Telset.id – Drama hukum antara Elon Musk dan OpenAI memasuki babak baru yang tak kalah mengejutkan. Sang miliarder, yang menggugat perusahaan kecerdasan buatan itu pada 2024, kini mengubah arah tuntutannya. Alih-alih mengantongi sendiri ganti rugi senilai $150 miliar, Musk justru meminta dana sebesar itu dialirkan ke lengan nirlaba OpenAI. Permintaan lain? CEO Sam Altman harus dicopot dari dewan direksi organisasi nonprofit tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi di balik perubahan strategi ini?
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal yang dikutip Engadget, perubahan pada keluhan hukum itu diajukan pada Rabu, 8 April 2026. Musk, yang merupakan salah satu pendiri awal OpenAI, menggugat dengan tuduhan bahwa perusahaan telah berubah menjadi “anak perusahaan de facto sumber tertutup” milik Microsoft setelah melepas status nirlabanya. Ia merasa dirugikan sebagai donor karena perubahan fundamental menuju operasi berorientasi profit itu. Namun, dalam amendemen terbaru, Musk tampaknya tidak lagi mengejar keuntungan pribadi, setidaknya secara langsung. Ia ingin dana ganti rugi yang nilainya fantastis itu diberikan kepada entitas nonprofit OpenAI, dengan syarat Altman tidak lagi duduk di dewan direksinya.
Langkah ini membuka banyak pertanyaan. Apakah ini bentuk strategi hukum untuk memperkuat posisi tawar? Ataukah ada upaya untuk “menyelamatkan” misi awal OpenAI yang menurut Musk telah menyimpang? Konflik antara dua tokoh visioner namun kontroversial ini memang selalu menyedot perhatian. Dengan reputasi mereka untuk menciptakan situasi hubungan masyarakat yang “pedas”, seperti yang disebutkan dalam laporan, bentrokan antara kedua kubu diprediksi akan semakin memanas mendekati tanggal persidangan. Perseteruan ini bukan hanya soal uang, tetapi juga visi tentang masa depan AI yang bertanggung jawab.
Dari Pendiri Menjadi Penentang: Akar Konflik Musk vs. OpenAI
Gugatan awal Musk berakar pada janji awal OpenAI sebagai lembaga penelitian nirlaba yang terbuka. Ia mengklaim bahwa peralihan menjadi perusahaan tertutup yang berorientasi laba, terutama dengan investasi besar-besaran dari Microsoft, merupakan pengingkaran terhadap kesepakatan pendirian. Musk merasa sebagai donor dan co-chair awal, ia telah dikelabui. Tuntutan ganti rugi $150 miliar konon didasarkan pada valuasi perusahaan saat ini, yang ia yakini sebagian merupakan buah dari kontribusi awal era nonprofit.
Amendemen terbaru ini, meski terlihat seperti pengalihan dana, tetap konsisten dengan narasi Musk: mengembalikan OpenAI ke jalurnya. Dengan meminta dana diberikan ke sisi nonprofit dan menuntut pengurangan peran Altman di sana, Musk secara tidak langsung berusaha memisahkan kembali entitas penelitian murni dari mesin komersial. Ini adalah manuver yang cerdik secara naratif. Daripada terlihat serakah, ia bisa memposisikan diri sebagai pihak yang berjuang untuk “kemurnian misi” AI yang aman dan bermanfaat bagi manusia. Narasi ini pernah muncul dalam diskusi internal OpenAI sebelumnya.
Baca Juga:
Gelombang Gugatan Hukum di Dunia AI: Apple Jadi Sasaran Baru
Perseteruan hukum di dunia teknologi, terutama terkait AI, ternyata bukan monopoli Musk dan OpenAI. Hanya sehari sebelum amendemen Musk diajukan, tiga kreator YouTube mengajukan gugatan class action terhadap Apple. Mereka adalah h3h3 Productions, MrShortGameGolf, dan Golfholics, yang menuduh Apple melanggar Digital Millennium Copyright Act (DMCA). Tuduhannya: Apple diduga melakukan scraping ilegal terhadap video berhak cipta di YouTube untuk melatih model AI-nya.
Gugatan yang dilaporkan pertama kali oleh MacRumors ini menyatakan bahwa Apple telah menghindari arsitektur streaming terkontrol yang membatasi pengguna biasa. Para kreator mengklaim kesuksesan finansial raksasa teknologi itu tidak akan mungkin tanpa konten video mereka. Menariknya, ketiga channel YouTube ini juga diketahui telah mengajukan gugatan serupa terhadap perusahaan teknologi lain seperti Meta, Nvidia, ByteDance, dan Snap. Kasus ini mencerminkan tren yang semakin meningkat di mana para pembuat konten melawan penggunaan data mereka tanpa izin untuk pelatihan AI, sebuah isu yang juga menyentuh perlindungan hak cipta digital.
Apple sendiri bukanlah pemain baru di meja hijau terkait AI. Perusahaan itu sebelumnya telah disebutkan dalam gugatan class action terpisah dari dua profesor neuroscience yang karyanya diduga digunakan tanpa izin. Rentetan kasus ini menunjukkan bahwa era pelatihan model AI besar-besaran dengan mengandalkan data publik mulai mendapatkan tantangan hukum yang serius. Jika gugatan-gugatan ini berhasil, mereka dapat mengubah lanskap pengembangan AI secara fundamental, memaksa perusahaan untuk mencari cara yang lebih etis dan legal untuk mengumpulkan data pelatihan.
Analisis: Pertarungan Besar yang Menentukan Masa Depan
Dua kasus ini, meski berbeda detailnya, bersinggungan pada tema sentral: pertanggungjawaban dan etika dalam lomba pengembangan AI. Kasus Musk vs. OpenAI menyoroti konflik antara idealisme open-source dan tekanan komersialisasi. Siapa yang berhak mengendalikan arah perkembangan teknologi yang berpotensi mengubah peradaban? Apakah model nonprofit yang transparan masih mungkin dalam industri yang membutuhkan modal raksasa?
Di sisi lain, gugatan terhadap Apple mewakili pergulatan antara hak kekayaan intelektual individu dengan kebutuhan mesin akan data. Seberapa jauh perusahaan teknologi boleh menggunakan konten yang tersedia secara online? Di mana batas antara penggunaan wajar dan pelanggaran? Kasus-kasus seperti yang melibatkan OpenAI, Microsoft (dituding menggunakan artikel NYTimes), dan Perplexity (digugat Reddit dan Encyclopedia Britannica) menunjukkan bahwa pertempuran hukum ini akan menjadi norma baru.
Bagi Musk, amendemen gugatan ini bisa menjadi cara untuk memenangkan simpati publik dan mungkin juga hati para hakim. Dengan tidak meminta uang untuk dirinya sendiri, ia mengurangi risiko dilihat sebagai pihak yang hanya mengejar keuntungan. Namun, tuntutan untuk mencopot Sam Altman dari dewan nonprofit tetap merupakan serangan personal yang dalam. Hasil dari persidangan ini tidak hanya akan menentukan aliran dana $150 miliar, tetapi juga keseimbangan kekuatan dalam salah satu perusahaan AI paling berpengaruh di dunia. Ini adalah babak lain dalam serangkaian tantangan hukum yang dihadapi ekosistem bisnis Musk, dan hasilnya akan bergema jauh melampaui ruang sidang.
Jadi, apa yang bisa kita harapkan? Dengan dua personalitas kuat seperti Musk dan Altman yang terlibat, jalan menuju persidangan pasti akan dipenuhi dengan pernyataan publik, manuver media, dan ketegangan yang terus meningkat. Sementara itu, industri AI secara keseluruhan harus bersiap menghadapi lingkungan regulasi dan hukum yang semakin ketat. Pertanyaan besarnya: akankah gugatan-gugatan ini memperlambat inovasi, atau justru memaksa terciptanya standar etika yang lebih jelas untuk kebaikan bersama? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: pertarungan untuk masa depan AI sedang berlangsung, dan medan pertempurannya ada di pengadilan.




