📑 Daftar Isi

Mahasiswa cemas karena ketahuan pakai ChatGPT curang

Dosen Ancam Gagalkan Mahasiswa Jika Pakai ChatGPT Curang

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Dosen teater Neal Hebert ancam gagalkan mahasiswa yang pakai ChatGPT curang
  • Mahasiswa bisa gagal di seluruh mata kuliah jika melalui proses banding formal
  • Hebert sebut penggunaan AI sebagai bentuk kemalasan dan pengkhianatan terhadap seni
  • Daniel Silver dari University of Toronto pilih pendekatan berbeda dengan tugas kreatif AI
  • Hebert kini gunakan drama tidak dikenal untuk menghindari kecurangan AI
  • Tugas mahasiswa tentang drama "Fences" menunjukkan keseragaman gaya ChatGPT

Telset.id – Seorang profesor teater di Amerika Serikat menerapkan kebijakan tegas terhadap mahasiswa yang menggunakan ChatGPT untuk mengerjakan tugas. Neal Hebert, dosen di Grambling State University, mengancam akan menggagalkan mahasiswa jika ketahuan menggunakan AI secara curang, bahkan berpotensi gagal di seluruh mata kuliah jika melalui proses banding formal.

Kebijakan keras ini diungkapkan Hebert dalam testimoni yang dikumpulkan The New Yorker mengenai dampak AI di ruang kelas. Menurutnya, penggunaan ChatGPT oleh mahasiswa telah menghilangkan esensi pembelajaran, terutama dalam mata kuliah pengantar yang diampunya. Ia merasa terpaksa beralih peran dari kolaborator menjadi polisi plagiarisme.

“Saya bilang ke mahasiswa bahwa ChatGPT tidak diizinkan dalam proses menulis mereka, bahwa saya bisa langsung tahu saat ChatGPT digunakan, dan saya akan menggagalkan mereka pada tugas ini — dan berpotensi, untuk seluruh mata kuliah, jika kita melalui proses banding formal,” tulis Hebert kepada majalah tersebut.

Ancaman ini semakin keras saat ditujukan kepada mahasiswa jurusan teater. Hebert menegaskan bahwa dirinya dibayar sama, entah meluluskan atau menggagalkan mahasiswa. Ia menyebut penggunaan AI sebagai bentuk kemalasan karena mahasiswa lebih memilih menyerahkan kolaborasi kepada aplikasi daripada berani menjadi seorang seniman.

“Saya bilang ke mahasiswa teater saya, ‘Saya dibayar sama, entah saya meluluskan kalian atau menggagalkan kalian. Tapi yang baru saja kalian lakukan adalah memberi tahu saya dan semua orang di departemen kami bahwa kalian sangat malas sehingga lebih memilih menyerahkan kolaborasi ke aplikasi daripada berani menjadi seorang seniman,’” katanya.

Hebert mengaku tidak melakukannya dengan senang hati. Gelombang kecurangan AI di kelas pengantarnya membuatnya tidak punya pilihan lain. “Saya berhenti menjadi kolaborator di mata kuliah pengantar ini dan mulai menjadi polisi plagiarisme, dan saya agak kesal dengan itu,” keluhnya. “Saya ingin menjadi profesor seperti profesor saya dulu.”

Strategi Alternatif Dosen Lain

Tidak semua profesor memilih pendekatan keras seperti Hebert. Daniel Silver, profesor sosiologi di University of Toronto, Scarborough, mengambil pendekatan berbeda dengan mengizinkan eksperimen terbatas menggunakan AI. Ia memandang fenomena ini sebagai kesempatan belajar, terutama bagi para pengajar.

“AI secara fundamental telah mengubah cara saya mengajar, dan ini menuntut refleksi dasar tentang apa yang ingin kita capai,” kata Silver kepada The New Yorker. Ia menghabiskan banyak waktu tahun akademik ini untuk menciptakan jenis tugas baru yang membutuhkan penggunaan AI secara lebih kreatif, seperti membuat dan bereksperimen dengan agen AI yang mewakili pemikir terkenal seperti Adam Smith.

Meski demikian, Silver mengakui bahwa mahasiswa masih menggunakan AI secara tidak bertanggung jawab. “Di luar itu, mahasiswa masih akan menggunakan AI dengan cara yang tidak berpikir, sebagai pengganti pemikiran dan penilaian mereka,” tulisnya. Ia kemudian memanggil mahasiswa secara personal dan memberikan nilai nol pada tugas yang melanggar, namun memberi kesempatan untuk mengulang.

“Mereka biasanya membaik, tapi tidak selalu,” kata Silver. Untuk memperkuat pesannya, ia menunjukkan tugas yang dihasilkan AI kepada mahasiswa untuk mendemonstrasikan bahwa “semua tugas itu terlihat sama.” AI menyebabkan banyak “gejolak emosional” baginya, “tapi saya merasa kita semua, termasuk mahasiswa, sedang belajar hidup dengannya, dan kita akan keluar menjadi lebih baik di sisi lain.”

ChatGPT Bikin Tugas Mahasiswa Seragam

Optimisme Silver tidak dimiliki oleh Hebert. Rasa optimis yang tersisa hancur saat ia membaca tugas mahasiswanya tentang “Fences,” drama pemenang Pulitzer tahun 1985 karya August Wilson. Dari 40 mahasiswa, sebagian besar memilih kata, frasa, dan konsep yang serupa, serta ditulis dalam gaya ChatGPT yang khas.

“Dari empat puluh mahasiswa, sebagian besar memilih kata, frasa, dan konsep yang mirip, dan sebagian besar tugas ditulis dalam gaya ChatGPT yang khas: ‘Ini bukan cerita sederhana tentang ketidakadilan — ini adalah seruan untuk pemahaman positif tentang keadilan,’” tulis Hebert, membandingkan prosa LLM dengan “elevator muzak, tapi dalam kata-kata.”

Alih-alih mengintegrasikan AI, Hebert malah memperkuat kelasnya melawan AI. Tugas barunya kini berdasarkan drama yang terlalu tidak dikenal bagi ChatGPT dan model AI lain. “Jika ChatGPT digunakan pada tugas ini sekarang, ia berhalusinasi karakter, alur cerita — ia membuat-buat hal, karena tidak punya referensi,” kata Hebert.

Meski demikian, strategi ini belum sepenuhnya menghentikan kecurangan AI, bahkan di mata kuliah tingkat atas Hebert. Ia mulai mengalami mimpi buruk tentang implikasi jangka panjang teknologi ini terhadap seni teater, jika mahasiswa “tidak bisa repot-repot membaca dan memikirkan drama yang mereka pentaskan.”

“Bisakah kamu bayangkan AI Performing Arts Slop? Padanan teater dari gambar yang dihasilkan ChatGPT dan pesaingnya, tanpa jiwa dan lembam, tiba di panggung dalam keadaan mati?” tanyanya. “Saya bisa.”

Fenomena ini menunjukkan bahwa masa depan AI di dunia pendidikan masih menjadi perdebatan sengit. Sementara beberapa dosen memilih pendekatan keras seperti Hebert, yang lain mencoba beradaptasi dengan teknologi. Yang jelas, kecurangan menggunakan AI telah menjadi tantangan serius yang mengubah lanskap pengajaran di berbagai institusi pendidikan.

Hebert sendiri mengakui bahwa ia tidak bisa sepenuhnya menghentikan penggunaan AI oleh mahasiswa. Namun, ia bertekad untuk terus mempersulit upaya kecurangan tersebut. “Saya akan terus mencari cara untuk membuat tugas yang tidak bisa dikerjakan AI,” tegasnya.

Kisah Hebert dan Silver mencerminkan dilema yang dihadapi banyak pendidik di era AI. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan potensi besar untuk meningkatkan pembelajaran. Di sisi lain, penyalahgunaannya bisa merusak integritas akademik dan menghambat perkembangan keterampilan berpikir kritis mahasiswa.

Pertanyaan besarnya adalah: apakah pendekatan keras seperti yang dilakukan Hebert adalah solusi jangka panjang, atau justru akan mendorong mahasiswa mencari cara curang yang lebih canggih? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang pasti, dunia pendidikan tidak akan pernah sama lagi setelah kehadiran AI generatif seperti ChatGPT.

Komentar

Belum ada komentar.