Telset.id – George Clooney menyuarakan kekhawatirannya terhadap kemampuan AI menghasilkan deepfake yang sangat realistis, terutama yang menampilkan pemimpin dunia. Sementara itu, Maggie Gyllenhaal justru mengungkap pengalaman sebaliknya, di mana teknologi AI gagal total digunakan dalam proses pembuatan filmnya.
Kekhawatiran Clooney dan pengalaman Gyllenhaal ini terungkap dalam simposium The Future of Creativity yang digelar di Venice. Acara tersebut dipandu oleh jurnalis dan penyiar Emily Maitlis, yang bertanya kepada Clooney soal adanya rasa takut tergantikan sebagai seorang aktor.
Aktor pemenang Oscar itu mengaku pernah melihat video dirinya yang dibuat oleh AI sedang berbincang dengan Barack Obama tentang hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan. Menurutnya, deepfake semacam itu bisa menjadi lelucon bagi sebagian orang, tetapi menjadi sangat berbahaya jika menyangkut figur publik seperti presiden Rusia Vladimir Putin.
“Kami tidak pernah berada di sana melakukan percakapan. Itu adalah saya. Dan oke, itu lelucon bagi orang-orang. Tetapi bagaimana jika Anda melihat video Putin mengatakan dia telah meluncurkan serangan nuklir pertama [terhadap] Amerika Serikat — bagaimana Anda membedakannya?” ujar Clooney dalam simposium yang diselenggarakan oleh Finch & Partners dan Creative Artists Agency (CAA) tersebut.

Clooney dan Gyllenhaal merupakan bagian dari kelompok internasional yang terdiri dari seniman, pembuat film, musisi, pemikir budaya, dan pemimpin teknologi yang berkumpul untuk membahas bagaimana teknologi mengubah karya kreatif dan orang-orang yang menghasilkannya.
Meski mengakui adanya risiko tergantikan, Clooney juga menyoroti masalah fundamental yang dihadapi AI dalam menciptakan bintang film. Ia menilai akan sulit bagi AI untuk melahirkan seorang movie star layaknya aktor manusia.
“Ya, ada dua percakapan berbeda yang sedang kita bicarakan. Sebagai aktor, akan ada sebagian yang akan digantikan. AI akan memiliki masalah yang sama persis seperti yang saya hadapi sebagai sutradara, dan yang kita semua hadapi sebagai pembuat film, yaitu bagaimana Anda membuat bintang, karena itu sulit dilakukan,” jelasnya.
Baca Juga:
Pengalaman Gyllenhaal dengan AI di Film Flesh Impact
Berbeda dengan kekhawatiran Clooney, aktris sekaligus pembuat film Maggie Gyllenhaal justru membagikan pengalaman pahitnya menggunakan AI untuk proyek film pendek terbarunya berjudul Flesh Impact yang bercerita tentang Marilyn Monroe. Gyllenhaal mengaku sempat mencoba bekerja sama dengan AI atas permintaan pihak yang menugaskan proyek tersebut.
“Saya punya Marilyn Monroe berusia 100 tahun, dan saya juga punya kilas balik ke Marilyn Monroe saat usianya 30-an. Saya memiliki Dakota Johnson yang memerankannya, yang menurut saya adalah seniman yang luar biasa. Dan orang-orang yang menugaskan proyek ini meminta saya menggunakan AI… dan saya mencobanya. Saya pikir, ‘Baiklah, saya penasaran. Saya tidak tahu. Mari kita lihat.’ Dan ternyata itu fundamental tidak berhasil,” ungkap Gyllenhaal.

Gyllenhaal menjelaskan bahwa timnya melatih AI menggunakan wajah Marilyn Monroe, lalu menempelkannya di wajah Dakota Johnson. Meskipun mereka bekerja sangat keras, pada akhirnya hasil tersebut dibuang karena tidak memuaskan.
“Ide awalnya adalah kami melatihnya pada dirinya. Kami kemudian menempatkan wajahnya di wajah Dakota; kami bekerja sangat keras untuk itu, dan pada akhirnya, mereka membuangnya karena… Dakota memerankan Marilyn Monroe jauh lebih menyentuh, manusiawi, dan hidup. Semua alasan kami memutuskan untuk membuat proyek ini sejak awal,” tuturnya.
Pengalaman Gyllenhaal ini menjadi temuan menarik di tengah hiruk-pikuk industri kreatif yang mulai mengadopsi AI. Ia menemukan bahwa AI tidak mampu mereplikasi nuansa performa dan emosi manusia yang menjadi inti dari sebuah karya seni peran.
Dua Sisi AI di Industri Kreatif
Simposium di Venice ini menghadirkan dua perspektif berbeda mengenai AI di industri kreatif. Di satu sisi, kekhawatiran Clooney tentang deepfake menyoroti risiko AI terhadap kredibilitas informasi publik. Di sisi lain, pengalaman Gyllenhaal menunjukkan keterbatasan AI dalam menghasilkan kedalaman emosi yang dibutuhkan seorang sutradara dari sebuah performa.
Meskipun klip AI palsu bisa cukup meyakinkan untuk menipu seseorang, pengalaman Gyllenhaal menawarkan alasan untuk optimisme kreatif. Klaim tersebut diperkuat oleh kenyataan bahwa teknologi AI belum mampu menggantikan sentuhan manusiawi dalam seni peran, meski potensi penyalahgunaannya untuk menyebar disinformasi tetap menjadi ancaman nyata.
Kekhawatiran yang disampaikan Clooney di Venice sejalan dengan diskusi yang lebih luas tentang moderasi konten dan privasi di platform digital. Pengguna aplikasi pesan instan juga menghadapi tantangan serupa dalam mengelola jejak digital mereka, termasuk mengatur visibilitas status online dan last seen untuk melindungi privasi dari pihak yang tidak dikenal.
Perdebatan tentang AI di industri kreatif ini kemungkinan akan terus berlanjut seiring berkembangnya teknologi. Namun, setidaknya ada satu hal yang jelas: baik Clooney maupun Gyllenhaal sepakat bahwa AI, dalam bentuknya saat ini, masih jauh dari sempurna untuk urusan seni peran.





Komentar
Belum ada komentar.