πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi toggle opt-out AI Search di Google Search Console

Google Izinkan Situs Pilih Keluar dari AI Search

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Google meluncurkan toggle opt-out AI Search di Search Console untuk webmaster
  • Fitur diuji coba di Inggris sebelum diperluas global
  • Situs yang opt-out tidak dapat traffic dari generative AI features
  • AI Overviews kurangi organic CTR posisi pertama hingga 58%
  • AI Overviews sudah menjangkau lebih dari 100 negara sejak 2024
  • Google juga rilis wawasan AI baru di Search Console
  • Publisher dihadapkan pada dilema antara melindungi konten atau tetap relevan

Telset.id – Google resmi memberikan opsi bagi pemilik situs untuk mengecualikan domain mereka dari hasil pencarian berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui sebuah toggle baru di Search Console. Fitur ini mulai diuji coba di Inggris sebelum diperluas ke seluruh dunia.

Keputusan ini diumumkan langsung oleh Google melalui blog resminya pada awal Juni 2026. Perusahaan menyatakan bahwa mereka akan menguji coba toggle tersebut untuk sejumlah kecil domain di Inggris terlebih dahulu. Langkah ini merupakan respons terhadap kekhawatiran para penerbit konten yang merasa dirugikan oleh kehadiran AI Overviews.

β€œSitus yang memilih keluar tidak akan menerima traffic atau impressions dari fitur generative AI kami,” demikian bunyi pernyataan resmi Google. Lebih lanjut, Google menegaskan bahwa pengaturan ini tidak akan digunakan sebagai sinyal peringkat untuk hasil pencarian di luar fitur AI Search.

Kebijakan ini menjadi angin segar sekaligus dilema bagi para publisher. Di satu sisi, mereka bisa melindungi konten dari ringkasan AI yang mengurangi kunjungan langsung. Di sisi lain, dengan semakin banyaknya pengguna yang mengandalkan AI summaries, keputusan untuk keluar justru bisa menjadi bumerang.

Dampak AI Overviews terhadap Traffic Situs

Sejak diperkenalkan pada Mei 2024 di Amerika Serikat, AI Overviews telah berkembang pesat. Pada akhir tahun yang sama, fitur ini sudah menjangkau lebih dari 100 negara. Memasuki awal 2026, Google mentransformasi AI Overviews menjadi AI Mode, di mana pengguna bisa mengajukan pertanyaan lanjutan di bawah ringkasan AI.

Data dari studi Ahrefs menunjukkan bahwa kehadiran AI Overviews mengurangi organic CTR untuk konten di posisi pertama hingga 58 persen. Ini artinya, pengguna cenderung tidak mengklik tautan situs dan hanya mengandalkan ringkasan AI. Akibatnya, pendapatan publisher turun drastis dan beberapa media besar gulung tikar.

Google sendiri menyadari dampak ini dan terus berupaya memberikan kontrol lebih kepada webmaster. Selain toggle opt-out, Google juga merilis wawasan baru di Search Console yang menampilkan data mendalam terkait AI. Informasi ini mencakup halaman mana saja yang muncul dalam respons AI dan di negara mana.

β€œKami terus bekerja sama dengan pemilik situs untuk memahami wawasan apa yang paling membantu dalam menyusun strategi mereka, dan kami akan memperkenalkan metrik tambahan seiring waktu,” tulis Google dalam pengumumannya.

Pilihan Sulit bagi Publisher

Keputusan untuk memilih keluar dari AI Search bukanlah perkara mudah. Di satu sisi, publisher ingin melindungi konten mereka agar tidak dikutip secara gratis oleh AI. Namun di sisi lain, dengan semakin populernya AI Mode, ketidakhadiran di hasil AI justru bisa membuat situs tersebut tidak terlihat sama sekali oleh pengguna.

Google menegaskan bahwa toggle ini hanya memengaruhi generative AI features, bukan hasil pencarian reguler. Artinya, situs yang memilih keluar tetap akan muncul di hasil pencarian biasa, namun tidak akan ditampilkan dalam ringkasan AI atau AI Mode.

Perusahaan juga mengingatkan bahwa pengaturan ini tidak akan memengaruhi peringkat situs di hasil pencarian non-AI. Hal ini penting untuk memastikan publisher tidak ragu menggunakan fitur tersebut tanpa khawatir terkena penalti.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Google mulai mendengarkan keluhan para publisher yang merasa dirugikan oleh AI. Sebelumnya, banyak pihak mengkritik kebijakan Google yang dianggap terlalu agresif dalam mengadopsi AI tanpa mempertimbangkan dampak terhadap ekosistem konten.

Bagi publisher yang ingin mempertahankan traffic dari AI Search, mereka harus bersiap menghadapi perubahan perilaku pengguna. Data menunjukkan bahwa mayoritas pengguna kini lebih memilih membaca ringkasan AI daripada mengklik tautan asli.

Google juga terus mengembangkan fitur AI lainnya. Pada konferensi I/O bulan Mei lalu, perusahaan mengumumkan Dynamic Search Box yang bisa memperluas ukurannya sesuai dengan panjang query dan mendukung gambar, video, file, serta tab Chrome sebagai input data.

Di sisi lain, Google juga aktif dalam pengembangan keamanan. Perusahaan baru saja merilis deteksi penipuan suara AI di aplikasi Phone sebagai bagian dari June Drop 2026. Langkah ini menunjukkan komitmen Google dalam melindungi pengguna dari ancaman berbasis AI.

Dengan adanya opsi opt-out ini, masa depan pencarian internet semakin tidak menentu. Publisher harus bijak dalam menentukan strategi, apakah akan tetap bergabung dengan ekosistem AI Google atau memilih jalan sendiri.

Keputusan ini juga berpotensi mengubah lanskap persaingan mesin pencari. Jika banyak situs besar memilih keluar, kualitas hasil AI Search bisa menurun drastis. Sebaliknya, jika semua situs tetap bertahan, publisher harus menerima kenyataan bahwa traffic mereka akan terus tergerus.

Google berjanji akan terus memantau perkembangan dan menyesuaikan kebijakan berdasarkan masukan dari para webmaster. Perusahaan juga membuka kemungkinan untuk menambahkan metrik tambahan di Search Console di masa mendatang.

Bagi publisher yang masih ragu, Google menyarankan untuk menunggu hasil uji coba di Inggris sebelum mengambil keputusan. Data dari uji coba ini diharapkan bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang dampak opt-out terhadap traffic dan pendapatan.

Perubahan ini terjadi di tengah persaingan ketat di industri mesin pencari. Google harus menjaga keseimbangan antara inovasi AI dan kepentingan publisher yang selama ini menjadi tulang punggung ekosistem konten.

Ke depannya, Google diperkirakan akan terus menyempurnakan fitur AI Search-nya. Perusahaan juga berencana untuk merilis pembaruan keamanan besar-besaran, termasuk patch untuk 124 kerentanan yang salah satunya merupakan zero-day berbahaya.

Dengan segala dinamika ini, satu hal yang pasti: internet sedang berubah, dan publisher harus siap beradaptasi. Opsi opt-out dari AI Search mungkin bukan solusi sempurna, tapi setidaknya memberikan pilihan di tengah ketidakpastian.

Keputusan akhir tetap ada di tangan masing-masing webmaster. Apakah akan bertahan di era AI atau memilih keluar dan mencari strategi baru? Waktu yang akan menjawab.

New tools showing deep AI-related metrics are now available in the Search Console.

The end of Google Search as we know it?

Komentar

Belum ada komentar.