Logo A24 dalam versi piksel yang muncul sebelum film-film studio independen tersebut

Investasi Google di A24 Bikin Fans Kecewa

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Google investasi USD 75 juta di A24 untuk kemitraan riset AI pembuatan film
  • Kolaborasi dengan DeepMind untuk ciptakan alat produksi dan distribusi film baru
  • Fans kecewa berat, menganggap ini pengkhianatan terhadap nilai artistik A24
  • A24 Labs sedang kembangkan alat storyboard berbasis AI
  • Sutradara Backrooms, Kane Parsons, kritik keras penggunaan generative AI
  • Disney sebelumnya juga bermitra dengan OpenAI namun berakhir buruk
  • Kemitraan tidak beri Google akses ke data atau perpustakaan film A24

Telset.id – Google menginvestasikan dana sebesar USD 75 juta ke studio film independen A24 sebagai bagian dari kemitraan riset AI untuk menciptakan alat pembuatan film berbasis kecerdasan buatan. Keputusan ini langsung memicu kekecewaan besar di kalangan penggemar setia studio yang dikenal dengan film-film arthouse tersebut.

Menurut laporan The Wall Street Journal pada Senin lalu, investasi ini melibatkan kolaborasi dengan laboratorium AI DeepMind milik Google. Tujuannya adalah membantu menciptakan “alat baru untuk produksi dan distribusi film.” Yang menarik, kesepakatan ini tidak memberikan Google akses ke data A24, termasuk perpustakaan film mereka.

Bagi para penggemar A24, kabar ini terasa seperti pengkhianatan. Studio yang selama ini dikenal sebagai underdog cerdas yang mengedepankan film-film berbasis visi sutradara, kini justru merangkul teknologi yang dianggap banyak kalangan sebagai ancaman bagi kreativitas manusia. “There goes A24,” tulis salah satu postingan viral di media sosial. “Kenapa mereka terus memaksakan AI pada kami,” keluh pengguna lainnya.

Meskipun jumlah investasi tergolong kecil menurut standar industri teknologi, kemitraan ini memiliki makna simbolis yang signifikan. Ini menandai salah satu dari sedikit kolaborasi antara studio film arus utama dengan perusahaan AI. Sebelumnya, Disney juga menjalin kemitraan besar dengan OpenAI tahun lalu, namun berakhir dengan buruk ketika OpenAI tiba-tiba menutup alat generator video Sora pada bulan Maret.

Scott Belsky, seorang mitra di A24, mengakui adanya ambivalensi para pembuat film terhadap teknologi AI. Namun menurutnya, hal itu terjadi karena belum ada yang menerapkan AI dengan cara yang benar dan artistik. “Kami pikir ada penggunaan yang lebih baik yang menjaga kontrol kreatif dan mendukung pengambilan risiko,” kata Belsky kepada WSJ. Alat-alat baru tersebut “tidak akan terlihat seperti tipe AI generatif berbasis perintah yang membuat orang merasa tidak nyaman,” tambahnya.

Versi piksel dari logo A24 terkenal yang muncul sebelum banyak film dan trailernya.

Tim beranggotakan 20 orang yang dipimpin Belsky, bernama A24 Labs, saat ini sedang mengembangkan alat untuk storyboard yang dihasilkan AI. Langkah ini menarik karena sutradara legendaris Martin Scorsese baru-baru ini mendukung sebuah startup AI yang menyediakan alat storyboard, yang memicu krisis eksistensial di kalangan pencinta film.

Kontroversi ini semakin memanas ketika para penggemar mengingatkan pernyataan Kane Parsons, sutradara muda berusia 20 tahun yang mengarahkan film tersukses A24 hingga saat ini, “Backrooms.” Parsons baru-baru ini melontarkan kritik keras terhadap penggunaan AI di dunia seni. Film horornya yang sukses besar—kini menjadi film dengan pembukaan terbesar A24 sepanjang masa—sering dipandang sebagai alegori tentang AI.

“Jika saya bisa menjentikkan jari dan membuat generative AI menghilang selamanya, saya mungkin akan melakukannya,” kata Parsons dalam sebuah wawancara. “Secara kreatif, saya tidak mendapat kesenangan sama sekali dari menggunakan alat-alat itu. Itu benar-benar mengalahkan tujuannya bagi saya.” Ia menambahkan, “Bagi saya, generative AI terasa kurang seperti inovasi dan lebih seperti gejala dari pembusukan budaya dan ekonomi yang lebih luas.”

Kekhawatiran tentang AI di industri kreatif bukanlah hal baru. Sebelumnya, platform streaming Crunchyroll dituduh menggunakan ChatGPT untuk menerjemahkan subtitle anime, yang membuat para penggemar marah besar. Kasus ini menunjukkan bahwa resistensi terhadap AI di kalangan penggemar konten kreatif sudah menjadi fenomena yang meluas.

Bagi A24, investasi ini adalah langkah berani yang bisa mengancam loyalitas penggemar yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Studio yang dikenal dengan branding kuatnya—di mana nama A24 seringkali lebih dikenal daripada sutradara atau aktor utamanya—kini harus menghadapi kenyataan pahit: bahwa inovasi teknologi tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai artistik yang selama ini mereka junjung.

Di sisi lain, Google terus mendorong adopsi AI di berbagai sektor, termasuk industri hiburan. Namun, data menunjukkan bahwa Apple ikut-ikutan bikin perangkat AI wearable yang justru dianggap aneh oleh para penggemar. Ini menunjukkan bahwa bahkan raksasa teknologi pun kesulitan meyakinkan publik tentang manfaat AI dalam konteks kreatif.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah alat yang dikembangkan A24 Labs benar-benar akan berbeda dari AI generatif yang selama ini dikritik. Belsky berjanji bahwa alat-alat tersebut “tidak akan terlihat seperti prompted generation type of AI” yang membuat orang tidak nyaman. Namun, skeptisisme tetap tinggi mengingat inti dari teknologi AI generatif tetaplah sama: menghasilkan konten berdasarkan data pelatihan.

Fenomena ini mengingatkan pada kasus Nothing main mata dengan Jaguar yang juga menuai kebingungan di kalangan penggemar. Ketika merek yang dicintai mulai mengambil langkah-langkah yang tidak terduga, reaksi penggemar seringkali negatif karena merasa nilai-nilai inti dari merek tersebut terancam.

Investasi Google di A24 ini menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana tekanan untuk berinovasi dengan AI bisa berbenturan dengan ekspektasi audiens. Bagi A24, tantangannya kini adalah bagaimana menyeimbangkan antara adopsi teknologi baru dengan mempertahankan identitas artistik yang telah membuat mereka dicintai.

Pada akhirnya, kesuksesan kemitraan ini akan sangat tergantung pada bagaimana alat-alat AI tersebut digunakan. Apakah akan benar-benar membantu proses kreatif tanpa menghilangkan sentuhan manusia, atau justru menjadi awal dari erosi nilai-nilai artistik yang selama ini dijunjung A24. Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: para penggemar akan terus mengawasi dengan skeptis.

Komentar

Belum ada komentar.