Telset.id – Jika Anda merasa linimasa media sosial belakangan ini terasa seperti kotak misteri yang sulit ditebak, Elon Musk mungkin punya jawabannya—atau setidaknya, sebuah janji baru. Sang pemilik platform X baru saja melontarkan pernyataan berani bahwa algoritma X akan segera dibuka untuk publik dalam hitungan hari, sebuah langkah yang diklaim akan mengubah cara kita memahami apa yang kita lihat di layar ponsel.
Lewat akun pribadinya pada hari Sabtu lalu, Musk menegaskan bahwa kode rahasia di balik rekomendasi konten—baik itu postingan organik maupun iklan—akan menjadi open source. Ia memberikan tenggat waktu yang cukup singkat: tujuh hari dari pengumuman tersebut. Langkah ini diklaim sebagai upaya transparansi total agar pengguna tahu persis mengapa sebuah postingan muncul di beranda mereka, sebuah konsep yang sering didengungkan namun jarang dieksekusi dengan sempurna oleh raksasa teknologi.
Namun, bagi mereka yang mengikuti sepak terjang miliarder teknologi ini, janji tersebut mungkin terdengar familiar. Ini bukan kali pertama Musk berbicara soal keterbukaan sistem di tengah sorotan tajam regulator global, terutama dari Uni Eropa yang belakangan ini makin gencar menyelidiki mekanisme internal platform tersebut. Apakah kali ini ia benar-benar serius, atau ini hanya manuver untuk meredam kritik?
Transparansi Rutin atau Sekadar Formalitas?
Dalam pernyataannya, Musk merinci bahwa transparansi ini tidak akan berhenti pada satu kali rilis saja. Ia berjanji bahwa pembaruan kode algoritma X akan dilakukan secara berkala. “Ini akan diulang setiap 4 minggu, dengan catatan pengembang yang komprehensif, untuk membantu Anda memahami apa yang berubah,” tulis Musk di platform miliknya.
Janji untuk menyertakan “catatan pengembang” menjadi poin menarik. Seringkali, kode mentah tanpa konteks hanyalah tumpukan teks yang membingungkan bagi publik awam, bahkan bagi sebagian programmer. Dengan adanya dokumentasi perubahan, pengguna diharapkan bisa melacak evolusi pemrograman algoritma tersebut dari waktu ke waktu. Ini mencakup segala hal yang menentukan mengapa postingan viral tertentu bisa “meledak” sementara yang lain tenggelam, serta bagaimana iklan disisipkan di antara percakapan organik pengguna.
Baca Juga:
Di Bawah Bayang-bayang Sanksi Eropa
Sulit untuk melihat langkah ini terlepas dari tekanan eksternal yang sedang dihadapi perusahaan. X saat ini berada di bawah mikroskop investigasi Komisi Eropa dan pemerintah Prancis. Komisi Eropa bahkan baru saja memperpanjang perintah retensi data hingga tahun 2026, sebuah langkah hukum yang dikirimkan ke perusahaan sejak awal tahun lalu.
Sorotan terhadap X semakin tajam bukan hanya karena cara kerja beranda mereka, tetapi juga akibat ulah kecerdasan buatan (AI) milik mereka, Grok. Chatbot ini sempat tertangkap basah menghasilkan materi pelecehan seksual anak (CSAM) atas permintaan pengguna, serta terus digunakan untuk membuat gambar tidak senonoh (deepfake) dari wanita tanpa persetujuan mereka. Masalah ini menambah daftar panjang tuntutan akuntabilitas yang harus dijawab oleh manajemen X.
Di tengah badai masalah moderasi konten dan keamanan digital, membuka “jeroan” sistem rekomendasi bisa jadi merupakan strategi Musk untuk menunjukkan itikad baik. Serupa dengan bagaimana platform lain mulai memberikan fitur kontrol algoritma kepada penggunanya, X tampaknya ingin mengambil rute yang lebih ekstrem dengan membuka seluruh kodenya.
Belajar dari Janji Masa Lalu
Skeptisisme publik bukan tanpa alasan. Sejak mengambil alih Twitter, Musk sudah berkali-kali menyuarakan niat untuk membuka algoritma platform tersebut. Pada tahun 2023, X memang sempat mempublikasikan kode untuk feed “For You” di GitHub. Namun, rilis tersebut menuai kritik dari para ahli teknologi karena dianggap tidak lengkap.
Analisis saat itu menunjukkan bahwa kode yang dirilis tidak memberikan gambaran utuh, meninggalkan banyak detail kunci yang justru krusial untuk memahami cara kerja sistem secara menyeluruh. Lebih buruk lagi, repositori kode tersebut tidak diperbarui secara konsisten, membuatnya usang dengan cepat seiring perubahan fitur di platform. Hal ini berbeda dengan sistem prediksi canggih seperti algoritma MIT yang biasanya didukung dokumentasi akademis yang ketat.
Kali ini, dengan janji menyertakan kode penentuan iklan dan pembaruan bulanan, Musk tampaknya ingin memperbaiki kesalahan sebelumnya. Namun, transparansi kode hanyalah satu sisi mata uang. Tanpa data pelatihan (training data) yang digunakan untuk “mengajarkan” algoritma tersebut, kode itu sendiri mungkin tidak akan menceritakan kisah seutuhnya. Kita bisa berkaca pada kasus lain di industri, di mana sistem rekomendasi musik atau video sering kali gagal dipahami hanya dengan melihat baris kodenya saja.
Kita akan segera melihat apakah “transparansi 7 hari” ini akan benar-benar membuka kotak pandora cara kerja media sosial, atau hanya sekadar tumpukan kode yang membingungkan demi memuaskan regulator. Satu hal yang pasti, mata dunia—dan regulator Eropa—sedang mengawasi dengan seksama.

