Iklan Google Workspace bertema kemerdekaan AS dengan Founding Fathers menggunakan AI Gemini

Google Iklan AI Kemerdekaan AS, Para Pendiri Bangsa Pakai Workspace

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Google merilis iklan untuk merayakan 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan AS
  • Iklan membayangkan Founding Fathers menggunakan Google Workspace dan AI Gemini
  • Fitur AI yang ditampilkan termasuk "help me visualize" dan Gemini untuk notulen rapat
  • Respons publik terpolarisasi: positif di YouTube/Instagram, kritis di Bluesky
  • Sejarawan Angus Johnston mengkritik bahwa AI tidak relevan untuk kolaborasi manusia
  • Iklan ini dianggap lebih halus dibandingkan iklan AI Google sebelumnya yang kontroversial

Telset.id – Google baru saja merilis iklan komersial yang unik untuk merayakan 250 tahun penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Iklan ini membayangkan skenario jika para Founding Fathers memiliki akses ke Google Workspace, lengkap dengan sentuhan kecerdasan buatan (AI) Gemini.

Dengan tagline “Group project, but make it 1776,” iklan tersebut menggambarkan Thomas Jefferson yang sedang menyusun draf deklarasi, lalu menerima pesan teks dari Benjamin Franklin. Proses kolaborasi pun berlangsung dengan nuansa Google yang kental. Saran suntingan diberikan melalui Google Docs, rapat dijadwalkan lewat Google Calendar dan dilakukan secara jarak jauh via Google Meet, hingga dokumen final ditandatangani secara digital.

Tentu saja, karena ini adalah iklan dari perusahaan teknologi di tahun 2026, AI memainkan peran penting. Para Founding Fathers versi fiksi ini menggunakan alat AI Google “help me visualize” untuk mencoba berbagai gambar hewan pada lambang negara. Gemini juga bertugas mencatat notulen rapat, dan para pendiri bangsa bahkan meminta saran dari chatbot sebelum menolak permintaan akses dokumen dari Raja George III.

Nada iklan ini sangat sarkastik dan humoris. Pada satu titik, Sam Adams bertanya, “Bisakah kita selesaikan ini sambil minum bir?”. Yang menarik, penyisipan pesan AI dalam iklan ini relatif lebih halus dibandingkan dengan banyak iklan Google lainnya baru-baru ini. Iklan ini secara sengaja menghindari kesan bahwa teks asli Deklarasi Kemerdekaan perlu diperbaiki dengan bantuan AI, berbeda dengan iklan kontroversial sebelumnya di mana seorang ayah menggunakan Gemini untuk menulis surat penggemar untuk putrinya.

Namun, elemen yang paling kentara dari kehadiran AI justru terletak pada kualitas visual videonya. Banyak pengamat menilai bahwa footage iklan tersebut memiliki pancaran “uncanny glow” yang khas dari video hasil generasi AI. Meskipun komentar penonton di YouTube dan Instagram tampak sebagian besar positif, respons di platform Bluesky justru jauh lebih kritis. Banyak pengguna menyebut iklan tersebut “cringey” dan “stunningly tone deaf,” dengan sudut pandang AI menjadi sasaran kritik utama.

Sejarawan Angus Johnston bahkan berkomentar bahwa “sungguh menakjubkan betapa sedikitnya AI yang sebenarnya digunakan dalam iklan ini.” Ia menambahkan, “Bahkan dalam lelucon fantasi yang norak sekalipun, mustahil untuk membuat argumen bahwa AI adalah alat yang berguna untuk organisasi politik, penulisan, atau kolaborasi manusia.” Kritik ini menyoroti kegagalan Google dalam menyajikan AI sebagai alat kolaborasi yang autentik, bahkan dalam konteks fiksi.

Iklan ini menjadi contoh menarik bagaimana perusahaan teknologi besar seperti Google terus berupaya mengintegrasikan narasi AI ke dalam kampanye pemasaran mereka. Namun, respons publik yang terpolarisasi menunjukkan bahwa masih ada celah antara visi perusahaan tentang AI dan persepsi publik, terutama di kalangan pengguna yang lebih kritis. Bagi para pengamat industri, iklan ini adalah studi kasus tentang bagaimana AI Tools dipasarkan kepada publik.

Kritik tajam dari komunitas tertentu juga mengindikasikan bahwa pendekatan humor dan fiksi sejarah belum cukup untuk meyakinkan skeptis tentang nilai guna AI sehari-hari. Sementara Google mungkin melihat iklan ini sebagai cara yang ringan untuk mempromosikan Fitur AI, para kritikus melihatnya sebagai upaya yang tidak peka dan tidak relevan. Perdebatan ini kemungkinan akan terus berlanjut seiring dengan semakin masifnya investasi Google pada infrastruktur AI.

Pada akhirnya, iklan ini lebih banyak berbicara tentang tantangan Google dalam mengkomunikasikan nilai AI kepada publik daripada tentang sejarah Amerika. Respon yang beragam menunjukkan bahwa meskipun teknologi AI semakin canggih, penerimaan publik terhadap perannya dalam proses kreatif dan kolaboratif masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Google dan perusahaan teknologi lainnya. Iklan ini, dengan segala kontroversinya, justru menjadi cermin dari ekspektasi dan kekhawatiran publik terhadap AI di tahun 2026.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.