📑 Daftar Isi

Ilustrasi tengkorak dan glitch art yang menggambarkan kekhawatiran terhadap risiko eksistensial AI

Dua Pertiga Warga Amerika Khawatir AI Bisa Musnahkan Umat Manusia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Dua pertiga warga Amerika menilai ada peluang moderat atau lebih besar AI musnahkan manusia
  • Survei Politico melibatkan lebih dari 2.000 orang dewasa pada September
  • Pemilih Harris 70 persen, pemilih Trump 60 persen menilai AI berisiko eksistensial
  • 17 persen yakin "hampir pasti" AI bisa menghabisi manusia
  • 48 persen setuju pengembangan AI harus dihentikan sepenuhnya
  • Hanya 26 persen menilai peringatan pemimpin AI sekadar gimmick pemasaran

Telset.id – Sebanyak dua pertiga masyarakat Amerika Serikat menilai ada peluang “moderat” atau lebih besar bahwa AI canggih dapat memusnahkan umat manusia. Temuan ini berasal dari jajak pendapat Politico yang menyurvei lebih dari 2.000 orang dewasa, dan menunjukkan kekhawatiran eksistensial terhadap AI kini melintasi garis politik.

Angka tersebut menjadi barometer penting bagi industri, karena para pemimpin AI sendiri disebut terus menyampaikan peringatan soal risiko dari sistem yang mereka bangun. Kekhawatiran ini juga sejalan dengan berkembangnya diskusi publik soal dampak AI terhadap cara manusia bekerja dan berkomunikasi, termasuk pola bahasa AI yang mulai memengaruhi percakapan sehari-hari.

Jajak pendapat yang digelar pada September tersebut menemukan bahwa pandangan soal risiko AI tidak terbelah tajam berdasarkan pilihan politik. Pemilih Kamala Harris pada pemilihan presiden 2024 tercatat 70 persen menilai AI berada pada risiko eksistensial tingkat moderat atau lebih tinggi, sementara pemilih Trump berada di angka 60 persen.

A photo illustration of a skull and glitch art.

Selain itu, ada kelompok besar yang bersikap fatalistis terhadap teknologi ini. Sebanyak 17 persen warga Amerika secara keseluruhan menyatakan “hampir pasti” bahwa AI bisa menghabisi umat manusia, dengan pembagian yang merata antara pemilih Harris dan Trump. Di sisi lain, kurang dari seperempat responden, yakni 22 persen, menilai AI menimbulkan risiko yang sangat kecil hingga tidak ada risiko sama sekali.

Peringatan Industri dan Skeptisisme Publik

Survei ini muncul di tengah sejumlah klaim mengkhawatirkan dari para pemimpin AI soal kemampuan sistem mereka. Seorang peneliti Anthropic dikabarkan menimbulkan kegaduhan pekan lalu ketika ia keluar dari perusahaan tersebut dan menuduhnya “mempertaruhkan hidup kita”, dengan klaim bahwa orang-orang yang membangun teknologi ini “sungguh-sungguh percaya bahwa itu bisa membunuh kita semua”.

Di tengah kekhawatiran yang meningkat, Dario Amodei dari Anthropic menulis esai panjang yang menyerukan agar perusahaan-perusahaan AI terkemuka di Amerika Serikat bekerja sama memperlambat pengembangan AI. Seruan itu mendapat dukungan dari Elon Musk dan CEO OpenAI Sam Altman.

Meski demikian, ada skeptisisme nyata terhadap kesungguhan klaim keselamatan dari industri AI, kendati suara ini tampak sebagai minoritas yang lantang. Hanya 26 persen responden yang menilai para pemimpin AI memperingatkan risiko eksistensial AI sebagai gimmick pemasaran, menurut temuan jajak pendapat tersebut.

Secara umum, publik disebut membeli apa yang disampaikan para pemimpin AI. Sebanyak 48 persen warga Amerika setuju bahwa AI kini cukup canggih sehingga pengembangannya harus dihentikan sepenuhnya. Namun, pandangan ini lebih terbelah di antara garis partai, dengan hanya 44 persen pemilih Trump yang memegang pandangan tersebut, dibandingkan 58 persen pemilih Harris.

Sebaliknya, 28 persen pemilih Harris menilai pengembangan AI yang kuat harus dilanjutkan karena potensi manfaatnya, dibandingkan 40 persen pendukung presiden. Artinya, warga Amerika secara luas sepakat bahwa ancaman itu nyata, tetapi terbelah soal cara menanganinya.

Perdebatan soal arah pengembangan AI juga berlangsung di sektor lain, misalnya saat regulator dan pelaku industri teknologi berhadapan dengan persoalan operasional maupun keamanan sistem otonom, seperti yang terlihat pada kasus RUU New Jersey terhadap operasi Tesla Robotaxi. Sementara di sisi lain, adopsi teknologi jaringan terus melaju, dengan pengguna 5G di Indonesia yang diprediksi terus tumbuh hingga 2031.

Jajak pendapat Politico ini menjadi potret sentimen publik di saat para pemimpin AI terus menyuarakan risiko dari sistem yang mereka kembangkan. Hasilnya menunjukkan bahwa kekhawatiran akan risiko eksistensial AI tidak lagi terbatas pada satu kubu politik tertentu, melainkan telah menjadi pandangan mayoritas di Amerika Serikat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.