📑 Daftar Isi

Tampilan antarmuka aplikasi Google Gemini dengan berbagai fitur AI seperti Spark dan Daily Brief

Google Gemini Dinilai Terlalu Ramai dengan Branding Fitur AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Google mengumumkan fitur suara baru untuk Gemini Live namun menuai kritik karena aplikasi terlalu ramai dengan branding fitur AI
  • Pengguna harus berpindah antara chat, Spark, dan Daily Brief yang masing-masing memiliki ikon dan navigasi terpisah
  • Daily Brief dinilai tidak dapat membedakan informasi mendesak dengan dorongan tidak diminta, bahkan terkesan mengganggu privasi
  • Spark sebenarnya berguna sebagai agen AI tetapi tidak perlu dikemas sebagai merek mandiri
  • Masalah serupa juga terjadi di Claude dan ChatGPT yang mengekspos arsitektur internal ke konsumen
  • Pendekatan Apple dengan Siri dinilai lebih baik karena tidak meminta pengguna mempelajari antarmuka baru
  • Layanan AI berbasis teks seperti Poke dan Ollie semakin populer karena kesederhanaannya
  • Google perlu menyederhanakan pengalaman pengguna Gemini agar lebih intuitif

Telset.id – Google baru saja mengumumkan fitur suara baru untuk Gemini Live, namun langkah tersebut justru memunculkan kritik karena aplikasi Gemini dinilai terlalu ramai dengan berbagai branding fitur AI yang membingungkan pengguna. Alih-alih menyederhanakan pengalaman, Google malah menambah lapisan kompleksitas dengan memisahkan fitur-fitur seperti Spark dan Daily Brief sebagai entitas dengan merek dan ikon tersendiri di dalam aplikasi.

Dalam pengumuman resminya pada Rabu, Google menyatakan bahwa pengguna “tidak perlu menebak apakah suatu tugas memerlukan Spark, Daily Brief, atau pencarian inbox cepat.” Namun pernyataan tersebut terkesan kontradiktif dengan desain aplikasi Gemini yang justru mengharuskan pengguna berpindah-pindah antara mode chat, Spark, dan Daily Brief — tiga fitur terpisah yang masing-masing memiliki ikon dan tempat sendiri di navigasi aplikasi. Kondisi ini membuat pengalaman pengguna menjadi kurang intuitif dan menunjukkan bahwa Gemini masih kesulitan menemukan fitur andalan yang benar-benar dibutuhkan pasar.

Daily Brief dan Spark: Dua Sisi Masalah yang Berbeda

Daily Brief, misalnya, tampak seperti fitur yang dirancang oleh insinyur AI, bukan oleh pengguna sehari-hari. Fitur ini pada dasarnya adalah agenda bertenaga AI yang menawarkan “pembaruan proaktif dan personal” menggunakan data dari aplikasi Google, seperti Gmail dan Kalender. Namun dalam praktiknya, Daily Brief tidak dapat membedakan antara informasi yang mendesak atau dapat ditindaklanjuti dengan dorongan yang tidak diminta untuk menindaklanjuti hal-hal lain — seperti mengingatkan pengguna untuk melanjutkan riset yang dimulai di chatbot, atau bahkan memunculkan kembali pencarian Google sebelumnya.

Masalah kedua ini terasa tidak berguna, bahkan terkesan mengganggu privasi. Jika seorang pengguna sedang meneliti beasiswa kuliah atau penyelamatan hewan di Google, bukan berarti mereka ingin AI mengetuk pundak mereka di kemudian hari mengenai topik tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana personalisasi yang dilakukan AI dapat diterima oleh pengguna.

Di sisi lain, Spark memiliki masalah yang berlawanan. Fitur ini merupakan salah satu aspek paling berguna dari aplikasi Gemini — sebuah agen AI yang dapat mengambil tindakan atas nama pengguna. Namun Google mengemasnya sebagai merek mandiri yang sebenarnya tidak perlu. Secara internal, para insinyur Google mungkin ingin berada di tim Spark, dan itu tidak masalah — tetapi pengguna aplikasi AI arus utama sama sekali tidak perlu memikirkan “sisi” mana dari aplikasi AI yang harus mereka gunakan untuk tugas tertentu. Mereka seharusnya cukup mengetik permintaan, dan AI yang menangani cara kerjanya, memunculkan agen jika tugas membutuhkannya.

Baca Juga:

Masalah ini sebenarnya tidak terbatas pada Gemini saja. Industri AI secara luas tampaknya mengekspos arsitektur internalnya langsung kepada konsumen, alih-alih menyembunyikannya di balik antarmuka yang lebih sederhana. Saat ini, pengguna harus berpikir apakah mereka ingin “chat” dengan Claude milik Anthropic atau “Cowork” dengan bantuannya. Hingga pekan ini, dua mode di dalam aplikasi Claude bahkan tidak berbagi memori percakapan masa lalu. ChatGPT juga demikian, mengharuskan pengguna berpindah antara “Chat” dan “Work.”

Desain yang berorientasi pada pemikiran engineering ini membuat interaksi dengan AI terasa tidak alami. Konsumen diminta untuk mempelajari nama-nama merek untuk apa yang sebenarnya hanyalah mode interaksi atau permukaan, yang digerakkan oleh model AI perusahaan. Ini adalah beban kognitif yang tidak perlu bagi pengguna yang hanya ingin menyelesaikan tugas mereka.

Pendekatan Apple dan Kebangkitan Layanan AI Berbasis Teks

Kondisi ini mungkin menjadi alasan mengapa pendekatan Apple yang agak antiklimaks terhadap Siri pada akhirnya bisa memenangkan hati konsumen. Pemilik perangkat Apple tidak perlu mengubah perilaku mereka yang ada untuk memanfaatkannya. Apple hanya membuat aplikasi dan fitur yang sudah digunakan orang — seperti Spotlight Search, aplikasi Foto, kamera iPhone, dan permintaan suara Siri — menjadi lebih pintar tanpa meminta pengguna mempelajari antarmuka baru.

Prinsip yang sama mungkin menjelaskan kebangkitan layanan AI berbasis teks, di mana pengguna cukup mengirim pesan ke chatbot — seperti Poke, Ollie, Lindy, Orchid, Lucas, Folk, Tomo, Instinct, atau lainnya — dan asisten tersebut langsung melakukan apa yang diminta. Pesan teks adalah antarmuka pengguna yang bersih, sederhana, dan sudah dipahami dengan baik, dan tidak membutuhkan upaya mental ekstra untuk mencari tahu fitur atau produk mana di dalam aplikasi yang lebih besar yang seharusnya digunakan.

Seperti yang baru-baru ini ditulis oleh mitra investasi a16z, Justine Moore, “Orang tidak ingin membuka aplikasi setiap kali mereka membutuhkan bantuan — mereka ingin kontak yang bisa mereka kirimi pesan seperti teman. Dan standar emasnya adalah iMessage.” Pandangan ini menegaskan bahwa kesederhanaan dan kemudahan penggunaan adalah kunci adopsi teknologi AI oleh pasar massal.

Kritik terhadap pendekatan Google ini muncul di tengah berbagai pembaruan lain yang dilakukan perusahaan untuk ekosistem Gemini. Beberapa waktu lalu, Google juga merilis Gemini 3.5 Transcribe yang mengubah ucapan menjadi teks terstruktur, serta peningkatan pada kemampuan interupsi suara di Gemini Live 3.5. Namun, meskipun ada peningkatan teknis tersebut, masalah fundamental tentang kompleksitas antarmuka tetap menjadi tantangan yang harus diatasi Google.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah apakah Google akan mendengarkan kritik ini dan menyederhanakan pengalaman pengguna Gemini, atau justru terus menambah fitur dengan branding masing-masing. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin pengguna akan semakin beralih ke layanan AI yang lebih sederhana dan intuitif, baik itu pendekatan Apple yang terintegrasi dengan sistem operasi, maupun layanan chatbot berbasis teks yang semakin populer.

Bagi pengguna di Indonesia yang mengikuti perkembangan AI, situasi ini menjadi pelajaran penting bahwa teknologi terbaik bukan hanya yang paling canggih secara teknis, tetapi juga yang paling mudah digunakan. Sebuah fitur AI yang hebat tidak akan banyak berguna jika pengguna kesulitan menemukan atau menggunakannya di tengah hiruk-pikuk antarmuka yang membingungkan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.