Ilustrasi Infinity AI infrastructure kumpulkan pendanaan untuk tantang dominasi Nvidia

Infinity Kumpulkan Dana Rp 1,6 Triliun, Tantang Dominasi Nvidia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Infinity AI infrastructure berhasil kumpulkan pendanaan $15 juta dengan valuasi $100 juta
  • Investor termasuk Touring Capital, Principal VC, dan peneliti dari OpenAI serta Anthropic
  • Startup bangun perangkat lunak kernel alternatif CUDA untuk berbagai jenis chip
  • Agen riset AI Ignition tulis kode tingkat rendah untuk inferensi AI di chip alternatif Nvidia
  • Pelanggan termasuk D-Matrix, dalam pembicaraan dengan perusahaan chip dan cloud besar
  • Model bisnis tanpa biaya lisensi, ambil bagian dari peningkatan performa dan penghematan biaya
  • Infinity memiliki 26 karyawan di bidang desain, operasi, dan teknik

Telset.id – Startup AI infrastructure Infinity berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar $15 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun dengan valuasi mencapai $100 juta. Pendanaan ini dipimpin oleh Touring Capital, Principal VC, serta sejumlah peneliti dari perusahaan raksasa seperti OpenAI dan Anthropic. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa persaingan di pasar chip AI semakin memanas, terutama untuk menantang dominasi Nvidia yang selama ini menjadi pemain utama.

Infinity mengembangkan perangkat lunak yang dirancang untuk memudahkan chip AI dalam menjalankan model-model kecerdasan buatan. Salah satu alasan utama Nvidia menjadi pemimpin pasar bukan hanya karena chip berperforma tinggi, tetapi juga karena perangkat lunak CUDA (Compute Unified Device Architecture). CUDA memungkinkan GPU yang awalnya dirancang untuk grafis berfungsi sebagai CPU pemrosesan serbaguna.

Framework AI terbesar seperti PyTorch dan TensorFlow dibangun di atas CUDA. Hal ini memungkinkan developer menulis aplikasi dalam bahasa populer seperti Python, dan aplikasi tersebut secara default akan berjalan di chip Nvidia. Sebagian besar startup di level aplikasi tidak memiliki sumber daya atau pengetahuan untuk menulis kernel sendiri, yaitu perangkat lunak tingkat rendah yang mengoperasikan chip, dan memindahkan aplikasi mereka ke chip AI lain.

Infinity hadir untuk menjembatani kesenjangan ini dengan membangun perangkat lunak kernel alternatif CUDA yang kompatibel dengan berbagai jenis chip, seperti SRAM, GPU, chip ponsel, dan Systolic Arrays. Startup ini menjadi bagian dari gelombang baru perusahaan yang berusaha menggerogoti dominasi pasar Nvidia produk demi produk.

Infinity berupaya membangun pustaka inferensi universal yang dapat berjalan di semua chip, memungkinkan chip tersebut mengotomatiskan replikasi hasil penelitian mutakhir. Pendekatan ini sangat relevan di tengah tren pengembangan AI yang semakin kompetitif, termasuk langkah Meta yang menggunakan DDR4 bekas server untuk keperluan AI inference.

Infinity didirikan tahun lalu oleh Jeremy Nixon, mantan peneliti di Google Brain dan pencipta komunitas hacker network AGI House. Nixon mengaku kepada TechCrunch bahwa ia memutuskan mendirikan perusahaan ini karena terobsesi dengan gagasan “automated invention” — keyakinan bahwa sistem AI dapat menjadi meta-teknologi.

Nixon sendiri telah menemukan algoritma machine learning bernama Omega yang secara esensial menciptakan algoritma machine learning baru dan secara otomatis mengevaluasinya dalam putaran umpan balik. Keberhasilan itu mendorongnya untuk mencari kasus lain di mana pendekatan ini bisa diterapkan, dan ia beralih ke hardware. Ia percaya bahwa sistem otomatis juga dapat menghasilkan kode tingkat rendah, seperti kernel, yang diperlukan untuk membantu menjalankan chip secara lebih efektif.

Agen riset AI Infinity yang diberi nama Ignition dirancang untuk menulis kode tingkat rendah yang diperlukan untuk inferensi AI pada chip alternatif Nvidia. Ignition menguji, men-debug, dan mengukur seberapa cepat hardware bekerja dengan kode tersebut, serta secara otomatis menulis ulang kode jika diperlukan untuk meningkatkan performa.

Sistem ini bersifat self-optimizing, artinya ia terus belajar dan meningkatkan dirinya sendiri. Ignition juga dapat beradaptasi dengan berbagai arsitektur chip, terlepas dari desain proprietary-nya. Hasilnya adalah tumpukan perangkat lunak setara CUDA yang diklaim oleh Infinity.

Pelanggan Infinity saat ini termasuk pembuat chip AI D-Matrix, yang juga merupakan penantang Nvidia. Infinity juga sedang dalam pembicaraan dengan perusahaan chip dan cloud besar lainnya, menurut Nixon. Manusia tetap terlibat dalam proses ini, memberikan arahan tingkat tinggi sementara agen melakukan pekerjaan yang lebih detail dan berulang.

Dalam sebuah studi kasus, startup ini menemukan bahwa agen bekerja jauh lebih cepat daripada manusia saja, mengurangi proses yang bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun menjadi hitungan jam atau hari. Model bisnis Infinity tidak membebankan biaya lisensi di muka. Sebagai gantinya, mereka mengambil bagian dari peningkatan performa dan penghematan biaya, dengan mengukur perubahan dalam token per detik.

Saat ini, Infinity memiliki 26 karyawan, termasuk mereka yang bekerja di bidang desain, operasi, dan teknik. Keberhasilan Infinity dalam mengumpulkan dana segar menunjukkan bahwa investor percaya pada pendekatan mereka untuk menantang dominasi Nvidia. Perkembangan ini juga menjadi sorotan di tengah tren harga GPU Nvidia yang turun di pasar.

Dengan pendekatan yang inovatif dan dukungan dari investor terkemuka, Infinity berpotensi menjadi pemain kunci dalam ekosistem AI di masa depan. Langkah mereka untuk membangun alternatif CUDA yang universal dapat membuka jalan bagi adopsi chip AI yang lebih luas dan beragam, mengurangi ketergantungan pada satu vendor saja.

Ke depannya, persaingan di pasar chip AI diprediksi akan semakin sengit. Inovasi seperti yang dilakukan Infinity, termasuk pengembangan CPU monolitik 88-core untuk AI inference, akan menjadi faktor penentu dalam menentukan pemimpin pasar berikutnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.