Telset.id – Seorang pengguna kecewa menggugat Anthropic secara class action atas dugaan praktik menyesatkan terkait batas pemakaian paket langganan AI termahal mereka. Gugatan yang diajukan ke pengadilan federal pada Senin lalu ini menuntut pengembalian dana bagi seluruh pengguna paket “Max 5x” dan “Max 20x”.
Gugatan yang dilaporkan oleh *The Wall Street Journal* ini menjadi sinyal adanya resistensi dari pengguna berat terhadap kebijakan biaya layanan AI. Anthropic sendiri telah menjadi penyedia utama alat bantu coding AI, dengan paket termurah Claude Pro dibanderol USD 17 hingga USD 20 per bulan.
Untuk tugas coding yang lebih berat, Anthropic menawarkan paket Max 5x seharga USD 100 per bulan dan Max 20x seharga USD 200 per bulan. Kedua paket ini menjanjikan batas pemakaian yang jauh lebih tinggi. Namun, gugatan tersebut menuduh bahwa pelanggan tidak mendapatkan apa yang dijanjikan.
Secara spesifik, gugatan menyebut bahwa Max 5x seharusnya memberikan kapasitas lima kali lipat dari batas Pro, dan Max 20x dua puluh kali lipatnya. Janji ini masih terpampang di situs web Anthropic. Namun dalam praktiknya, klaim tersebut dinilai “jauh di bawah jumlah yang diiklankan” sehingga dianggap sebagai praktik penipuan.
Penggugat, Karl Kahn, mengaku mengalami sendiri batasan ini. Dalam pengalamannya, ia mencapai batas pemakaian mingguan pada langganan Max 20x hanya dalam beberapa minggu setelah upgrade. Dalam satu sesi kerja selama lima jam saja, ia telah menghabiskan 15 persen dari jatah mingguannya.
Akibatnya, Kahn “harus menghentikan pekerjaannya, menjatah pemakaian, atau membeli pemakaian tambahan untuk memastikan ia bisa menyelesaikan pekerjaannya,” demikian tuduhan dalam gugatan tersebut.
Coding merupakan salah satu tugas paling intensif yang bisa dibebankan pada model AI. Budaya di sekitarnya pun mengutamakan kecepatan dan volume. Para *vibe coder* dan insinyur perangkat lunak kerap menjalankan beberapa agen coding selama berjam-jam, yang menyebabkan tagihan bulanan bisa mencapai ribuan dolar.
Menanggapi hal ini, perusahaan AI semakin memperketat batasan coding dengan beralih ke sistem *usage-based billing*. Sistem ini membebankan biaya berdasarkan jumlah token yang dikonsumsi, yang lebih mencerminkan biaya komputasi nyata yang dikeluarkan penyedia AI.
Baca Juga:
Namun, seperti yang diargumentasikan dalam gugatan terbaru ini, perusahaan-perusahaan tersebut dinilai tidak transparan tentang bagaimana mereka melacak dan menghitung pemakaian pelanggan. Kurangnya transparansi ini menjadi inti permasalahan yang diajukan ke pengadilan.
Gugatan ini telah memicu diskusi luas di subreddit r/ClaudeAI. Sebagian pengguna menggemakan keluhan Kahn, sementara yang lain membantahnya karena menganggap paket 5x dan 20x memberikan nilai yang luar biasa.
Gugatan ini menyoroti ketegangan yang semakin meningkat antara penyedia AI dan pengguna beratnya. Di satu sisi, biaya komputasi untuk menjalankan model AI canggih sangat mahal. Di sisi lain, pengguna berhak mendapatkan transparansi penuh tentang apa yang mereka bayar.

Kasus ini berpotensi menjadi preseden penting bagi industri AI. Jika pengadilan memenangkan penggugat, hal ini bisa memaksa perusahaan AI untuk lebih terbuka tentang kebijakan pemakaian mereka. Ini juga bisa mendorong perubahan dalam cara perusahaan menyusun dan mengkomunikasikan paket langganan mereka.
Implikasinya, pengguna di masa depan mungkin akan mendapatkan informasi yang lebih jelas dan akurat sebelum memutuskan untuk berlangganan paket premium. Transparansi seperti ini penting untuk membangun kepercayaan antara penyedia layanan dan pengguna, terutama di pasar yang sedang berkembang pesat seperti AI.




Komentar
Belum ada komentar.