Ilustrasi PHK massal di perusahaan teknologi akibat adopsi AI

Gagal Total? PHK demi AI Tak Berdampak ke Keuangan Perusahaan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • Studi Gartner survei 350 eksekutif global dari perusahaan berpendapatan minimal US$1 miliar per tahun
  • 80% eksekutif mengaku PHK karyawan untuk investasi AI
  • Perusahaan yang PHK karyawan untuk AI alami keuntungan finansial sama dengan yang tidak PHK
  • Banyak perusahaan kurangi staf untuk danai AI, korbankan pengetahuan institusional
  • MIT studi 2024: AI gagal hasilkan pertumbuhan pendapatan berarti di mayoritas perusahaan
  • Analis Gartner: PHK mungkin hanya uji coba satu kali, bukan strategi jangka panjang
  • Strategi efektif: AI sebagai 'amplifikasi manusia' untuk bantu, bukan ganti karyawan
  • 54% karyawan hindari alat AI internal perusahaan

Telset.id – Sebuah studi baru dari Gartner mengungkapkan bahwa perusahaan yang melakukan PHK massal untuk berinvestasi di kecerdasan buatan (AI) tidak mendapatkan keuntungan finansial yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang mempertahankan karyawannya. Temuan ini mempertanyakan efektiviksi strategi penggantian tenaga kerja manusia dengan AI yang marak terjadi di industri teknologi.

Seperti dilansir oleh Fortune, Gartner mensurvei 350 eksekutif bisnis global dari perusahaan dengan pendapatan minimal US$1 miliar per tahun. Survei ini bertujuan untuk menyelidiki apakah PHK yang dipicu oleh adopsi AI benar-benar memberikan hasil positif di dunia nyata.

Hasilnya, 80 persen eksekutif mengaku telah mengurangi staf manusia untuk berinvestasi pada AI atau teknologi otonom. Namun, yang mengejutkan, para eksekutif tersebut mengaku tidak yakin apakah AI akan menghasilkan manfaat apa pun. Mereka hanya percaya pada janji otomatisasi melalui AI.

“Perusahaan yang memangkas staf untuk berinvestasi di AI mengalami peningkatan finansial yang sama dengan perusahaan yang mempertahankan karyawannya,” demikian bunyi temuan survei Gartner. Dengan kata lain, upaya mengganti pekerja dengan AI tidak menunjukkan pengembalian yang terdeteksi bagi perusahaan-perusahaan tersebut.

Lebih buruk lagi, banyak perusahaan secara khusus mengurangi jumlah karyawan untuk membebaskan uang tunai yang dibutuhkan untuk teknologi AI. Artinya, mereka mengorbankan pengetahuan institusional yang berharga dan niat baik karyawan tanpa hasil yang berarti.

Temuan ini tidak sepenuhnya mengejutkan. Sebuah studi MIT tahun lalu menemukan bahwa AI gagal menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang berarti di sebagian besar perusahaan yang mengadopsinya.

Meski demikian, tidak semua orang percaya bahwa investasi di AI akan sia-sia. Analis Gartner, Helen Poitevin, mengatakan kepada Fortune bahwa langkah drastis para eksekutif ini mungkin hanya upaya untuk mencoba AI, bukan untuk mengatur ulang struktur perusahaan secara permanen.

“Bagi kami, ini tampak seperti latihan satu kali yang dilakukan oleh banyak perusahaan dalam jumlah kecil, tetapi tidak berarti mendapatkan ROI penuh dari investasi AI mereka,” ujar Poitevin.

Lantas, perusahaan mana yang benar-benar merasakan dampak positif dari AI? Survei Gartner menemukan bahwa perusahaan yang memanfaatkan AI sebagai bentuk “amplifikasi manusia” — yaitu memberikan alat AI kepada karyawan untuk meningkatkan efisiensi, bukan menggantikan mereka — mengalami peningkatan paling signifikan.

Namun, strategi itu pun tidak tanpa risiko. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mayoritas karyawan belum antusias menggunakan AI. Sebuah survei mengungkapkan bahwa 54 persen karyawan menghindari penggunaan alat AI internal perusahaan sama sekali.

Komentar

Belum ada komentar.