Ilustrasi seorang pebisnis yang cemas menghadapi tekanan finansial akibat gelembung AI.

Investor Mulai Ragu, Saham TSMC Anjlok Gegara Biaya AI Membengkak

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø2 menit membaca
Bagikan:
  • Saham TSMC anjlok 4% meskipun mencatatkan pendapatan rekor lebih dari $40 miliar di kuartal kedua.
  • Kejatuhan dipicu oleh kenaikan perkiraan belanja modal (capex) TSMC untuk 2026 menjadi $60-64 miliar.
  • Investor mulai ragu dengan kemampuan industri AI menghasilkan keuntungan sepadan dengan investasi $1,6 triliun.
  • Indeks Nasdaq 100 ikut tertekan, turun 1,4% setelah kabar ini.
  • Narasi gelembung AI kini menjadi pandangan mainstream di kalangan investor.

Telset.id – Kekhawatiran terhadap gelembung kecerdasan buatan (AI) semakin nyata. Saham raksasa semikonduktor Taiwan, Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC), justru anjlok setelah perusahaan mencatatkan pendapatan kuartal kedua yang memecahkan rekor, menandakan bahwa investor mulai kehilangan kepercayaan pada kemampuan industri AI untuk menghasilkan keuntungan.

TSMC, yang merupakan mitra manufaktur utama bagi Nvidia, pemain kunci dalam ledakan AI, melaporkan pendapatan fantastis lebih dari $40 miliar pada kuartal kedua tahun ini. Namun, alih-alih disambut gembira, kabar baik ini justru memicu aksi jual. Saham TSMC ambles hingga empat persen, menyeret indeks Nasdaq 100 turun 1,4 persen pada Kamis lalu.

Penyebab utama kejatuhan ini adalah revisi besar-besaran terhadap belanja modal (capital expenditure/capex) TSMC. Perusahaan tersebut menaikkan perkiraan pengeluaran untuk tahun 2026 menjadi kisaran $60-64 miliar, naik signifikan dari perkiraan sebelumnya yang sebesar $52-56 miliar. Kenaikan ini menjadi ujian nyata seberapa besar investor masih bersedia menelan biaya mahal untuk pengembangan AI, yang sejauh ini belum mampu membenarkan investasi hampir $1,6 triliun yang telah digelontorkan selama dekade terakhir.

Reaksi pasar ini mengirimkan sinyal yang jelas. Pertama, kabar baik semata tidak lagi cukup untuk menjaga kepercayaan investor. Kedua, narasi tentang gelembung AI tidak lagi hanya dipercaya oleh segelintir orang, melainkan mulai menjadi pandangan utama di kalangan investor yang semakin waspada.

Kekhawatiran ini bukanlah hal baru. Sebelumnya, para peramal ekonomi telah memperingatkan bahwa pengeluaran berlebihan untuk AI telah mencapai tingkat yang jauh lebih parah dibandingkan dengan Black Tuesday, hari yang memicu krisis ekonomi terburuk dalam sejarah industri. Kini, kekhawatiran tersebut mulai terbukti di pasar saham.

TSMC, sebagai barometer utama kepercayaan investor terhadap AI, menunjukkan bahwa meskipun pendapatan perusahaan meroket, biaya yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan tersebut juga melonjak. Investor mulai mempertanyakan kapan investasi besar-besaran ini akan membuahkan hasil yang nyata.

Koreksi saham TSMC ini juga berdampak pada indeks teknologi lainnya. Nasdaq 100, yang sarat dengan saham-saham teknologi, mengalami penurunan beruntun. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen negatif terhadap AI mulai menyebar ke seluruh sektor.

Ke depannya, pasar akan terus mengamati bagaimana perusahaan-perusahaan AI, termasuk Nvidia dan TSMC, dapat membuktikan bahwa teknologi ini mampu memberikan nilai yang sepadan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Jika tidak, gelembung AI yang selama ini dikhawatirkan bisa segera pecah.

Ilustrasi seorang pebisnis yang cemas menghadapi tekanan finansial akibat gelembung AI.

Investor kini dihadapkan pada kenyataan pahit: janji-janji besar AI sejauh ini belum sepenuhnya terwujud. Sementara perusahaan terus membelanjakan miliaran dolar, keuntungan yang dihasilkan masih belum sebanding. Hal ini memicu keraguan yang meluas di kalangan pelaku pasar.

Kisah TSMC ini menjadi pengingat bahwa optimisme berlebihan terhadap suatu teknologi bisa berujung pada kekecewaan. Pasar kini menunggu bukti nyata bahwa AI dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, bukan sekadar gelembung yang siap meledak.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.