šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi fitur Audit Assistance Flock untuk mendeteksi penyalahgunaan kamera pelat nomor oleh petugas

Flock Wajibkan Audit Assistance untuk Cegah Penyalahgunaan Kamera

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø6 menit membaca
Bagikan:
  • Flock memangkas rekomendasi penyimpanan data dari 30 hari menjadi 7 hari
  • Fitur Evidence Mode tersedia untuk kasus luar biasa dengan nomor kasus tertentu
  • Audit Assistance diwajibkan untuk semua pelanggan sebelum akhir tahun
  • Alat ini mendeteksi aktivitas abnormal seperti pencarian pelat berulang
  • Flock menegaskan Audit Assistance tidak menggunakan Machine Learning atau AI
  • Kritikus mempertanyakan efektivitas dan kurangnya audit pihak ketiga
  • Kasus penyalahgunaan kamera Flock oleh petugas masih terus terjadi

Telset.id – Flock, perusahaan teknologi pengawasan, mengumumkan serangkaian kebijakan dan alat baru pada Kamis untuk membatasi penyalahgunaan sistem kamera pembaca pelat nomor otomatisnya. Perusahaan kini merekomendasikan agar kepolisian menyimpan data selama tujuh hari, turun dari kebijakan sebelumnya yang mencapai 30 hari.

Perubahan ini merupakan langkah Flock untuk meningkatkan akuntabilitas pelanggannya dari kalangan penegak hukum. Selain memangkas durasi penyimpanan data, Flock juga memperkenalkan fitur bernama ā€œEvidence Modeā€ yang dapat diaktifkan saat pelanggan perlu menyimpan data lebih lama dalam ā€œkasus luar biasaā€ dan memerlukan nomor kasus tertentu.

Pelanggan juga kini dapat mengatur batasan data yang mereka bagikan dengan pelanggan lain berdasarkan jenis pelanggaran yang sedang diselidiki. Kebijakan baru ini hadir setelah bertahun-tahun terjadi insiden penyalahgunaan teknologi Flock oleh penggunanya.

Flock menyoroti alat bernama ā€œAudit Assistanceā€ sebagai salah satu perubahan kunci. Alat yang diluncurkan pada bulan April ini disebut mampu mendeteksi aktivitas abnormal dan menandainya untuk ditinjau administrator. Hingga saat ini, lebih dari sepertiga pelanggan Flock telah mengaktifkan fitur tersebut, dan perusahaan kini mewajibkan semua pelanggan untuk mengaktifkannya sebelum akhir tahun.

Menurut Flock, Audit Assistance dapat mendeteksi aktivitas abnormal dan menandainya untuk ditinjau administrator. Jika terdeteksi, alat ini dapat secara otomatis mengunci pengguna yang telah ditandai hingga administrator turun tangan. Flock mengklaim alat ini telah membantu pelanggan menemukan dan menghentikan penyalahgunaan.

Cara Kerja Audit Assistance yang Masih Misterius

Meskipun beberapa eksekutif memuji kemampuan Audit Assistance, Flock belum menjelaskan secara rinci bagaimana alat ini sebenarnya bekerja. Ashley Haber, kepala kepercayaan dan kepatuhan Flock, dalam sebuah video menyebut Audit Assistance dapat menandai ā€œapa yang tampak seperti riwayat pencarian yang aneh dari pengguna tertentu,ā€ membantu pelanggan memahami bagaimana pengguna mereka mengoperasikan sistem.

Paige Todd, salah satu pendiri Flock, dalam video lain mengatakan ā€œAudit Assistance sebenarnya menandai pola yang tidak biasa sejak awal. Misalnya, pengguna mencari pelat yang sama secara berulang selama lebih dari 30 hari.ā€ Sementara itu, Mayor Patrick Krieg dari Departemen Kepolisian Dunwoody, Georgia, menggambarkan fitur ini sebagai ā€œalgoritma yang memberi tahu kami tentang segala jenis bias.ā€

Flock menggambarkan Audit Assistance sebagai fitur yang dapat ā€œmenampilkan aktivitas atipikal sejak dini dan meninjaunya dengan cepat melalui alur kerja yang jelas dan terdokumentasi.ā€ Namun, masih belum jelas bagaimana ā€œalgoritmaā€ ini sebenarnya bekerja, data apa yang digunakan untuk melatihnya, dan apakah dikembangkan menggunakan model bahasa besar.

TechCrunch telah mengajukan pertanyaan tentang pola apa yang dirancang untuk ditampilkan dan apa yang sebenarnya ditandai sebagai ā€œaktivitas abnormal.ā€ Menanggapi hal ini, Flock menegaskan bahwa Audit Assistance tidak didasarkan pada Machine Learning atau AI. Perusahaan menyatakan bahwa alat ini merupakan ā€œalat data yang menandai pola pencarian atipikal untuk ditinjau lebih lanjut.ā€

Salah satu contoh yang memicu penandaan adalah jika pengguna mencari pelat yang sama menggunakan kode kasus yang berbeda, karena hal ini berpotensi mengindikasikan penyalahgunaan. Flock menekankan bahwa penandaan tidak berarti pasti terjadi penyalahgunaan, melainkan hanya memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Meskipun demikian, sejumlah pertanyaan masih belum terjawab. Tidak diketahui apakah Flock memiliki statistik atau data yang menunjukkan efektivitas alat ini, berapa tingkat positif palsu dan negatif palsunya, serta apakah telah diaudit oleh pihak ketiga. Para ahli privasi dan kritikus Flock tidak terkesan dengan Audit Assistance.

Chad Marlow, penasihat kebijakan senior American Civil Liberties Union, menulis bahwa ā€œtidak ada bukti bahwa alat ini bekerja secara konsistenā€ untuk mengatasi penyalahgunaan. Ia menyoroti bahwa meskipun puluhan petugas baru-baru ini ditangkap, dipecat, atau dikenai sanksi karena menyalahgunakan Flock untuk kepentingan pribadi, Flock mengklaim penangkapan tersebut sebagai bukti alat auditnya berfungsi.

ā€œNamun, kecuali kita mengetahui jumlah petugas yang menyalahgunakan sistem, kita tidak dapat menyimpulkan apakah Flock dan alat auditnya menangkap 95% pelanggar atau hanya 5%,ā€ tulis Marlow. ā€œFlock perlu menganalisis alat auditnya dengan evaluator independen untuk menentukan efektivitas sebenarnya.ā€

Cooper Quintin, peneliti keamanan dan teknolog kepentingan publik senior di Electronic Frontier Foundation, mengatakan bahwa mungkin tidak masalah apakah Audit Assistance berfungsi. ā€œJika berfungsi, penegak hukum akan menemukan cara untuk menghindarinya,ā€ katanya, seraya menambahkan bahwa yang terpenting adalah apakah pelaku penyalahgunaan tertangkap dan dimintai pertanggungjawaban.

ā€œJika tidak ada konsekuensi atas penyalahgunaan dan siapa pun yang dilaporkan alat ini adalah lembaga polisi yang sama yang melakukan penyalahgunaan, itu hanya tameng bagi Flock. Cara terbaik untuk memastikan akuntabilitas adalah dengan mengesahkan undang-undang yang membatasi penggunaan teknologi ini dan mewajibkan surat perintah untuk penggunaannya,ā€ ujar Quintin.

Rachel Levinson-Waldman, direktur Program Liberty and National Security di Brennan Center, menilai bahwa mewajibkan Audit Assistance adalah langkah ke arah yang benar, dan ā€œsecara teoriā€ alat ini ā€œide bagus.ā€ Namun, ia juga mengatakan alat ini ā€œperlu diauditā€ karena belum ada cukup informasi tentang cara kerjanya dalam praktik.

Konteks Penyalahgunaan yang Melatarbelakangi

Pengumuman Flock ini datang setelah bertahun-tahun dilaporkan adanya insiden pelanggan yang berulang kali menyalahgunakan teknologinya. Sebelumnya pada minggu ini, tiga mantan wakil sheriff Georgia ditangkap dan dituduh menggunakan kamera Flock untuk menguntit orang-orang yang memiliki ā€œhubungan pribadiā€ dengan mereka.

Dalam kasus tersebut, Sheriff Bibb County David Davis secara khusus menyebut alat baru Flock, Audit Assistance, berhasil mengungkap penyalahgunaan tersebut. Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana alat audit dapat membantu mendeteksi perilaku menyimpang pengguna.

Kebijakan penyimpanan data yang dipangkas dari 30 hari menjadi 7 hari juga menjadi sorotan. Perubahan ini menunjukkan upaya Flock untuk meminimalkan risiko penyalahgunaan data dalam jangka panjang. Sementara itu, fitur Evidence Mode memberikan fleksibilitas bagi penegak hukum yang membutuhkan penyimpanan data lebih lama dalam kasus-kasus tertentu.

Flock juga memungkinkan pelanggan untuk mengatur batasan berbagi data berdasarkan jenis pelanggaran yang sedang diselidiki. Hal ini memberikan kontrol lebih besar kepada setiap lembaga penegak hukum dalam menentukan data apa yang dapat diakses oleh pihak lain.

Langkah Flock ini mendapat tanggapan beragam dari berbagai pihak. Di satu sisi, kebijakan baru dianggap sebagai langkah positif untuk meningkatkan akuntabilitas. Namun di sisi lain, kurangnya transparansi tentang cara kerja Audit Assistance menimbulkan keraguan tentang efektivitasnya.

Sejumlah pertanyaan krusial masih menggantung, termasuk apakah alat ini benar-benar dapat mendeteksi penyalahgunaan secara konsisten, dan apakah ada jaminan independen atas kinerjanya. Para kritikus menilai bahwa tanpa audit pihak ketiga, sulit untuk memastikan apakah Audit Assistance benar-benar berfungsi atau sekadar alat pencitraan.

Flock sendiri mengklaim alat ini telah membantu pelanggan menemukan dan menghentikan penyalahgunaan. Namun, klaim tersebut belum didukung oleh data statistik yang transparan. Perusahaan juga belum menjawab pertanyaan tentang tingkat kesalahan alat ini dalam mendeteksi aktivitas abnormal.

Kebijakan baru Flock ini menjadi sorotan mengingat kontroversi seputar teknologi pengawasan yang semakin marak. Sebelumnya, sejumlah kota di AS juga telah menolak kontrak dengan Flock. Di sisi lain, perusahaan terus mengembangkan jaringannya, termasuk rencana penggunaan dash cam untuk memperluas cakupan pengawasan.

Langkah Flock mewajibkan Audit Assistance sebelum akhir tahun menjadi ujian bagi perusahaan untuk membuktikan komitmennya terhadap akuntabilitas. Namun, tanpa transparansi tentang cara kerja alat tersebut, skeptisisme dari para ahli privasi kemungkinan akan terus berlanjut.

Yang jelas, Flock menghadapi tekanan untuk menunjukkan bahwa kebijakan dan alat barunya benar-benar efektif mengatasi penyalahgunaan. Sejauh ini, perusahaan baru memberikan gambaran umum tentang kemampuan Audit Assistance tanpa detail teknis yang memadai.

Ke depannya, publik dan para pemangku kepentingan akan menantikan apakah Flock dapat memberikan data yang lebih konkret tentang efektivitas alat tersebut. Sementara itu, kasus-kasus penyalahgunaan yang terungkap berkat Audit Assistance menjadi bukti awal bahwa alat ini memiliki potensi, meskipun masih perlu pembuktian lebih lanjut.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.