📑 Daftar Isi

Ilustrasi webcam dengan efek warna sebagai simbol verifikasi wajah selfie video Google

Google Mulai Dorong Login Pakai Selfie Video di Halaman Utama

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Google mulai mendorong login pakai selfie video di halaman utama
  • Fitur opsional ini pertama diumumkan Juli sebagai cara masuk akun
  • Selfie video juga dipakai menentukan cukup umur untuk layanan Google
  • Pengguna bisa ikut opsi improve Google services untuk data wajah
  • Muncul kekhawatiran privasi dan keamanan di era deepfake AI

Telset.id – Google mulai mendorong pengguna untuk masuk ke akun menggunakan selfie video, sebuah langkah opsional yang kini tampil mencolok di halaman utama mesin pencari tersebut. Fitur ini menandai pergeseran cara navigasi web, dari kata sandi ke verifikasi wajah, dan memunculkan pertanyaan soal privasi serta keamanan data biometrik miliaran pengguna.

Menurut temuan Search Engine Watch, dorongan tersebut muncul dalam bentuk ajakan di bagian bawah layar yang meminta pengguna untuk “sign in with a selfie,” lengkap dengan dua pilihan: “don’t set up” dan “set up selfie.” Fitur ini sendiri sebenarnya bukan barang baru. Google pertama kali mengumumkannya pada Juli, dengan framing sebagai cara opsional untuk masuk ke akun jika pengguna terkunci atau tidak memiliki akses ke perangkat yang biasa digunakan.

Yang baru sekarang adalah posisi promosinya. Google tidak lagi sekadar menyediakan opsi di menu pengaturan, tetapi secara aktif menawarkannya di halaman depan. Langkah ini menunjukkan bahwa raksasa mesin pencari itu kini gencar mempromosikan wajah sebagai kunci akses akun, bukan lagi sekadar pelengkap verifikasi.

Cara Kerja Selfie Video dan Cakupan Penggunaannya

Untuk mengaktifkan fitur ini, pengguna merekam video pendek wajah mereka sambil menggerakkan kepala agar algoritma menangkap berbagai sudut. Jika nantinya pengguna mengalami kesulitan masuk, Google menyatakan dalam pengumumannya bahwa pengguna cukup mengambil selfie lain untuk kembali mengakses akun.

Namun, fungsi fitur ini tampaknya tidak berhenti pada verifikasi kepemilikan akun semata. Sebuah disclaimer di halaman penyiapan menyebutkan bahwa selfie video juga akan digunakan untuk menentukan apakah pengguna “old enough to use certain Google services” atau cukup umur untuk memakai layanan Google tertentu.

Pengguna juga dapat memilih untuk ikut serta dalam opsi “improve Google services.” Jika diaktifkan, Google diizinkan memakai selfie video tersebut untuk “improve our facial recognition, age estimation, and other verification methods that use your physical features or movement, across Google services.” Artinya, data wajah berpotensi dipakai untuk menyempurnakan sistem pengenalan wajah dan estimasi usia lintas layanan Google.

A color-treated photo of a webcam.

Praktik ini menempatkan Google pada posisi yang mengumpulkan banyak data pribadi sekaligus. Perusahaan sudah lama mengoleksi data perilaku miliaran pengguna untuk mengoptimalkan mesin pencari dan menayangkan iklan bertarget. Menambahkan peta matematis wajah ke dalamnya berarti memusatkan semakin banyak aspek identitas seseorang pada satu perusahaan.

Kekhawatiran lain datang dari sisi keamanan. Di tengah perkembangan teknologi deepfake AI yang makin meyakinkan dan mudah diakses, belum jelas seberapa tangguh pemindaian pengenalan wajah menghadapi upaya pemalsuan. Selfie video memang dirancang menangkap gerakan dan sudut wajah, tetapi pertahanannya terhadap spoofing masih menjadi tanda tanya.

Dorongan selfie video ini juga bersinggungan dengan lini pengembangan Google lainnya. Perusahaan tengah memperluas peran AI di berbagai layanan, termasuk lewat agen AI keluarga yang mengelola email hingga jadwal. Di sisi lain, tekanan publik terhadap perusahaan AI kian besar, seperti terlihat dari desakan agar OpenAI dan Google memasang rem pada pengembangan superintelligence.

Sejumlah inisiatif lain menunjukkan Google sedang memperluas jejak di banyak sektor sekaligus. Ada aliansi energi data center AI bersama Nvidia dan Emerald AI, serta pengembangan perangkat yang terungkap lewat render bocoran Googlebook. Semua ini terjadi saat Google juga menggencarkan verifikasi berbasis wajah di akun pengguna.

Bagi pengguna, fitur selfie video ini masih bersifat opsional. Tidak ada kewajiban untuk menyiapkannya, dan tombol “don’t set up” tetap tersedia. Namun, penempatannya di halaman utama membuat fitur ini sulit diabaikan. Pengguna yang memilih mengaktifkannya perlu memahami bahwa data wajah mereka dapat dipakai untuk keperluan lebih luas daripada sekadar masuk akun, terutama jika mereka mencentang opsi peningkatan layanan Google.

Kombinasi antara pengumpulan data perilaku dan data biometrik membuat keputusan ini bukan sekadar soal kenyamanan. Pengguna yang mempertimbangkan selfie video sebagai metode login perlu menimbang manfaat kemudahan akses dengan konsekuensi jangka panjang atas data wajah mereka. Google sendiri menyebut fitur ini sebagai opsi pemulihan akses, tetapi cakupan disclaimer di halaman penyiapannya menunjukkan penggunaan yang lebih luas dari itu.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.