Ikon aplikasi WhatsApp yang menampilkan logo hijau dengan ikon telepon putih di dalam gelembung percakapan, dengan latar belakang warna solid.

EU Paksa Meta Buka WhatsApp untuk Chatbot AI Pesaing

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Uni Eropa memerintahkan Meta untuk membuka WhatsApp bagi chatbot AI pesaing secara gratis sebagai tindakan sementara
  • Meta dituduh menyalahgunakan posisi dominan dengan melarang chatbot AI pihak ketiga sejak Oktober 2025
  • Komisi Eropa menganggap akses berbayar yang ditawarkan Meta tidak lebih baik dari larangan total
  • Meta berencana mengajukan banding dengan alasan regulasi berlebihan
  • Keputusan ini berlaku hingga penyelidikan antimonopoli selesai

Telset.id – Uni Eropa secara resmi memerintahkan Meta untuk membuka kembali akses WhatsApp bagi chatbot AI dari perusahaan pesaing secara gratis. Langkah ini merupakan tindakan sementara sementara Komisi Eropa menyelidiki potensi pelanggaran antimonopoli oleh pemilik aplikasi pesan instan tersebut.

Perintah ini dikeluarkan setelah Meta menerapkan kebijakan baru pada Oktober 2025 yang melarang chatbot AI pihak ketiga mengakses WhatsApp for Business API. Sejak saat itu, hanya Meta AI yang diizinkan menjadi satu-satunya chatbot yang dapat menggunakan layanan tersebut. Padahal, sebelum larangan diberlakukan, perusahaan dapat mengirim notifikasi melalui WhatsApp, seperti peringatan pesanan, menggunakan asisten AI lainnya.

Ikon WhatsApp ditampilkan di layar ponsel.

Otoritas antimonopoli Uni Eropa membuka penyelidikan terhadap kebijakan baru tersebut pada Desember 2025. Mereka kemudian memperingatkan Meta lebih awal tahun ini bahwa Komisi dapat mengambil tindakan sementara terhadap perusahaan. Dalam pengumumannya, komisi menjelaskan bahwa Meta telah memegang posisi dominan di pasar aplikasi perpesanan Eropa setidaknya sejak tahun 2023.

Dengan posisi dominan tersebut, Meta dinilai menyalahgunakan kekuasaannya dengan mencegah asisten AI pesaing menggunakan API WhatsApp. Komisi juga mencatat bahwa Meta merevisi kebijakannya pada awal Maret, yang memungkinkan asisten AI pihak ketiga mengakses WhatsApp dengan biaya tertentu. Namun, komisi menilai tawaran akses berbayar tersebut tidak lebih baik daripada larangan total.

Komisi percaya ada “kebutuhan mendesak” untuk menerapkan langkah-langkah guna mencegah kerusakan permanen pada pasar selama penyelidikan berlangsung. Dengan perintah ini, Meta diwajibkan mengembalikan persyaratan dan ketentuan untuk asisten AI pihak ketiga di WhatsApp seperti sebelum perubahan kebijakan Oktober 2025.

Lebih lanjut, tindakan sementara yang dikenakan pada Meta harus tetap berlaku hingga penyelidikan selesai. “Di pasar yang berkembang pesat, persaingan bisa hilang jauh sebelum keputusan akhir diadopsi,” ujar kepala persaingan usaha Uni Eropa, Teresa Ribera.

Menurut laporan Wall Street Journal, Ribera juga mengatakan kepada wartawan dalam sebuah acara pers bahwa ia menganggap biaya yang diminta Meta untuk akses pihak ketiga terlalu tinggi. Sementara itu, Meta menyatakan akan mengajukan banding atas keputusan tersebut. Perusahaan berargumen bahwa perintah Uni Eropa merupakan bentuk campur tangan regulasi yang berlebihan dan akan memberikan akses gratis ke WhatsApp Business API bagi beberapa perusahaan terbesar di dunia.

Keputusan Uni Eropa ini menjadi preseden penting dalam pengaturan pasar chatbot AI yang sedang berkembang pesat. Dengan membuka akses WhatsApp bagi pesaing, regulator ingin memastikan bahwa inovasi dan persaingan tetap berjalan sehat, terutama di sektor yang dikuasai oleh pemain dominan seperti Meta.

Bagi pengguna WhatsApp di Eropa, langkah ini berarti mereka akan memiliki lebih banyak pilihan asisten AI untuk berinteraksi dalam aplikasi. Ini juga dapat mendorong pengembangan Kolaborasi Startup di bidang kecerdasan buatan, karena akses ke platform besar seperti WhatsApp menjadi lebih terbuka.

Dampak dari keputusan ini kemungkinan akan dirasakan secara global, mengingat Uni Eropa sering menjadi pelopor dalam regulasi teknologi. Perusahaan teknologi besar kini harus lebih berhati-hati dalam merancang kebijakan yang dapat membatasi akses pesaing, terutama di pasar yang mereka kuasai.

Sementara Meta bersiap untuk melawan keputusan ini melalui jalur hukum, industri teknologi akan mengawasi dengan saksama bagaimana kasus ini berkembang. Hasil akhir dari penyelidikan dan banding ini bisa membentuk lanskap persaingan di dunia chatbot AI dan aplikasi perpesanan untuk tahun-tahun mendatang.

Komentar

Belum ada komentar.