📑 Daftar Isi

Ilustrasi dampak AI pada pasar tenaga kerja dengan pekerja membawa kardus keluar kantor

Data Baru Sebut AI Mulai Tekan Lapangan Kerja Sektor Jasa Profesional

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Analisis Eric Basmajian: produktivitas tiga sektor adopsi AI terberat naik dari 2,2 persen ke 5,0 persen sejak 2022
  • Sekitar 15 persen pekerjaan tampak terdampak AI sejauh ini
  • Laporan internal Goldman Sachs: dampak AI meluas ke sektor non-teknologi seperti keuangan dan telekomunikasi
  • Financial Times: kenaikan produktivitas bisa berarti penurunan jumlah pekerja, bukan kualitas output
  • Data hanya berlaku untuk Amerika Serikat, kaitan serupa tidak terlihat di wilayah lain

Telset.id – Dampak AI terhadap pasar tenaga kerja kini punya bukti empiris yang lebih konkret. Laporan terbaru Financial Times mengutip dua sumber data yang menunjukkan kaitan antara tingginya adopsi AI dan pergeseran di data ketenagakerjaan Amerika Serikat, meski dengan sejumlah catatan penting yang perlu dibaca lebih hati-hati.

Data pertama datang dari analisis peneliti keuangan asal Amerika Serikat, Eric Basmajian. Dalam unggahannya di media sosial, Basmajian menyebut bahwa “keuntungan produktivitas AI mulai terlihat” pada data pekerjaan. Ia mencatat bahwa tiga sektor dengan adopsi AI terberat, yaitu informasi, jasa profesional, dan keuangan, bergerak dari tren produktivitas 2,2 persen menjadi 5,0 persen sejak 2022.

Menurut Basmajian, kenaikan produktivitas di tempat kerja itu bertepatan dengan tingkat adopsi AI yang tinggi. Namun ia memberi catatan penting: baru sekitar 15 persen pekerjaan yang tampak terdampak sejauh ini. Artinya, dampak AI pada pasar tenaga kerja belum merata ke seluruh jenis pekerjaan.

Sinyal dari Laporan Internal Goldman Sachs

Sehari setelah unggahan Basmajian, sebuah laporan yang tampak sebagai dokumen internal Goldman Sachs mulai beredar di media sosial. Laporan itu memperingatkan bahwa “dampak AI pada pasar tenaga kerja” telah menyebar melampaui pekerjaan di bidang teknologi, sektor yang sudah lebih dulu terpukul karena AI generatif kini lazim digunakan untuk menulis kode perangkat lunak.

Laporan Goldman Sachs tersebut menunjukkan tren yang meningkat antara tingkat paparan AI suatu industri dan angka pengangguran di sektor profesional non-teknologi, seperti keuangan, telekomunikasi, jasa teknis, dan administrasi. Temuan ini tampak memperkuat pernyataan Basmajian bahwa adopsi AI berkorelasi dengan perubahan di data ketenagakerjaan.

A man leaving an office with his belongings in a box.

Meski begitu, Financial Times menambahkan daftar panjang catatan yang perlu diperhatikan sebelum menyimpulkan bahwa AI menjadi penyebab langsung dari perubahan tersebut. Sejumlah disclaimer itu membuat gambaran soal “AI menggantikan pekerja” tidak sesederhana yang tampak di permukaan.

Produktivitas Belum Tentu Soal Kualitas

Catatan paling penting yang diangkat Financial Times adalah soal makna metrik “produktivitas” dalam data tersebut. Angka produktivitas yang naik tidak serta-merta mencerminkan kualitas atau nilai tambah. Menurut penjelasan Financial Times, yang terjadi belum tentu berupa lonjakan output dan pendapatan sebagai hasil AI, melainkan bisa jadi hanya penurunan jumlah tenaga kerja, dan perbedaan antara keduanya sangat besar.

Dengan kata lain, kenaikan produktivitas per pekerja bisa terjadi karena jumlah pekerja yang lebih sedikit, bukan karena setiap pekerja menghasilkan lebih banyak nilai. Perbedaan interpretasi ini menjadi krusial ketika data yang sama dipakai untuk mendukung narasi bahwa AI menggantikan manusia di dunia kerja.

Financial Times juga menegaskan bahwa data tersebut secara spesifik hanya berlaku untuk Amerika Serikat. Angka itu lebih mencerminkan persoalan ekonomi pasca-Pandemi di Negeri Paman Sam, bukan gambaran “kiamat pekerjaan” akibat AI yang berlaku global. Financial Times menyebut kaitan yang terlihat di Amerika Serikat antara penggunaan AI di satu sisi, serta pertumbuhan produktivitas dan penurunan lapangan kerja di sisi lain, justru tidak tampak di tempat lain.

Konteks industri teknologi sendiri sudah lebih dulu merasakan tekanan. AI generatif kini menjadi alat umum untuk menulis kode perangkat lunak, dan sektor ini disebut telah terpukul lebih keras dibanding bidang lain. Perkembangan alat bantu berbasis AI di dunia pemrograman juga kerap memunculkan persoalan teknis tersendiri, seperti yang terekam dalam kasus Agen Riset OpenAI yang memakai sumber daya komputasi untuk menyelesaikan tugas coding.

Di sisi lain, laporan Financial Times tidak memberikan angka absolut soal jumlah pekerjaan yang hilang, tidak menyebut proyeksi ke depan, dan tidak menyimpulkan bahwa AI adalah satu-satunya penyebab. Yang disajikan adalah tren korelasi antara tingkat paparan AI suatu industri dan angka pengangguran di sektor profesional non-teknologi, yang menurut laporan Goldman Sachs cenderung meningkat.

Basmajian sendiri membatasi klaimnya pada data yang ia amati. Ia menyoroti bahwa kenaikan tren produktivitas dari 2,2 persen ke 5,0 persen sejak 2022 terjadi pada tiga sektor dengan adopsi AI terberat, yaitu informasi, jasa profesional, dan keuangan. Ia tidak menyatakan bahwa AI menggantikan pekerja secara langsung, melainkan bahwa keuntungan produktivitas AI mulai tampak di data pekerjaan, dengan sekitar 15 persen pekerjaan yang tampak terdampak.

Kombinasi dua sumber data ini, menurut pemberitaan Financial Times, akhirnya memberi sesuatu yang bisa dijadikan bahan pembicaraan bagi mereka yang selama ini mengkhawatirkan dampak AI pada pasar tenaga kerja. Namun Financial Times juga menegaskan bahwa siapa pun yang bersiap menghadapi revolusi tenaga kerja akibat AI masih harus menunggu lebih lama, karena bukti yang ada belum cukup untuk menyimpulkan hal itu.

Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan industri, dua sumber data ini layak dicatat sebagai sinyal awal, bukan kesimpulan final. Data Amerika Serikat menunjukkan tren yang menarik, tetapi Financial Times menegaskan bahwa kaitan serupa tidak ditemukan di wilayah lain, dan metrik produktivitas yang dipakai belum tentu mencerminkan kualitas output. Sampai ada data yang lebih luas dan lebih jelas, perdebatan soal dampak AI pada lapangan kerja masih terbuka.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.