📑 Daftar Isi

Menara transmisi listrik tegangan tinggi di bawah langit senja

FERC Percepat Sambungan Listrik Data Center AI di AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • FERC bersiap keluarkan perintah percepatan koneksi listrik untuk data center AI di AS
  • Proyek yang bawa pasokan listrik sendiri atau kurangi permintaan dapat fast-track
  • PJM Interconnection naikkan biaya listrik 75,5% akibat permintaan data center AI
  • Negara Bagian Maryland ajukan keluhan atas tagihan $2 miliar untuk upgrade infrastruktur
  • Warga khawatir soal konsumsi air di zona kekeringan dan polusi suara
  • Kebijakan sejalan dengan "AI Action Plan" Trump untuk memenangkan perlombaan AI lawan China

Telset.id – Komisi Regulasi Energi Federal AS (FERC) bersiap mengeluarkan peraturan baru yang mewajibkan operator jaringan listrik mempercepat koneksi untuk pusat data AI. Langkah ini diambil untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun memicu kekhawatiran baru di kalangan masyarakat.

Menurut laporan Bloomberg, FERC akan segera merilis perintah yang meminta operator jaringan untuk membuktikan bahwa mereka mempercepat koneksi proyek data center AI. Ketentuan khusus diberikan bagi proyek yang “membawa pasokan listrik sendiri, atau membatasi permintaan saat tekanan tinggi.”

“Kami menjanjikan beberapa kejutan bulan lalu dan hari ini kami akan menyalakan sumbu peledaknya,” ujar Ketua FERC Laura Swett dalam sebuah pertemuan, seperti dikutip Bloomberg. Komisaris David Rosner juga menambahkan bahwa studi yang diperlukan untuk menerapkan perubahan ini harus diselesaikan dalam waktu 90 hari.

Langkah FERC ini sejalan dengan “AI Action Plan” yang diluncurkan mantan Presiden Donald Trump tahun lalu. Kebijakan tersebut bertujuan mempermudah pembangunan infrastruktur AI di Amerika Serikat.

Data center AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar — sesuatu yang tidak siap ditangani oleh jaringan listrik AS saat ini. Akibatnya, operator jaringan melakukan investasi besar untuk meningkatkan infrastruktur dan membebankan biaya tersebut kepada konsumen.

PJM Interconnection, operator jaringan listrik terbesar di AS, menaikkan biaya listriknya sebesar 75,5%. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh permintaan dari pusat data AI. Negara Bagian Maryland juga mengajukan keluhan ke FERC karena PJM Interconnection berencana membebani negara bagian tersebut sebesar $2 miliar untuk upgrade infrastruktur yang tidak memberikan manfaat langsung bagi Maryland.

Meskipun FERC mensyaratkan data center membawa pasokan listrik sendiri atau mengurangi permintaan saat dibutuhkan, kebijakan ini tetap menjadi kekhawatiran bagi banyak warga Amerika yang semakin menolak pembangunan data center di lingkungan mereka.

Kekhawatiran Masyarakat Terkait Data Center AI

Bukan hanya konsumsi listrik yang menjadi masalah. Banyak pembangunan data center juga dilakukan di zona kekeringan, di mana kelangkaan air sudah menjadi perhatian serius. Beberapa warga juga khawatir tentang polusi suara yang dihasilkan fasilitas ini di daerah pedesaan yang biasanya tenang.

“Selama warga merasa proyek ini mengancam kualitas hidup mereka, pengembang data center hanya akan terus menghadapi peningkatan oposisi,” demikian kesimpulan laporan tersebut.

Para pengembang AI berskala besar sangat ingin merealisasikan proyek data center mereka, terutama karena permintaan komputasi masih terus tumbuh. Gedung Putih juga ingin pembangunan ini berjalan cepat karena menganggap infrastruktur ini penting bagi AS untuk memenangkan “perlombaan AI” melawan China.

Namun, resistensi dari warga setempat menjadi hambatan serius. Beberapa daerah bahkan mulai memberlakukan moratorium atau larangan sementara terhadap pembangunan data center baru.

Dalam konteks energi terbarukan, beberapa perusahaan teknologi mulai mencari solusi alternatif. Misalnya, Meta dan XGS Energy tengah menggarap proyek geothermal di New Mexico untuk memasok kebutuhan listrik data center AI mereka.

Selain itu, inovasi di bidang penyimpanan energi juga terus berkembang. Eve Energy telah memulai produksi massal baterai solid-state yang dapat digunakan untuk drone dan robot, sebuah teknologi yang berpotensi membantu mengatasi masalah pasokan energi.

Sementara itu, Samsung dan Universitas Georgia sedang mengembangkan fitur Energy Score yang dapat membantu pengguna memantau dan mengoptimalkan konsumsi energi perangkat mereka.

Lonjakan biaya listrik akibat data center AI telah menjadi isu nasional di AS. PJM Interconnection, yang melayani 13 negara bagian dan District of Columbia, menaikkan tarif listrik secara drastis. Kenaikan 75,5% tersebut merupakan yang tertinggi dalam sejarah operator jaringan tersebut.

Negara Bagian Maryland mengajukan keluhan resmi ke FERC karena harus membayar $2 miliar untuk upgrade infrastruktur yang menurut mereka tidak memberikan manfaat langsung. Kasus ini menunjukkan ketegangan antara kebutuhan pengembangan AI dan kepentingan konsumen lokal.

Meskipun FERC berusaha mempercepat koneksi, persyaratan bahwa data center harus membawa pasokan listrik sendiri atau bersedia mengurangi permintaan saat tekanan tinggi bisa menjadi solusi kompromi. Namun, efektivitas kebijakan ini masih harus diuji.

Data center AI memang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Sebuah data center modern dapat mengonsumsi listrik setara dengan puluhan ribu rumah tangga. Hal ini mendorong operator jaringan untuk berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur kelistrikan.

Namun, investasi tersebut seringkali dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan tarif. Di PJM Interconnection, kenaikan 75,5% telah memicu protes dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah negara bagian dan kelompok konsumen.

FERC berharap dengan mempercepat koneksi data center yang membawa pasokan listrik sendiri, beban pada jaringan publik bisa dikurangi. Namun, kritikus mengatakan bahwa kebijakan ini justru bisa mendorong pembangunan data center tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan sosial.

Di beberapa daerah, warga mulai mengorganisir diri untuk menolak pembangunan data center. Mereka khawatir tentang konsumsi air, polusi suara, dan dampak visual dari fasilitas besar tersebut di daerah pedesaan.

Zona kekeringan menjadi perhatian khusus karena data center membutuhkan air dalam jumlah besar untuk sistem pendingin. Di daerah yang sudah mengalami kelangkaan air, pembangunan data center bisa memperburuk situasi.

Polusi suara juga menjadi masalah. Generator cadangan dan sistem pendingin data center seringkali menimbulkan kebisingan yang mengganggu ketenangan daerah pedesaan. Hal ini memicu keluhan dari warga yang tinggal di dekat lokasi pembangunan.

Gedung Putih di bawah kepemimpinan Trump sebelumnya telah menetapkan bahwa infrastruktur AI adalah prioritas nasional. Kebijakan “AI Action Plan” bertujuan memastikan AS tetap unggul dalam perlombaan AI melawan China.

Namun, prioritas nasional ini berbenturan dengan kepentingan lokal. Warga di berbagai negara bagian merasa bahwa pembangunan data center mengancam kualitas hidup mereka tanpa memberikan manfaat yang sepadan.

FERC berusaha menyeimbangkan berbagai kepentingan ini melalui kebijakan baru. Perintah untuk mempercepat koneksi data center yang membawa pasokan listrik sendiri diharapkan bisa mengurangi tekanan pada jaringan publik.

Komisaris David Rosner menekankan bahwa studi untuk menerapkan perubahan ini harus selesai dalam 90 hari. Ini menunjukkan urgensi yang dirasakan oleh regulator dalam menghadapi lonjakan permintaan listrik dari sektor AI.

Ketua FERC Laura Swett menggunakan bahasa yang dramatis dalam pertemuan tersebut. “Kami menjanjikan beberapa kejutan bulan lalu dan hari ini kami akan menyalakan sumbu peledaknya,” katanya, menandakan bahwa perubahan besar akan segera terjadi.

Laporan Bloomberg mengutip pernyataan Swett yang menunjukkan bahwa FERC serius dalam mempercepat koneksi data center. Namun, regulator juga menyadari bahwa kebijakan ini akan kontroversial.

Data center AI diperkirakan akan terus tumbuh seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan. Hal ini berarti permintaan listrik dari sektor ini juga akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Operator jaringan seperti PJM Interconnection harus berinvestasi besar untuk mengakomodasi pertumbuhan ini. Namun, biaya investasi tersebut seringkali dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan tarif listrik.

Kenaikan tarif listrik sebesar 75,5% oleh PJM Interconnection telah memicu kemarahan publik. Banyak yang merasa bahwa mereka membayar untuk infrastruktur yang hanya menguntungkan perusahaan teknologi besar.

Kasus Maryland menunjukkan bagaimana ketegangan ini bisa berujung pada konflik hukum. Negara bagian tersebut mengajukan keluhan ke FERC karena merasa dibebani biaya yang tidak adil.

FERC kini harus memutuskan bagaimana menyeimbangkan kebutuhan pengembangan AI dengan kepentingan konsumen dan masyarakat lokal. Kebijakan baru yang akan segera dirilis diharapkan bisa menjadi solusi.

Namun, efektivitas kebijakan ini masih harus diuji. Persyaratan bahwa data center harus membawa pasokan listrik sendiri atau bersedia mengurangi permintaan saat tekanan tinggi bisa menjadi solusi, tetapi implementasinya tidak mudah.

Banyak data center yang dibangun di daerah yang tidak memiliki akses ke sumber energi alternatif. Membawa pasokan listrik sendiri berarti harus membangun pembangkit listrik khusus, yang membutuhkan investasi besar dan perizinan yang rumit.

Di sisi lain, bersedia mengurangi permintaan saat tekanan tinggi bisa mengganggu operasional data center. Untuk perusahaan yang bergantung pada ketersediaan komputasi 24/7, opsi ini mungkin tidak realistis.

Meskipun demikian, FERC tampaknya bertekad untuk mendorong kebijakan ini. Regulator ingin memastikan bahwa pengembangan AI tidak terhambat oleh keterbatasan infrastruktur kelistrikan.

Namun, tanpa dukungan dari masyarakat lokal, upaya ini bisa gagal. Seperti yang disimpulkan dalam laporan tersebut, selama warga merasa proyek ini mengancam kualitas hidup mereka, pengembang data center akan terus menghadapi oposisi.

FERC dan operator jaringan harus bekerja sama dengan masyarakat untuk menemukan solusi yang bisa diterima semua pihak. Jika tidak, perlombaan AI AS melawan China bisa terhambat oleh konflik domestik.

Kebijakan baru FERC dijadwalkan akan dirilis dalam waktu dekat. Publik dan pelaku industri akan mengamati dengan seksama bagaimana regulasi ini akan mempengaruhi perkembangan data center AI di AS.

Komentar

Belum ada komentar.