa warga di banyak daerah menolak menyambut pusat data baru yang membahayakan kualitas hidup mereka. Penolakan keluarga Huddleston menjadi contoh nyata bagaimana sebagian masyarakat memilih mempertahankan warisan dan mata pencaharian mereka dibandingkan keuntungan finansial jangka pendek.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki keyakinan atau stabilitas finansial untuk menolak $26 juta. Perusahaan AI tersebut dilaporkan telah menghubungi beberapa pemilik lahan lain di area sekitarnya. Menurut Bare, sebagian pemilik lahan akhirnya menyerah dan setuju untuk menjual tanah mereka.

Meskipun keluarga Huddleston memiliki pendirian dan tekad untuk melindungi warisan mereka, tampaknya perusahaan AI tersebut tetap akan membangun pusat datanya di suatu tempat di dekat situ. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada penolakan dari sebagian masyarakat, gelombang pembangunan pusat data AI kemungkinan akan terus berlanjut di berbagai wilayah.

Kisah keluarga Huddleston menjadi pengingat akan dilema yang dihadapi banyak komunitas di tengah pesatnya perkembangan industri AI. Di satu sisi, pembangunan pusat data membawa investasi dan lapangan kerja. Di sisi lain, dampak terhadap lingkungan dan sumber daya lokal menjadi kekhawatiran serius yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Perlawanan terhadap pembangunan pusat data AI sebenarnya sudah mulai meluas. Protes terhadap pusat data AI telah terjadi di berbagai negara bagian, menunjukkan bahwa kekhawatiran publik terhadap dampak infrastruktur AI semakin meningkat. Masyarakat mulai sadar bahwa di balik kemajuan teknologi, ada biaya lingkungan dan sosial yang harus dibayar.

Keluarga Huddleston memilih untuk mempertahankan lahan pertanian mereka yang telah menjadi sumber kehidupan selama beberapa generasi. Keputusan mereka menegaskan bahwa ada nilai-nilai yang tidak bisa diukur dengan uang, sekalipun nominalnya mencapai puluhan juta dolar.

Bagi industri AI yang terus berkembang, kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa ekspansi infrastruktur tidak selalu berjalan mulus. Dibutuhkan pendekatan yang lebih bijak dan memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, bukan hanya mengejar keuntungan bisnis semata.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.