📑 Daftar Isi

Kantor Google dengan latar gedung modern dan langit biru

Google Bayar SpaceX Rp15 Triliun per Bulan demi Daya Komputasi AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Google dan SpaceX tanda tangani kontrak $30 miliar untuk akses pusat data xAI
  • Google bayar $920 juta per bulan dari Oktober 2026 hingga Juni 2029
  • Google dapatkan akses ke 110.000 GPU NVIDIA untuk Gemini Enterprise
  • SpaceX juga jual daya komputasi ke Anthropic sebesar $1,25 miliar per bulan
  • SpaceX dijadwalkan IPO pada 12 Juni 2026, diprediksi jadi IPO terbesar dalam sejarah

Telset.id – Google telah menandatangani kontrak senilai $30 miliar dengan SpaceX untuk mengakses pusat data milik xAI, perusahaan kecerdasan buatan Elon Musk. Kesepakatan ini menjadikan Google sebagai salah satu klien komputasi awan terbesar di dunia, dengan pembayaran bulanan mencapai $920 juta atau setara Rp15 triliun.

Berdasarkan dokumen yang diajukan SpaceX ke Securities and Exchange Commission (SEC), raksasa mesin pencari itu akan membayar $920 juta per bulan mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029. Sebagai imbalannya, Google mendapatkan akses ke 110.000 unit GPU NVIDIA, ditambah CPU dan memori dari pusat data xAI.

Kesepakatan ini terbilang unik karena Google sebenarnya memiliki jaringan pusat data global sendiri dan terus membangun yang baru. Namun, juru bicara Google Cloud kepada CNBC dan The New York Times menjelaskan bahwa ini adalah “perjanjian jangka pendek dan tepat waktu” untuk memastikan perusahaan memiliki “kapasitas jembatan” guna memenuhi lonjakan permintaan Gemini Enterprise, layanan AI berlangganan untuk perusahaan besar.

Ketentuan Ketat Jika SpaceX Gagal Penuhi Target

SpaceX menulis dalam dokumennya bahwa jika gagal memberikan akses ke jumlah GPU tersebut pada September 2026, Google memiliki dua opsi: mengakhiri kontrak segera atau menerima jumlah GPU yang tersedia dengan tingkat pembayaran yang lebih rendah setelah masa tenggang satu bulan. Ketentuan ini menunjukkan betapa kritisnya pasokan daya komputasi bagi strategi AI Google.

Kesepakatan ini terjadi di tengah persaingan ketat pasar AI. Menariknya, Google bukan satu-satunya perusahaan yang membeli daya komputasi dari SpaceX. Perusahaan milik Elon Musk itu juga memiliki kontrak dengan Anthropic, pesaing Google di ranah AI. Anthropic akan membayar $1,25 miliar per bulan hingga Mei 2029 untuk akses ke pusat data Colossus 1 milik xAI.

SpaceX sendiri dijadwalkan melantai di bursa saham pada 12 Juni 2026. Perusahaan roket tersebut diperkirakan akan mengumpulkan dana yang cukup untuk menjadikannya IPO terbesar dalam sejarah. IPO ini akan menjadi momen krusial bagi SpaceX untuk menunjukkan nilai bisnisnya di luar peluncuran roket.

Keputusan Google membayar mahal ke SpaceX menunjukkan betapa besarnya kebutuhan daya komputasi untuk menjalankan model AI modern. Meskipun Google memiliki infrastruktur cloud sendiri, permintaan dari Gemini Enterprise tampaknya melampaui kapasitas yang tersedia saat ini. Ini juga menjadi indikasi bahwa perang komputasi AI semakin memanas, di mana perusahaan teknologi rela membayar berapa pun untuk mendapatkan akses ke GPU terkini.

Bagi pengamat industri, langkah ini juga menarik karena Google dan Anthropic—yang sama-sama bergerak di bidang AI—kini bergantung pada infrastruktur yang sama, yaitu milik xAI. Situasi ini menciptakan dinamika kompetitif yang unik di mana pesaing berbagi sumber daya komputasi yang sama.

Dengan nilai kontrak yang sangat besar, kesepakatan ini diprediksi akan memengaruhi strategi ekspansi pusat data Google ke depan. Perusahaan mungkin akan mempercepat pembangunan pusat data barunya untuk mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga. Sementara itu, keberhasilan SpaceX memenuhi target GPU pada September mendatang akan menjadi ujian kredibilitas perusahaan roket tersebut di bisnis komputasi awan.

Kesepakatan ini juga menjadi bukti bahwa era AI membutuhkan investasi infrastruktur yang luar biasa besar. Google, yang memiliki kapitalisasi pasar triliunan dolar, pun harus mengeluarkan kocek ekstra untuk memastikan layanan Gemini Enterprise-nya berjalan mulus tanpa hambatan komputasi.

Bagi konsumen, dampak langsung mungkin belum terasa. Namun dalam jangka panjang, ketersediaan daya komputasi ini akan menentukan seberapa cepat dan canggih layanan AI yang bisa dinikmati publik. Gemini Enterprise sendiri merupakan produk andalan Google untuk bersaing dengan layanan AI enterprise dari Microsoft dan OpenAI.

Dengan jadwal pembayaran yang dimulai Oktober 2026, Google memiliki waktu beberapa bulan untuk mempersiapkan integrasi infrastruktur xAI ke dalam sistemnya. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, pengguna Gemini Enterprise bisa menikmati peningkatan performa yang signifikan mulai akhir tahun ini.

Komentar

Belum ada komentar.