Tidak ada gambar dengan role 'featured' dalam referensi media.

Data Center di Archbald Ancam 14% Wilayah Kota

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Sebuah kota kecil di Pennsylvania, Amerika Serikat, menghadapi ancaman perubahan wajah kota yang drastis akibat gelombang pembangunan pusat data. Archbald, kota berpenduduk 7.000 jiwa, terancam memiliki enam kampus pusat data yang akan menutupi 14 persen dari total luas permukaan kota.

Fenomena ini dipicu oleh kebutuhan besar industri teknologi akan daya komputasi kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi, tergiur oleh tanah murah, sumber daya melimpah, dan potongan pajak besar, mulai mengakuisisi lahan di komunitas pedesaan kecil untuk membangun infrastruktur fisik mereka.

Menurut laporan Washington Post, enam proposal kampus pusat data di Archbald mencakup 51 gudang terpisah. Setiap gudang memiliki ukuran setara dengan Walmart Supercenter, yakni seluas 4 hingga 6 hektar. Tujuh dari gedung kampus tersebut dilaporkan memiliki luas lebih dari satu juta kaki persegi, atau setara dengan 23 hektar.

Lokasi Archbald yang strategis menjadi daya tarik utama. Kota ini terletak langsung di sepanjang jalur transmisi regional besar yang menyediakan koneksi langsung ke pembangkit listrik tenaga nuklir Susquehanna. Dengan tanah yang relatif murah dan jarak tempuh hanya dua jam berkendara dari Philadelphia dan New York City, Archbald menjadi sasaran empuk bagi para pengembang pusat data.

Namun, imbalan dari pembangunan masif ini dinilai meragukan. Seperti yang telah terlihat berulang kali, pusat data biasanya tidak menyerap banyak tenaga kerja dan justru memberikan tekanan besar pada sumber daya kota, termasuk jaringan listrik lokal.

Warga Archbald tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Sebuah petisi yang diluncurkan pada 18 Maret menyuarakan kemarahan warga. “KEPERCAYAAN PUBLIK TELAH DILANGGAR,” demikian bunyi petisi tersebut. “Pemerintahan kota harus dijalankan untuk kepentingan publik, bukan dibentuk secara tertutup oleh kepentingan pengembang yang mencari persetujuan.”

Ketegangan memuncak pada Maret lalu ketika kepemimpinan dewan kota Archbald mengalami pergantian besar-besaran. Ketua, wakil ketua, dan presiden pro tem dewan kota diberhentikan oleh anggota dewan yang tersisa. Keputusan itu disambut dengan tepuk tangan meriah dari warga Archbald yang menuding para politisi tersebut membiarkan terlalu banyak proposal pusat data masuk ke kota mereka.

“Anda telah memimpin begitu banyak rapat, memarahi warga seperti anak kecil ketika mereka menyuarakan frustrasi yang justru Anda ciptakan,” ujar Geralyn Esposito, warga Archbald, kepada wartawan lokal. “Anda menggunakan palu sidang itu seperti senjata untuk membungkam dan memadamkan oposisi.”

Walikota Archbald, Shirley Barrett, mengatakan kepada Washington Post bahwa “perdebatan ini telah menghancurkan komunitas ini.” “Kami menginginkan jawaban, tetapi kami tidak tahu apa yang sedang terjadi karena semua ini terjadi begitu cepat,” lanjutnya.

Saat ini, masing-masing dari enam kampus pusat data tersebut berada dalam berbagai tahap perencanaan. Belum diketahui seberapa berhasil upaya warga untuk menghentikan laju industri teknologi. Jika pertemuan dewan kota yang ricuh dan kampanye media sosial masif dapat dijadikan indikasi, perjuangan warga Archbald baru saja dimulai.